Kanal24, Malang – Maggot Black Soldier Fly (BSF) selama ini dikenal sebagai salah satu solusi mengolah limbah organik. Namun, teknologi tersebut dinilai belum cukup jika tidak didukung rantai pasok, pembudidaya, pengguna hasil, pasar, dan kebijakan yang saling terhubung.
Melihat kebutuhan tersebut, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi sirkular berbasis maggot BSF di Malang Raya.
Gagasan tersebut dibahas dalam Forum Kolaborasi Multipihak “Membangun Ekosistem Ekonomi Sirkular Berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF)” di Ruang Aula Lantai 2 FTAB UB, Kamis (27/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Insintech yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan diarahkan untuk mendorong hilirisasi teknologi kampus agar dapat diterapkan secara langsung di masyarakat.
Baca Juga:
Mahasiswa FTAB UB Kenalkan PhytoTracker di Forum ASEAN
Hilirisasi Teknologi Kampus
Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan dan Sumber Daya FTAB UB, Dr. Dodyk Pranowo, STP., M.Si., mengatakan program Insintech yang dijalankan FTAB UB bukan diarahkan untuk menghasilkan riset baru, melainkan membawa teknologi yang telah dikembangkan kampus agar dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Program ini sebenarnya bukan program riset, tapi program untuk melakukan hilirisasi atau memberikan informasi kepada masyarakat bahwa di kampus itu memiliki teknologi-teknologi yang perlu dihilirisasi dan diimplementasi di masyarakat,” jelas Dodyk.
Menurutnya, maggot BSF dipilih karena teknologi tersebut telah cukup familiar dan banyak diterapkan masyarakat. Tantangan yang muncul justru bagaimana berbagai pelaku di dalamnya dapat terhubung sehingga membentuk ekosistem yang berjalan secara berkelanjutan.
“Ekosistem inilah yang kemudian ingin kami satukan, ingin kami rangkai, supaya ekosistem ini bisa tumbuh di Kota Malang mulai dari hulunya, mulai dari produksinya, mulai dari teknologi pemanfaatannya sampai kebijakan,” ujarnya.
Perkuat Rantai Pasok
Dodyk menyebut persoalan rantai pasok masih menjadi salah satu kendala dalam pengembangan budidaya maggot. Ketersediaan limbah organik sebagai bahan baku belum selalu diikuti dengan teknologi pengolahan yang sesuai. Di sisi lain, hasil budidaya juga dapat menghadapi persoalan ketika belum terserap pasar.
“Yang utama sebenarnya adalah di supply-nya. Artinya ada rantai pasok ini yang kemudian salah satu saja yang hidup,” kata Dodyk.
Menurutnya, persoalan tersebut juga berkaitan dengan belum terhubungnya pembudidaya maggot dengan pengguna hasilnya, seperti peternak dan pembudidaya ikan. Karena itu, forum multipihak menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak yang berada dalam satu rantai tersebut.
Sekitar 70 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari berbagai elemen, mulai dari pihak yang memiliki sumber limbah organik, pengolah atau produsen maggot, pengguna hasil maggot, hingga pengambil kebijakan.
Keterlibatan pemerintah dinilai penting karena hasil forum diharapkan tidak berhenti pada penerapan teknologi, tetapi dapat menjadi masukan untuk membangun tata kelola pengelolaan maggot di Kota Malang.
Malang Raya Jadi Prototype
Pada tahap awal, FTAB UB memfokuskan pengembangan ekosistem tersebut di Malang Raya sebagai prototype. Program ini juga menargetkan terbentuknya community champion yang dapat menjadi penggerak budidaya maggot di tengah masyarakat.
Salah satu lokasi penerapan adalah SPPG Sawojajar yang akan menjadi mitra dalam kegiatan sekolah lapang. Lokasi tersebut dipilih karena menghasilkan limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku budidaya maggot.
“Sekolah lapang itu nanti kita fokuskan di SPPG. Kenapa SPPG? Karena ini satu prototype yang cukup bagus,” terang Dodyk.
Rangkaian program berlangsung mulai Agustus hingga November 2026. Selain forum multipihak, kegiatan mencakup sekolah lapang, pendampingan, pemetaan persoalan, hingga pameran teknologi.
Hasil pemetaan tersebut nantinya akan menjadi bahan untuk menyusun alternatif kebijakan yang dapat direkomendasikan kepada pemangku kepentingan.
“Di awal kita ingin mendeteksi sebenarnya permasalahan atau persoalan di rantai-rantai pelaku di dalam BSF tadi atau maggot ini kira-kira apa saja kita tampung kemudian kita formulasikan,” ungkapnya.
Melalui forum tersebut, FTAB UB berupaya menempatkan maggot bukan sekadar sebagai teknologi pengolah limbah organik, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang mempertemukan sumber limbah, teknologi, produksi, pemanfaatan, pasar, dan kebijakan dalam satu rantai yang berkelanjutan di Malang Raya. (ndr)














