Kanal24, Malang – Ketertarikan terhadap satwa hias tidak hanya menjadi bagian dari hobi, tetapi juga menyimpan peluang pengembangan ilmu pengetahuan, budidaya, dan ekonomi kreatif. Kolaborasi antara komunitas penghobi dan perguruan tinggi membuka ruang untuk mengembangkan potensi tersebut melalui pendekatan ilmiah, mulai dari pemeliharaan hingga kajian genetik satwa.
Universitas Brawijaya (UB) bersama PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. menggelar Piala Rektor Prana Satwa Brawijaya 2026 di Gedung Samantha Krida UB, Minggu (25/10/2026). Bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-64 UB ini menghadirkan kontes ayam hias dan merpati hias, melanjutkan rangkaian kegiatan yang juga mencakup kontes kucing serta pameran satwa eksotis. Ajang tersebut menjadi ruang pertemuan akademisi, peternak, dan komunitas untuk memperkuat pengembangan satwa berbasis ilmu pengetahuan.
Baca Juga:
FAST UB Perkuat Pendampingan Mahasiswa lewat Dosen dan Konselor Sebaya
Dekatkan Riset Genomik dengan Komunitas
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menjelaskan bahwa Prana Satwa Brawijaya menjadi upaya universitas untuk memperkenalkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Menurutnya, aktivitas komunitas yang telah berkembang dapat dioptimalkan melalui kompetisi dan dilanjutkan dengan pendampingan. UB memiliki kapasitas riset genomik yang berpotensi dimanfaatkan untuk mempelajari karakteristik genetik serta sejarah DNA berbagai spesies hewan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghubungkan minat masyarakat terhadap satwa dengan pengembangan pengetahuan yang lebih luas. Dengan demikian, komunitas tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi penghobi, tetapi juga berpotensi menjadi mitra dalam pengembangan riset.

“Harapan kami kegiatan ini bisa berlangsung rutin, kalau bisa tahunan, dan semakin mendekatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat,” ujar Prof. Andi.
Ia berharap keberlanjutan kegiatan dapat memperkuat ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang kolaborasi antara universitas dan masyarakat. Potensi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan manfaat ilmu pengetahuan bagi masyarakat.
Kembangkan Budidaya dan Kepedulian terhadap Satwa
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) UB, Prof. Dr. Ir. Muhammad Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., menilai kontes satwa di lingkungan kampus menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antara universitas dan asosiasi penghobi.

Menurutnya, pengembangan satwa tidak terbatas pada ternak untuk kebutuhan pangan. Ayam hias dan berbagai jenis satwa lainnya juga memiliki potensi budidaya yang dapat dikembangkan melalui peningkatan kualitas serta pertukaran pengetahuan.
Dalam kompetisi tersebut, panitia menyiapkan hampir 300 piala untuk berbagai kategori. Peserta mengikuti kelas sesuai jenis dan karakteristik satwa sebelum memperebutkan gelar Best of the Best.
Prof. Halim berharap penghargaan tersebut dapat memotivasi peternak untuk terus menjaga kualitas satwa. Ia juga menyoroti pentingnya kepedulian terhadap satwa di lingkungan kampus, termasuk pengelolaan populasi kucing melalui sterilisasi dan pemeliharaan yang bertanggung jawab.
Perawatan Maksimal Antarpeternak Raih Prestasi
Persiapan dan konsistensi perawatan menjadi bagian penting dalam kompetisi. Oyek dari Nayra Farm, Kediri, meraih penghargaan Best of the Best kedua dan ketiga dalam kontes merpati. Ia membawa sekitar 60 ekor merpati untuk mengikuti perlombaan di Malang.

“Untuk kontes memang kita perlu perawatan ekstra, terutama vitamin dan makanan,” ungkap Oyek.
Ia menjelaskan bahwa persiapan dilakukan untuk menjaga kondisi burung tetap prima selama perjalanan dan kompetisi. Oyek juga mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut dan berharap kontes serupa dapat kembali digelar agar komunitas satwa memiliki ruang untuk berkompetisi.
Sementara itu, Fenny, peserta asal Bandung, meraih penghargaan Best of the Best pertama dalam kontes ayam hias. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan ayam sebelum mengikuti perlombaan.
Persiapan tersebut menjadi perhatian utama agar ayam berada dalam kondisi baik saat dinilai oleh juri. Fenny mengaku senang atas penghargaan yang diraih karena menjadi apresiasi terhadap perawatan yang telah dilakukan.
Ia berharap semakin banyak masyarakat tertarik memelihara ayam hias sehingga jumlah peserta pada kompetisi berikutnya dapat meningkat.
Melalui Prana Satwa Brawijaya 2026, UB berupaya mempertemukan potensi komunitas dengan dukungan akademik dan teknologi. Keberlanjutan kolaborasi diharapkan dapat mendorong pengembangan budidaya, memperluas penerapan ilmu pengetahuan, dan memperkuat peluang ekonomi kreatif berbasis satwa. (ndr)













