Kanal24, Malang – Lorong-lorong padat Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang, berubah menjadi ruang perjumpaan budaya, teknologi, dan riset. Di kawasan lingkar luar Universitas Brawijaya (UB), tradisi lokal dipadukan dengan inovasi digital untuk membangun lingkungan yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
Transformasi tersebut berlangsung melalui Festival Kampoeng Boedoyo Ketawanggede ke-4 pada 25–28 September 2026. Kegiatan melibatkan lebih dari 90 lapak UMKM dari tiga wilayah RW. Festival mengangkat tema “Punokawan Balik Kampoeng: Soko Sobo Donya” dan menjadi bagian dari pengembangan kawasan sebagai living lab UB.
Baca Juga:
Limbah Pertanian di Kediri Diolah Jadi Pakan dan Pupuk oleh FT UB
Living Lab Dorong Dampak Global dari Akar Rumput
Konsep living lab menjadi salah satu pendekatan UB dalam menghubungkan riset kampus dengan kebutuhan masyarakat. Ketawanggede dikembangkan sebagai ruang penerapan inovasi yang dapat diuji langsung bersama warga.
Melalui pendekatan tersebut, berbagai bidang keilmuan diarahkan untuk memberi dampak nyata. Salah satunya melalui edukasi pangan dan gizi bagi pelaku usaha kuliner di sekitar kampus.
Akademisi dan peneliti UB mendampingi warga dalam pengolahan makanan yang lebih sehat. Pendampingan mencakup penggunaan minyak goreng, komposisi makanan, serta pemenuhan gizi yang lebih seimbang.
Program ini menunjukkan bahwa riset tidak berhenti pada ruang akademik. Pengetahuan yang dihasilkan kampus diarahkan untuk menjawab persoalan masyarakat sekitar.
Dr. Mofid, Ketua Tim Kawasan Lingkar Kampus (KLK) UB, menekankan pentingnya keberlanjutan dalam pengembangan living lab.
“Tolok ukur sejati kami sangat mendasar: setelah seluruh panggung dibongkar, apakah kedai warga tetap konsisten menyajikan makanan sehat? apakah kesehatan dan kesejahteraan warga membaik? Keberlanjutan adalah inti dari living lab ini.”
Teknologi dan Budaya Jadi Bagian Program Global UB
Festival juga memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat ekosistem masyarakat. Kolaborasi dengan Google Education Partner menghadirkan edukasi mengenai pemanfaatan teknologi digital bagi pelaku usaha mikro.
Salah satu penerapannya terlihat melalui penggunaan pembayaran nontunai berbasis QRIS. Warga juga mendapatkan penguatan literasi mengenai keamanan transaksi digital dan pemanfaatan data penjualan.

Teknologi kemudian dipadukan dengan pendekatan budaya melalui video mapping dan digital storytelling. Dinding permukiman dimanfaatkan sebagai ruang visual yang menampilkan narasi seni dan budaya.
Anak-anak juga dikenalkan dengan permainan logika berbasis board game. Permainan tersebut mendorong kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kerja sama.
Perpaduan tersebut memperlihatkan arah pengembangan kawasan yang tidak hanya mengandalkan teknologi. Identitas budaya masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam membangun ruang publik yang inklusif.
Ketawanggede Disiapkan sebagai Immersion Destination
Bagi UB, pengembangan Ketawanggede memiliki keterkaitan dengan agenda globalisasi perguruan tinggi. Kawasan sekitar kampus tidak hanya diposisikan sebagai lingkungan pendukung aktivitas akademik, tetapi juga sebagai ruang yang menunjukkan dampak sosial dari inovasi.
Melalui konsep immersion destination, tamu, peneliti, dan delegasi internasional dapat melihat penerapan inovasi secara langsung di masyarakat. Mereka dapat berinteraksi dengan warga, melihat aktivitas UMKM, serta mengenal perpaduan budaya lokal dan teknologi.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya UB memperluas makna globalisasi. Capaian internasional tidak hanya dibangun melalui aktivitas akademik, tetapi juga melalui kontribusi terhadap masyarakat.

Ketua Panitia Festival Kampoeng Boedoyo Ketawanggede ke-4, Yanto, mengatakan keterlibatan warga menjadi kekuatan utama kegiatan tersebut.
“Tema Punokawan Balik Kampoeng adalah janji moral kita bersama. Setinggi apa pun ilmu yang kita cari di luar sana, ia harus kembali untuk memakmurkan tetangga di sekeliling kita.”
Festival Kampoeng Boedoyo Ketawanggede menunjukkan bagaimana kawasan lokal dapat menjadi ruang penerapan program global UB. Dari lingkungan sekitar kampus, inovasi akademik, teknologi, dan budaya dipertemukan untuk menciptakan dampak yang dapat dikenalkan lebih luas.(ffn)













