Kanal24, Malang – Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan pariwisata daerah. Melalui kegiatan berbasis pengalaman dan kolaborasi, mahasiswa dapat menghadirkan perspektif baru dalam mempromosikan potensi wisata sekaligus membantu pemerintah memahami perubahan perilaku wisatawan.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan Brawijaya Culture & Food Festival 2026 bertajuk Aksara Rasa: Savor of the Soul Nusantara di Alun-Alun Merdeka Malang. Kegiatan yang digagas mahasiswa Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Universitas Brawijaya (UB) ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan pengelolaan acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara.
Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Ali Afandi, menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pariwisata perlu terus didorong. Menurutnya, Jawa Timur memiliki potensi wisata yang tidak hanya berasal dari kekayaan alam, tetapi juga dari beragam aktivitas dan pengalaman budaya yang dapat menarik wisatawan.
Baca juga:
Mahasiswa Asing UB Dibekali Aturan Imigrasi dan Lalu Lintas

Ia menilai kegiatan yang mengangkat kekhasan Nusantara, seperti Brawijaya Culture & Food Festival, menjadi salah satu bentuk upaya generasi muda untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat.
Perspektif Generasi Muda untuk Pengembangan Pariwisata
Ali menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan pariwisata Jawa Timur. Kolaborasi dengan mahasiswa tidak hanya memberikan pengalaman dan pengetahuan praktis, tetapi juga dapat menjadi sumber masukan bagi pemerintah dalam merancang strategi pengembangan pariwisata.
Menurutnya, generasi muda memiliki pola perjalanan dan preferensi wisata yang dapat berbeda dari generasi sebelumnya. Perspektif tersebut menjadi hal yang penting untuk dipahami agar pengembangan pariwisata tetap relevan dengan kebutuhan calon wisatawan.
Karena itu, keterlibatan mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan acara, tetapi juga dapat memberikan gagasan yang membantu pemerintah mengenali potensi serta merancang promosi pariwisata yang lebih sesuai dengan perkembangan masyarakat.
Ali juga menyampaikan bahwa kerja sama dengan perguruan tinggi di Jawa Timur, termasuk Universitas Brawijaya, diharapkan terus berkembang. Selain memberikan manfaat bagi pemerintah daerah, kolaborasi tersebut dapat memperkaya pengalaman mahasiswa dan memberikan nilai tambah bagi institusi pendidikan.
Festival Menjadi Ruang Praktik Mahasiswa
Sekretaris Program Studi Pariwisata FIA UB, Zaki Alif Ramadhani, S.Par., M.Par., menjelaskan bahwa Brawijaya Culture & Food Festival merupakan kegiatan tahunan mahasiswa yang telah berlangsung sejak sekitar 2013. Kegiatan tersebut dikembangkan sebagai ruang praktik mahasiswa di luar pembelajaran teori di kelas.

Melalui penyelenggaraan festival, mahasiswa berkesempatan mengasah keterampilan dalam mengelola acara, membangun jejaring dengan pelaku usaha, serta memperkenalkan makanan tradisional dan kebudayaan kepada masyarakat.
Zaki berharap kegiatan tersebut dapat menunjukkan bahwa mahasiswa Pariwisata tidak hanya mempelajari konsep dan teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan nyata yang melibatkan pengunjung dan berbagai pihak.
Pada pelaksanaan 2026, festival menghadirkan 17 stan kuliner Nusantara yang diikuti pelaku UMKM Malang Raya. Kegiatan tersebut juga diramaikan dengan pertunjukan tari tradisional dari siswa sejumlah SMA di Malang, Reog Ponorogo, food parade, serta musik keroncong.
Ketua Pelaksana Brawijaya Culture & Food Festival 2026, Nariswari Nismara, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap kekayaan budaya Nusantara sekaligus mendorong pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Malang.
Pemilihan Alun-Alun Merdeka sebagai lokasi penyelenggaraan tahun ini juga bertujuan memperluas jangkauan festival agar lebih dikenal masyarakat Kota Malang.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman dalam mengelola kegiatan pariwisata sekaligus membangun interaksi dengan pelaku UMKM, komunitas budaya, pemerintah, dan masyarakat. Kolaborasi ini menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan kebutuhan pengembangan pariwisata di daerah. (nid)













