Kanal24, Malang – Aktivitas kampus yang terus berjalan setiap hari turut menghasilkan sampah dengan jenis dan karakteristik yang beragam. Persoalannya bukan hanya bagaimana sampah dibuang, tetapi juga bagaimana sampah dipilah, diangkut, dan dikelola dengan cara yang tepat sekaligus aman bagi petugas.
Upaya tersebut diperkuat UPT UB Green Campus Universitas Brawijaya melalui Pelatihan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Ruang Auditorium Nuswantara Lantai 7 Gedung B FISIP UB, Kamis (17/9/2026). Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada cleaning service (CS) dan supervisor mengenai pengelolaan sampah sekaligus keselamatan kerja dalam proses pemilahan dan pengangkutan.
Baca Juga:
Mahasiswa Internasional Jadi Duta UB dan Indonesia ke Dunia
Memperkuat Pemahaman Pemilahan Sampah
Kepala Bidang Data, Komunikasi, dan Kemitraan Strategis UPT UB Green Campus, Neola Hestu Prayogo, S.IP., M.A., Ph.D., menjelaskan pelatihan tersebut menjadi bagian dari program rutin untuk memberikan wawasan dan pemahaman baru kepada CS serta supervisor di lingkungan Universitas Brawijaya.

Menurut Neola, persoalan sampah tidak berhenti pada banyaknya sampah yang dihasilkan. Tahapan setelah sampah muncul juga menjadi bagian penting, terutama dalam menentukan bagaimana sampah dapat dikelola sesuai dengan jenisnya.
“Jadi kita tidak berhenti pada pertanyaan seberapa besar sampah yang kita hasilkan, tapi bagaimana kemudian kita bisa mengolah atau mengelola sampah yang kita hasilkan itu tadi,” ujar Neola.
Dalam penerapannya, UPT UB Green Campus mendorong pemilahan berdasarkan jenis sampah, mulai dari anorganik, organik, residu, limbah B3, kertas, hingga botol plastik. Pemilahan tersebut menjadi langkah awal untuk menentukan sampah yang dapat dikurangi, digunakan kembali, maupun didaur ulang.
Fasilitas dan Konsistensi Jadi Tantangan
Penerapan pengelolaan sampah di lingkungan UB masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya ketersediaan fasilitas pendukung yang belum sepenuhnya memadai. Karena itu, UPT UB Green Campus terus memperkuat edukasi, pemberian informasi, serta pelatihan bagi petugas dan supervisor.
Neola berharap fasilitas pendukung, termasuk tempat sampah terpilah, dapat semakin tersedia di seluruh fakultas. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting agar proses pemilahan dan pengangkutan dapat dilakukan secara lebih optimal.
Di sisi lain, fasilitas saja tidak cukup. Konsistensi penerapan di lapangan juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah. Petugas dan supervisor yang telah mengikuti pelatihan diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh sekaligus menjadi contoh bagi rekan kerja lainnya.
“Harapan kami acara ini kemudian tidak berhenti di sini saja. Jadi kemudian acara ini bisa berlanjut terus,” kata Neola.
Keselamatan Petugas Jadi Perhatian
Selain penerapan 3R, aspek keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam pelatihan. Kepala Divisi K3L UB sekaligus pemateri, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., ASEAN Eng., IPU., menjelaskan pekerjaan cleaning service memiliki potensi risiko yang berbeda, baik ketika bekerja di dalam maupun luar ruangan.

Dalam proses pemilahan, petugas dapat berhadapan dengan berbagai potensi bahaya, mulai dari paparan kuman dan bakteri hingga pecahan kaca serta material lainnya. Karena itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) dan pemahaman terhadap risiko pekerjaan menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Prof. Qomariyatus mencontohkan pemilahan sampah dari kamar mandi yang memiliki potensi paparan kuman dan bakteri. Kondisi tersebut membuat petugas perlu menggunakan perlindungan yang sesuai untuk mengurangi risiko selama bekerja.
Aspek keselamatan juga perlu diperhatikan saat proses pengangkutan. Waktu kerja menjadi salah satu hal yang harus dipertimbangkan agar pengangkutan tidak dilakukan ketika aktivitas mahasiswa sedang padat. Sampah yang telah dimasukkan ke dalam kantong juga perlu diikat dengan rapat, sedangkan proses pengangkutannya harus memperhatikan keamanan petugas dan lingkungan sekitar.
Menurut Prof. Qomariyatus, pemahaman terhadap tugas, risiko, dan bahaya menjadi salah satu kunci untuk membangun awareness sekaligus budaya K3 di lingkungan kerja.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi segera diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari. Supervisor juga diharapkan dapat berperan sebagai pemimpin yang memberikan dukungan, melakukan pengawasan, dan mendorong penerapan keselamatan kerja secara berkelanjutan.
“Besar harapannya adalah mereka segera bisa melakukan apa yang didapatkan saat ini, besok itu sudah dikerjakan,” tuturnya.
Melalui Pelatihan 3R, UPT UB Green Campus mendorong pengelolaan sampah yang tidak hanya berfokus pada Reduce, Reuse, dan Recycle, tetapi juga memastikan proses pemilahan hingga pengangkutan dilakukan dengan memperhatikan keselamatan petugas. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan budaya pengelolaan lingkungan dan K3 di Universitas Brawijaya. (gal)













