Kanal24, Malang – Anak yang dulu mudah bercerita tentang sekolah, teman, hingga hal-hal kecil di rumah bisa tiba-tiba berubah menjadi lebih pendiam. Pertanyaan sederhana mulai dijawab singkat, sementara waktu lebih banyak dihabiskan sendiri. Bagi orang tua, perubahan ini sering menimbulkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan: apakah anak mulai tidak percaya kepada keluarga?
Tidak selalu demikian. Sikap tertutup bisa muncul karena anak belum merasa cukup aman untuk menceritakan apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan. Takut dimarahi, dihakimi, dibandingkan dengan orang lain, hingga khawatir mengecewakan orang tua dapat membuat anak memilih diam. Karena itu, semakin sering anak dituntut untuk terbuka belum tentu membuat mereka semakin mudah bercerita.
Baca Juga:
Scan, Bayar, Selesai: Begini QRIS Mengubah Gaya Transaksi Gen Z
Respons Orang Tua Bisa Menentukan
Keterbukaan anak tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering orang tua mengajukan pertanyaan. Cara orang tua merespons ketika anak mulai bercerita justru dapat menentukan apakah percakapan berikutnya akan berlanjut atau berhenti.
Ketika cerita anak langsung disambut dengan kemarahan, ceramah panjang, atau sederet pertanyaan, mereka dapat merasa bahwa berbicara hanya akan membuat situasi semakin rumit. Akhirnya, diam dianggap sebagai pilihan yang lebih aman.
Hal ini bukan berarti orang tua tidak boleh memberikan nasihat. Masalahnya terletak pada waktu dan cara penyampaiannya. Anak yang sedang mencoba mengungkapkan masalah sering kali membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan terlebih dahulu, bukan langsung memberikan penilaian.
Perasaan seperti takut, malu, kecewa, atau bingung juga tidak selalu mudah dijelaskan anak. Karena belum mampu mengungkapkannya melalui kata-kata, perubahan sikap bisa menjadi cara mereka menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang dirasakan.
Jangan Terburu-buru Melabeli Anak
Anak yang lebih banyak diam tidak otomatis sedang mengalami masalah. Setiap anak memiliki karakter dan cara berkomunikasi yang berbeda. Ada yang nyaman bercerita secara langsung, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih lama sebelum mau membuka diri.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan dari kebiasaan sebelumnya. Jika anak yang biasanya aktif tiba-tiba menarik diri, enggan berinteraksi, sering menghindari percakapan, atau menunjukkan perubahan perilaku dalam waktu cukup lama, orang tua perlu memberikan perhatian lebih.
Pendekatan yang terlalu cepat menyimpulkan seperti “kamu sekarang berubah” atau “kamu sudah tidak mau cerita lagi” justru dapat membuat anak semakin defensif. Lebih baik, orang tua menunjukkan perhatian tanpa membuat anak merasa sedang diperiksa.
Ciptakan Rumah sebagai Tempat Aman
Membangun kembali komunikasi tidak harus dimulai dengan percakapan serius. Orang tua dapat memanfaatkan momen sederhana seperti makan bersama, perjalanan, menonton film, atau melakukan aktivitas yang disukai anak.
Ketika anak mulai bercerita, berikan kesempatan untuk menyelesaikan ceritanya. Hindari langsung memotong dengan nasihat atau membandingkan pengalaman mereka dengan pengalaman orang lain.
Kalimat sederhana seperti, “Kalau belum siap cerita sekarang, tidak apa-apa,” dapat memberikan ruang bagi anak untuk menentukan kapan mereka siap berbicara. Sikap tersebut menunjukkan bahwa orang tua tetap hadir tanpa memaksa.
Orang tua juga dapat menunjukkan bahwa membicarakan perasaan bukan sesuatu yang memalukan. Dengan terbuka mengenai rasa lelah, kecewa, atau khawatir secara proporsional, orang tua dapat memberi contoh bahwa emosi merupakan bagian wajar dari kehidupan.
Pada akhirnya, keterbukaan anak tidak lahir dari pertanyaan yang terus diulang. Ia tumbuh dari rasa aman yang dibangun sedikit demi sedikit. Ketika anak tahu bahwa ceritanya akan didengar tanpa langsung dihakimi, rumah bukan hanya menjadi tempat pulang, tetapi juga tempat pertama untuk mencari pertolongan. (gal)













