Kanal24, Malang – Perubahan ekonomi global berlangsung seiring perkembangan teknologi, kebijakan, dan tuntutan pembangunan yang semakin kompleks. Kondisi tersebut mendorong akademisi dan praktisi dari berbagai negara untuk mempertemukan perspektif dalam membaca arah perubahan ekonomi serta tantangan yang menyertainya.
Persoalan tersebut menjadi bahasan dalam The 5th Brawijaya Economics and Finance International Conference (BEFIC) 2026 yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Kamis (17/9/2026). Konferensi berlangsung di Aula Gedung Pascasarjana lantai 7 FEB UB, Malang, dengan menghadirkan akademisi internasional untuk membahas perkembangan ekonomi dan kebijakan dari berbagai perspektif.
Baca Juga:
Seminar 18th Katulistiwa FEB UB Perkuat Inovasi Generasi Muda
BEFIC Jadi Forum Akademisi Lintas Negara
Ketua Panitia BEFIC 2026, Aji Purba Trapsila, S.E.I., M.E.I., Ph.D., mengatakan BEFIC merupakan agenda tahunan Departemen Ilmu Ekonomi FEB UB. Konferensi tersebut menjadi ruang pertemuan bagi akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas perkembangan terbaru di bidang ekonomi.

“International Conference BIC ini memang agenda tahunan dari Departemen Ilmu Ekonomi. Kami menghadirkan praktisi akademisi dari berbagai negara khususnya untuk menyampaikan pendapat, kebijakan dan juga insight dari perkembangan keilmuan yang terbaru khususnya di bidang ilmu ekonomi dan kebijakan ekonomi,” ujar Aji.
BEFIC 2026 mengusung tema “Navigating Global Shift: Resilient, Inclusive and Ethical Pathways for Economic Transformation”. Tema tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai perubahan ekonomi global dengan menekankan aspek ketahanan, inklusivitas, dan etika dalam proses transformasi.
Kehadiran akademisi dari berbagai negara juga memberikan ruang pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan ekonomi di masing-masing wilayah. Diskusi tersebut mempertemukan perspektif akademik dengan persoalan ekonomi yang berkembang di tingkat global.
Bahas Perkembangan Ekonomi Dunia
Menurut Aji, pelaksanaan BEFIC diarahkan untuk membantu Departemen Ilmu Ekonomi mengikuti perkembangan ekonomi yang terjadi di dunia. Karena itu, konferensi tidak hanya melibatkan akademisi, tetapi juga membuka ruang bagi praktisi dan pemangku kebijakan.
“Yang ingin dicapai pastinya adalah Departemen Ilmu Ekonomi ingin melihat bagaimana perkembangan ekonomi yang berlaku di dunia, khususnya dengan tidak hanya menghadirkan praktisi tapi juga akademisi dan juga pemegang kebijakan,” jelasnya.
Pertemuan lintas negara tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih luas mengenai isu ekonomi. Berbagai gagasan yang disampaikan dalam forum dapat menjadi bahan diskusi akademik dan membuka peluang untuk pengembangan kajian lebih lanjut.
Konferensi internasional juga menjadi bagian dari upaya FEB UB memperluas jejaring akademik. Interaksi antara perguruan tinggi, praktisi, dan pemangku kebijakan dari berbagai negara menjadi salah satu ruang yang dapat dikembangkan setelah kegiatan berlangsung.
Dorong Kerja Sama Antarperguruan Tinggi
Selain pertukaran gagasan, penyelenggara menargetkan adanya tindak lanjut berupa penguatan kerja sama dengan berbagai pihak. Kolaborasi tersebut mencakup perguruan tinggi, praktisi, hingga pemangku kebijakan yang memiliki perhatian terhadap perkembangan ekonomi.
Aji menyebut keberlanjutan hubungan antarlembaga menjadi salah satu hasil yang diharapkan dari BEFIC 2026. Kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan ekonomi.
“Ya, tindak lanjutnya pasti kita akan mengikat kerja sama yang lebih erat dari berbagai macam perguruan tinggi di dunia, termasuk juga praktisi dan pemegang kebijakan untuk sama-sama mengembangkan perekonomian di Indonesia,” kata Aji.
Melalui BEFIC 2026, FEB UB mempertemukan berbagai perspektif dalam satu forum akademik internasional. Selain membahas perubahan ekonomi global, konferensi ini menjadi ruang untuk memperluas jejaring dan membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dengan berbagai pihak di tingkat internasional. (ndr)














