Kanal24, Malang – Sepuluh tahun berlalu, foto dengan filter mencolok, lagu-lagu populer, hingga gaya berpakaian khas 2016 kembali menghiasi media sosial. Tren bertajuk “2026 Is the New 2016” mengajak pengguna TikTok dan Instagram membuka kembali arsip foto lama serta mengenang budaya internet yang pernah populer. Fenomena ini bukan sekadar mengulang tren masa lalu, tetapi juga memperlihatkan perubahan cara generasi muda menikmati ruang digital.
Tren tersebut mulai mendapat perhatian luas pada awal 2026, ketika pengguna ramai membagikan foto masa remaja, video lawas, dan lagu yang mengingatkan mereka pada satu dekade sebelumnya. Bagi sebagian pengguna, 2016 menjadi simbol masa ketika media sosial terasa lebih spontan, sebelum konten digital semakin kompetitif dan algoritma semakin menentukan pengalaman pengguna.
Baca Juga:
Review Naoko, Novel Keigo Higashino yang Mengusung Misteri Identitas
Filter Jadul dan Lagu Hits Kembali Viral
Salah satu daya tarik tren ini adalah kembalinya estetika visual khas pertengahan 2010-an. Filter anjing Snapchat, foto dengan warna mencolok, riasan tebal, serta aksesori seperti kalung choker kembali muncul dalam berbagai unggahan. Pengguna juga mengenang tantangan Mannequin Challenge dan budaya video singkat yang berkembang pada masa itu.
Musik turut memperkuat suasana nostalgia. Lagu Lush Life dari Zara Larsson kembali menarik perhatian, sementara Closer dari The Chainsmokers dan We Don’t Talk Anymore dari Charlie Puth bersama Selena Gomez mengingatkan pengguna pada deretan lagu populer era tersebut.
Besarnya perhatian terhadap tren ini juga terlihat dari data TikTok yang diberitakan pada Januari 2026. Pencarian dengan kata kunci 2016 di Amerika Serikat meningkat lebih dari 450 persen dalam beberapa pekan. Pada periode 1–11 Januari, pencarian terkait lagu 2016 meningkat 290 persen, sedangkan pencarian riasan era tersebut naik 600 persen dibandingkan sebelas hari sebelumnya.
Mengapa Generasi Muda Merindukan Internet Lama?
Di balik foto dan lagu lawas, tren ini berkaitan dengan perubahan pengalaman bermedia sosial. Saat ini, pengguna menghadapi arus konten yang terus diperbarui, persaingan mendapatkan perhatian, serta perkembangan kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi produksi konten digital.
Sebaliknya, internet pada 2016 kerap dikenang melalui unggahan spontan, lelucon sederhana, dan dokumentasi kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian pengguna, mengunggah kembali foto lama menjadi cara untuk mengenang masa sebelum pandemi COVID-19 dan sebelum kehidupan digital berkembang secepat sekarang.
Meski demikian, nostalgia tidak selalu menggambarkan masa lalu secara utuh. Tahun 2016 juga diwarnai berbagai persoalan sosial dan politik. Kenangan yang muncul di media sosial lebih mencerminkan pengalaman personal serta bagian masa lalu yang dianggap menyenangkan oleh masing-masing pengguna.
Nostalgia Digital Menjadi Ruang Refleksi
Fenomena “2026 Is the New 2016” menunjukkan bahwa budaya populer dapat kembali diminati ketika memiliki ikatan emosional dengan penggunanya. Foto yang dahulu dianggap biasa kini menjadi dokumentasi perjalanan hidup, sementara lagu lama dapat menghadirkan kembali ingatan tentang pertemanan, sekolah, dan pengalaman masa muda.
Tren ini juga memperlihatkan bahwa media sosial bukan hanya ruang untuk mengikuti hal terbaru, tetapi juga tempat menyimpan dan membagikan kenangan. Pengguna dapat merayakan perubahan diri melalui perbandingan antara kehidupan sepuluh tahun lalu dan kondisi mereka saat ini.
Pada akhirnya, kembali ke 2016 bukan berarti ingin mengulang seluruh masa lalu. Bagi sebagian orang, nostalgia menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari cepatnya perubahan digital dan mengingat pengalaman yang pernah memberi makna. Sepuluh tahun berlalu, tetapi kenangan sederhana tetap dapat menemukan tempat baru di linimasa masa kini. (ndr)













