Kanal24, Malang – Kemacetan di kawasan Bali Selatan mendorong pemerintah mempercepat pencarian moda transportasi massal yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) kini menyiapkan trem listrik berbasis baterai yang akan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga kawasan Canggu.
Rencana tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama pengembangan perkeretaapian di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026). Koridor sepanjang 13,1 kilometer itu akan melintasi Bandara Ngurah Rai, Kuta, Legian, Seminyak hingga Canggu dan diarahkan menjadi bagian dari upaya mengatasi kepadatan lalu lintas sekaligus memperkuat transportasi publik di kawasan pariwisata Bali Selatan.
Baca Juga:
Investasi Beiersdorf Perkuat Ekonomi Kabupaten Malang
Trem Gunakan Tenaga Baterai
Trem yang disiapkan KAI menggunakan sistem listrik berbasis baterai. Teknologi tersebut memungkinkan pengoperasian tanpa jaringan kabel listrik yang membentang sepanjang jalur, sehingga dinilai lebih sesuai dengan karakter kawasan wisata yang memiliki perhatian terhadap estetika lingkungan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan sistem pengisian daya akan ditempatkan di depo dan stasiun akhir. Waktu tempuh juga diproyeksikan relatif singkat, yakni sekitar 23 menit untuk perjalanan Legian-Bandara dan sekitar 40 menit untuk rute Canggu-Bandara.
KAI masih membutuhkan dukungan pemerintah daerah dalam penyediaan lahan depo, akses trase menuju bandara, serta proses perizinan. Kajian teknis juga diperlukan untuk menentukan bentuk lintasan, termasuk penggunaan jalur layang di titik tertentu.
Pembangunan Dibagi Dua Fase
Proyek trem Bandara-Canggu dirancang dalam dua fase. Fase 1A mencakup jalur Bandara Ngurah Rai-Legian sepanjang 6,6 kilometer dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV 2028.
Fase berikutnya, yakni Legian-Seminyak-Canggu sepanjang 6,5 kilometer, ditargetkan selesai pada kuartal I 2031. Dengan pembagian tersebut, pembangunan tidak langsung mengoperasikan seluruh koridor dalam satu tahap, melainkan dilakukan secara bertahap mengikuti kesiapan infrastruktur dan hasil kajian.
Sebelum pembangunan fisik dimulai, pemerintah daerah bersama KAI akan melanjutkan studi kelayakan. Kepala Dinas Perhubungan Bali I Kadek Mudarta menyebut kajian kelayakan ditargetkan selesai pada Maret 2027. Tahap berikutnya baru dapat ditentukan berdasarkan hasil kajian tersebut.
Transportasi Massal untuk Bali Selatan
Pembangunan trem menjadi salah satu langkah yang disiapkan untuk menjawab persoalan mobilitas di kawasan wisata dengan pertumbuhan kendaraan yang tinggi. Pemerintah juga menempatkan proyek tersebut dalam kerangka Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI), yang mendorong pengembangan transportasi lebih rendah emisi.
Namun, keberadaan trem nantinya tidak otomatis menyelesaikan persoalan kemacetan. Efektivitasnya akan sangat bergantung pada integrasi dengan moda transportasi lain, kemudahan akses masyarakat menuju titik pemberhentian, serta kesiapan kawasan yang dilalui.
Pemerintah Bali juga menekankan agar pengembangan trem tetap mempertimbangkan karakter, kenyamanan, estetika, dan kearifan lokal. Artinya, proyek ini tidak hanya diuji dari kemampuan mengangkut penumpang, tetapi juga dari sejauh mana transportasi massal tersebut dapat berjalan berdampingan dengan wajah pariwisata Bali. (ndr)














