Kanal24, Malang – Persoalan di tengah masyarakat membutuhkan solusi yang tidak hanya bersumber dari gagasan, tetapi juga berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Berbagai tantangan di sektor pertanian, ekonomi, hingga lingkungan menuntut pendekatan yang sesuai dengan karakteristik setiap daerah. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk menghadirkan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian sebagai bagian dari penyelesaian persoalan masyarakat.
Upaya tersebut menjadi fokus Living Lab Summit 2026 yang diselenggarakan Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Universitas Brawijaya (UB) di Auditorium Pandhita Majapahit UB, Jumat (30/10/2026). Melalui pendekatan Living Lab, UB mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan serta potensi daerah.
Baca Juga:
Gedung RINOV FILKOM UB Perkuat Riset AI dan Kolaborasi Industri
Kampus Hadir Menjawab Persoalan Masyarakat
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menjelaskan bahwa Living Lab Summit menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan sosial. Kegiatan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi UB, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Menurut Fauzan, perguruan tinggi perlu menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai salah satu dasar dalam menjalankan penelitian dan pengabdian. Hasil riset tidak cukup berhenti pada publikasi atau pengembangan teori, tetapi perlu diarahkan agar dapat memberikan manfaat secara langsung.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Kampus Berdampak yang mendorong perguruan tinggi lebih aktif merespons persoalan di sekitarnya. Kampus diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, memahami kondisi wilayah, kemudian menghadirkan tindak lanjut melalui keterlibatan berbagai pihak.
Setiap daerah memiliki persoalan dan karakteristik yang berbeda. Karena itu, solusi yang dikembangkan tidak dapat disamaratakan. Perguruan tinggi perlu membangun hubungan dengan masyarakat agar inovasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan serta kondisi setempat.
Riset Berangkat dari Kebutuhan Daerah
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa Living Lab merupakan pendekatan pengembangan kegiatan yang berangkat dari persoalan atau kebutuhan tertentu. Penentuan masalah menjadi tahap awal sebelum program dijalankan.

Pendekatan tersebut menempatkan kebutuhan lapangan sebagai dasar dalam menentukan arah penelitian dan inovasi. Dengan demikian, program yang dikembangkan memiliki sasaran yang lebih jelas serta dapat diarahkan untuk menghasilkan perubahan sesuai persoalan yang ingin diselesaikan.
Yudi menyampaikan bahwa pelaksanaan program Living Lab telah mencapai sekitar 70–80 persen. Sejumlah hasil awal mulai terlihat, termasuk dampak pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hasil pengembangan tersebut juga diperkenalkan melalui berbagai stand pameran dalam rangkaian Living Lab Summit 2026.
Pameran menjadi ruang untuk memperlihatkan proses dan hasil inovasi yang dikembangkan melalui program. Pengunjung dapat mengenal berbagai produk serta pendekatan yang diterapkan tim dalam menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah pengembangan masing-masing.
Kolaborasi Jadi Kunci Keberlanjutan Inovasi
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menilai persoalan sosial memiliki karakter yang kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Karena itu, perguruan tinggi perlu membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, industri, serta masyarakat agar program yang dijalankan dapat memberikan dampak lebih luas.

UB mengembangkan berbagai kegiatan berbasis masyarakat melalui desa mitra dan laboratorium lapangan. Sejumlah wilayah pengembangan berada di Malang Selatan, Kabupaten Malang, Kota Malang, serta beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Salah satu contoh pengembangan dilakukan melalui kerja sama di wilayah NTT dan NTB dengan mengoptimalkan potensi pertanian lahan kering. Komoditas jagung tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi bagian tanaman seperti daun dan batangnya juga dapat diolah menjadi pakan ternak.
Pengembangan tersebut memperlihatkan keterkaitan antara sektor pertanian, peternakan, dan penguatan ekonomi masyarakat. Pemanfaatan hasil pertanian secara lebih menyeluruh menjadi salah satu peluang untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai guna komoditas lokal.
Selain melalui desa mitra, UB juga menjalankan berbagai program pengabdian, seperti Doktor Mengabdi dan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Keterlibatan alumni melalui program Patriot di sejumlah wilayah, termasuk Papua dan Mamuju, turut menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Widodo menekankan pentingnya keberlanjutan dan kesinambungan program. Kolaborasi berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar penyelesaian persoalan sosial tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat dikembangkan melalui pendampingan dan kerja sama jangka panjang.
Melalui Living Lab Summit 2026, UB mendorong penguatan peran perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang berangkat dari persoalan nyata. Sinergi antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat diharapkan dapat memperluas penerapan inovasi sekaligus menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi berbagai daerah. (gal)














