Kanal24, Malang – Hasil penelitian tidak harus berakhir sebagai naskah akademik yang tersimpan di jurnal. Di balik istilah dan bahasa ilmiah, ada gagasan yang bisa dikembangkan menjadi buku agar pengetahuan tersebut lebih dekat dengan masyarakat.
Upaya membawa hasil riset ke pembaca umum menjadi salah satu bahasan dalam Workshop Legacy Book Fair 2026 bertajuk “Menjadi Penulis Muda di Era Artificial Intelligence” yang digelar Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB), Rabu (26/8/2026). Workshop ini mempertemukan perspektif akademisi dan penerbit mengenai peluang serta tantangan mengolah riset menjadi buku populer.
Baca Juga:
UB Dorong Keterbukaan Informasi Jadi Budaya, Mahasiswa Ikut Dilibatkan
Menjembatani Bahasa Akademik
Dosen FH UB Prof. Dr. Moh Fadli, S.H., M.Hum mengatakan hasil penelitian penting untuk dibawa ke ruang publik karena tidak semua masyarakat terbiasa dengan bahasa akademik.

Menurutnya, bahasa ilmiah yang baku dan penuh istilah dapat membuat masyarakat kesulitan menangkap pesan penelitian. Karena itu, diperlukan penyesuaian bahasa agar gagasan dalam riset dapat dipahami pembaca umum.
“Kalau bahasanya terlalu ilmiah, masyarakat daya tangkapnya mungkin tidak menjangkau. Jadi perlu diadaptasikan dengan bahasa sosial,” ujar Prof. Fadli.
Ia menjelaskan, mengubah bahasa penelitian menjadi bahasa yang lebih sederhana membutuhkan pekerjaan tambahan. Penulis harus tetap memahami isi riset agar penyampaian yang lebih ringan tidak membuat pembaca salah menangkap maksud penelitian.
Menurut Prof. Fadli, kemampuan tersebut juga membutuhkan proses. Penulis muda perlu terus berlatih untuk menemukan cara menyampaikan gagasan akademik dengan bahasa yang lebih komunikatif.
Tiga Pertimbangan Penerbit
Senior Editor Intrans Publishing Andung Eko Wijayanto mengatakan hasil penelitian yang akan diolah menjadi buku perlu memenuhi sejumlah pertimbangan dari sisi penerbit.

Ada tiga aspek utama yang diperhatikan, yakni daya tarik tema, kebaruan atau novelty, dan segmentasi pembaca. Ketiganya menjadi bahan pertimbangan sebelum editor memutuskan pengembangan sebuah naskah.
“Apakah buku itu menarik atau tidak. Kemudian ada terkait isi kebaruan, novelty. Apakah ada kebaruan? Apakah tema yang disampaikan up to date atau tidak?” jelas Andung.
Ia mencontohkan isu hukum pidana lingkungan yang sedang menjadi perhatian. Tema yang berkaitan dengan persoalan aktual dan memiliki literatur yang belum banyak diterbitkan dinilai berpotensi menarik minat pembaca.
Setiap naskah yang dikirimkan ke penerbit, lanjut Andung, akan melalui proses review. Editor kemudian berkoordinasi dengan penulis untuk membahas pengembangan naskah sesuai tema dan segmentasi pembaca.
AI dan Tantangan Orisinalitas
Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam penulisan juga menjadi perhatian dalam perkembangan dunia penerbitan. Andung mengatakan pemanfaatan AI perlu dilihat dari sisi kepantasan serta konsekuensi yang muncul terhadap karya penulis.
Menurutnya, penerbit memiliki standar operasional yang berkaitan dengan penggunaan AI dan tingkat plagiarisme. Standar tersebut menjadi bagian dari pertimbangan sebelum sebuah naskah diterbitkan.
“Kalau AI itu, Mas, patokannya adalah pantas atau tidak pantasnya,” kata Andung.
Karena itu, penulis perlu memahami konsekuensi penggunaan AI terhadap naskah yang mereka hasilkan. Terlebih, karya yang telah diterbitkan akan dibaca dan dinilai oleh masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi tersebut, Andung mengajak penulis muda untuk tidak ragu memulai. Ia menyarankan penulis menuangkan gagasan yang dimiliki sekaligus memilih penerbit yang sesuai dengan karakter karyanya.
“Jangan takut menulis. Silakan menulis apa saja yang dipikirkan dan tolong pilih penerbit yang kira-kira bisa mengakomodir keinginan dari penulis,” ujarnya.
Prof. Fadli turut mendorong mahasiswa untuk membiasakan diri menulis. Menurutnya, kesulitan pada tahap awal merupakan bagian dari proses yang perlu dilalui hingga menulis menjadi kebiasaan.
“Harus nulis. Apapun adanya harus nulis. Awalnya akan sulit, tapi ketika sudah terbiasa enggak masalah,” ujar Prof. Fadli. (gal)














