Kanal24, Malang – Di tengah ramainya mahasiswa mencoba berbagai fitur kecerdasan buatan di Lapangan Rektorat Universitas Brawijaya (UB), terdapat agenda yang lebih strategis di balik Google Gemini Campus Tour. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi UB untuk melihat kembali sejauh mana fasilitas digital yang telah tersedia dimanfaatkan sekaligus memetakan kebutuhan sivitas akademika ke depan.
Google Gemini Campus Tour merupakan kolaborasi Google Gemini dengan Universitas Brawijaya yang berlangsung di Lapangan Rektorat UB pada hari Jumat (4/9/2026). Selain mengenalkan pemanfaatan teknologi AI melalui pengalaman langsung, kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan literasi digital dan mengoptimalkan berbagai layanan Google yang telah digunakan UB. Evaluasi tersebut menjadi semakin penting karena kerja sama UB dengan Google saat ini berada di penghujung masa kontrak.
Baca Juga:
Hadir di UB, Google Gemini Campus Tour Latih Mahasiswa Kritis Menggunakan AI
Optimalisasi Jadi Tantangan Berikutnya
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan S.Pi., M.Eng., D.Sc., menilai pelaksanaan Gemini Campus Tour menjadi langkah positif untuk memperkenalkan kembali berbagai fasilitas digital yang dapat dimanfaatkan sivitas akademika.

“Satu kata keren. Keren,” ujar Prof. Andi ketika dimintai tanggapan mengenai pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, UB telah berlangganan layanan Google yang memiliki nilai strategis. Namun, ketersediaan fasilitas belum otomatis membuat seluruh layanan digunakan secara optimal. Tingkat pemanfaatan yang masih perlu ditingkatkan menjadi salah satu alasan kegiatan seperti Gemini Campus Tour dinilai penting.
Prof. Andi melihat pendekatan yang dikemas secara interaktif dapat membuat mahasiswa lebih mudah mengenali fasilitas yang tersedia. Teknologi pun tidak berhenti sebagai layanan yang disediakan kampus, tetapi dapat menjadi alat pendukung aktivitas akademik maupun keseharian sivitas akademika.
Salah satu layanan yang menurutnya memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh adalah fitur yang berkaitan dengan penjadwalan. Menurut Prof. Andi, fitur tersebut dapat dieksplorasi untuk membantu pengaturan kegiatan mahasiswa maupun sivitas akademika sekaligus membuka peluang efisiensi dan otomasi di lingkungan UB.
Google dan UB Perkuat Ekosistem Pendidikan
Kerja sama UB dengan Google juga diarahkan agar layanan yang digunakan semakin relevan dengan kebutuhan pendidikan. Prof. Andi mengatakan UB tidak hanya menerima berbagai layanan yang diberikan Google, tetapi turut memberikan masukan terkait pengembangan ekosistem teknologi.
“Yang pasti pengoptimalan berbagai servis atau jasa yang disediakan Google. Lalu otomatis juga kita memberikan masukan kepada mereka bagaimana agar ekosistem yang dikreasi bisa lebih tepat dengan pendidikan di Indonesia,” jelasnya.
Menurut Prof. Andi, pemanfaatan AI menjadi bagian dari langkah UB dalam menjalankan transformasi digital. Literasi digital menjadi salah satu fondasi agar teknologi dapat digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar dan kebutuhan akademik secara lebih efektif.
Upaya peningkatan kemampuan pengguna juga dilakukan melalui pelatihan. Dr. Raden Arief Setyawan, ST., MT., Assistant Professor Electrical Engineering Faculty UB, mengatakan pelatihan bagi dosen dilakukan secara rutin, termasuk melalui sertifikasi gratis Gemini.
Tidak hanya dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan juga diajak mengikuti berbagai pelatihan. Menurut Arief, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya UB mengoptimalkan fasilitas yang telah dimiliki sekaligus menuju target sebagai salah satu Google Reference University.
Menentukan Arah Kerja Sama Berikutnya
Hal yang menjadi perhatian utama UB selanjutnya adalah keberlanjutan kerjasama dengan Google. Prof. Andi mengungkapkan bahwa UB saat ini sedang melakukan analisis untuk menentukan apakah kontrak kerja sama akan dilanjutkan.
“Outputnya jelas yang pertama kita mendapatkan input analisis bagaimana kerja sama dengan Google dilanjutkan,” katanya.
Evaluasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan strategis. Menurut Prof. Andi, keberlanjutan kerja sama tidak hanya dilihat dari keberadaan teknologi, tetapi juga dari seberapa jauh fasilitas tersebut mampu memberikan manfaat bagi warga UB.
Ia berharap kolaborasi yang terjalin dapat menghasilkan program yang sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika dan mendukung penyelenggaraan kampus. Pemanfaatan teknologi juga diharapkan mampu membawa UB semakin relevan dalam menghadapi persoalan lokal yang berkaitan dengan isu global.
Pandangan mengenai pentingnya peningkatan pemanfaatan teknologi juga datang dari Prof. Ir. Agung Sugeng Widodo, ST., M.T., Ph.D., Profesor sekaligus Guru Besar FT UB. Ia menilai kegiatan seperti Gemini Campus Tour tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga memberikan kesempatan kepada dosen untuk mempelajari berbagai layanan Google secara lebih luas.
“Dosen sendiri juga saya kira kemampuannya untuk mengeksplor Google itu masih belum banyak, sehingga dengan gini juga dosen juga belajar,” tuturnya.
Pada akhirnya, Gemini Campus Tour menjadi lebih dari sekadar agenda pengenalan teknologi. Bagi UB, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan pengguna, pemanfaatan fasilitas digital, dan evaluasi kerja sama dengan mitra teknologi.
Prof. Andi berharap mahasiswa sebagai salah satu target utama kegiatan dapat mengenali berbagai fasilitas yang telah disediakan kampus dan menggunakannya untuk mendukung proses belajar. Dengan begitu, investasi teknologi yang telah dilakukan UB tidak berhenti pada penyediaan layanan, tetapi benar-benar menghasilkan manfaat bagi sivitas akademika. (ndr)














