Kanal24, Malang – Istilah “superflu” sempat ramai diperbincangkan seiring meningkatnya perhatian terhadap influenza A H3N2 Subclade K. Namun, data surveilans terbaru menunjukkan bahwa varian tersebut bukan virus influenza yang paling dominan di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat influenza A H1N1pdm09 justru menjadi virus yang paling banyak ditemukan dalam pemeriksaan terbaru.
Pada minggu ke-38 tahun 2026, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen terdeteksi positif influenza. Dari jumlah tersebut, 135 merupakan influenza A H1N1pdm09, sembilan influenza A H3N2, dan empat influenza B Victoria. Data ini menunjukkan bahwa H1N1pdm09 menjadi varian yang paling banyak terdeteksi dalam pemantauan saat ini.
Baca juga:
Influenza A Mulai Diwaspadai pada Anak Saat Kemarau
H1N1pdm09 Mendominasi Hasil Surveilans
Dominasi H1N1pdm09 terlihat dari perbandingan hasil pemeriksaan berbagai jenis influenza. Pada periode pemantauan tersebut, jumlah temuan H1N1pdm09 jauh lebih tinggi dibandingkan H3N2 maupun influenza B.
Kondisi ini juga sejalan dengan laporan sebelumnya pada pertengahan September. Saat itu, dari 185 spesimen yang diperiksa, 86 dinyatakan positif influenza. Sebanyak 76 di antaranya merupakan H1N1pdm09, delapan H3N2, dan dua influenza B Victoria.
Meski terjadi peningkatan proporsi spesimen positif influenza, Kemenkes menyebut aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam rentang kewaspadaan dan sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia.
Subclade K Bukan Virus Baru
Sementara itu, H3N2 Subclade K tetap menjadi perhatian karena sebelumnya dikenal luas dengan istilah “superflu”. Namun, istilah tersebut bukan nomenklatur resmi untuk menyebut jenis virus baru.
Kemenkes menjelaskan bahwa Subclade K merupakan bagian dari influenza A H3N2 yang mengalami perubahan genetik. Hingga minggu ke-37 2026, total temuan Subclade K sejak 2025 tercatat 188 kasus yang tersebar di 20 provinsi. Kasus tersebut antara lain ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.
Data Kemenkes juga menunjukkan jumlah temuan Subclade K pada 2026 lebih rendah dibandingkan 2025. Sepanjang 2025 hingga minggu ke-38 2026, tercatat 166 temuan pada 2025 dan 22 temuan pada 2026.
Organisasi Kesehatan Dunia sebelumnya juga mencatat bahwa H3N2 Subclade K merupakan hasil evolusi genetik dari virus H3N2. Namun, data epidemiologis yang tersedia tidak menunjukkan adanya peningkatan keparahan penyakit yang terkait dengan subclade tersebut.
Tetap Waspada terhadap Influenza
Meskipun H1N1pdm09 lebih dominan dalam data terbaru, masyarakat tetap perlu memperhatikan gejala influenza dan menerapkan langkah pencegahan. Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan yang dapat menyebabkan penyakit ringan hingga berat, terutama pada kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.
Kemenkes terus melakukan pemantauan melalui jejaring surveilans yang melibatkan puskesmas, rumah sakit, serta laboratorium dan balai kekarantinaan kesehatan. Data tersebut digunakan untuk melihat perkembangan virus dan perubahan pola penularan di masyarakat.
Karena itu, masyarakat tidak perlu terpaku pada istilah “superflu”, tetapi sebaiknya memahami informasi berdasarkan hasil surveilans dan keterangan tenaga kesehatan. Kebiasaan hidup bersih, menjaga etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit dapat membantu mengurangi risiko penularan influenza.(ffn)














