Kanal24, Malang – Buah jeruk tidak hanya dapat dinikmati sebagai buah segar. Di tangan tim Selorejo Integrated Citrus Circular Bioeconomy Living Lab, komoditas tersebut dikembangkan menjadi beragam produk dengan fungsi berbeda. Mulai dari minuman serbuk, teh kulit jeruk, hingga produk perawatan tubuh, berbagai hasil olahan itu diperkenalkan kepada pengunjung melalui sebuah stand pameran.
Ragam produk tersebut menjadi salah satu inovasi yang ditampilkan dalam pameran Living Lab Summit 2026 di Auditorium Pandhita Majapahit Universitas Brawijaya (UB), Jumat (30/10/2026). Berangkat dari potensi pertanian Desa Selorejo, Kabupaten Malang, tim memperkenalkan pemanfaatan buah dan kulit jeruk melalui pendekatan ekonomi sirkular untuk menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai tambah.
Baca Juga:
UB Perkuat Kesehatan Mental Dosen dan Tenaga Kependidikan
Ragam Produk Jeruk Hadir di Stand Living Lab
Pengunjung dapat mengenal sejumlah produk hasil pengembangan tim melalui stand tersebut. Produk yang diperkenalkan meliputi Nutrisel atau minuman serbuk jeruk instan, teh kulit jeruk, marmalade, lip balm, lip scrub, hingga eco-enzyme.
Perwakilan tim Living Lab, Rahel Laureneagle Wijaya, menjelaskan bahwa pengembangan produk tersebut berangkat dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan komoditas jeruk di Desa Selorejo. Tim tidak hanya mengolah sari buah, tetapi juga memanfaatkan kulit jeruk sebagai bahan untuk menghasilkan produk turunan.

Dalam pengembangannya, sari jeruk dimanfaatkan untuk membuat Nutrisel, sedangkan kulitnya diolah menjadi beberapa produk, seperti teh, marmalade, lip balm, lip scrub, dan eco-enzyme. Pemanfaatan bagian buah yang berbeda ini menjadi salah satu penerapan pendekatan zero waste yang diperkenalkan melalui program tersebut.
Ragam produk yang dipajang memperlihatkan bahwa komoditas pertanian dapat dikembangkan melampaui bentuk penjualan bahan segar. Jeruk tidak hanya dimanfaatkan sebagai buah konsumsi, tetapi juga dapat diolah menjadi produk pangan maupun produk perawatan tubuh.
Keberagaman hasil olahan tersebut menjadi bagian penting dari pengenalan program kepada pengunjung. Melalui stand pameran, tim menunjukkan bahwa pemanfaatan satu komoditas dapat dikembangkan ke berbagai bentuk produk dengan memaksimalkan bagian buah yang masih bisa diolah.
Mengangkat Potensi Jeruk Desa Selorejo
Program tersebut memiliki nama Pengembangan Citrus Circular Living Lab sebagai Model Ekonomi Sirkular Berbasis Agrowisata Berkelanjutan di Desa Selorejo Kabupaten Malang. Pengembangannya berangkat dari karakteristik Selorejo sebagai kawasan agrowisata sekaligus wilayah budidaya jeruk.
Menurut Rahel, salah satu hal yang menjadi perhatian tim adalah keberadaan buah jeruk afkir atau buah yang tidak memenuhi standar penjualan. Buah tersebut masih berpotensi dimanfaatkan, tetapi memiliki nilai jual lebih rendah dibandingkan jeruk yang memenuhi kriteria pasar.
Kondisi tersebut mendorong tim mengembangkan alternatif pengolahan agar jeruk dapat dimanfaatkan menjadi produk lain. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, bagian buah yang masih bisa digunakan diarahkan menjadi bahan baku produk turunan. Upaya ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan hasil pertanian yang sebelumnya belum memiliki nilai jual setara dengan buah berkualitas pasar.
Pengembangan ini juga berkaitan dengan potensi agrowisata Desa Selorejo. Selain menawarkan pengalaman wisata, kawasan tersebut memiliki peluang untuk memperkenalkan produk khas berbasis hasil pertanian lokal. Produk olahan jeruk diharapkan dapat menjadi alternatif oleh-oleh bagi pengunjung sekaligus membuka peluang pengembangan usaha masyarakat.

Meski demikian, proses produksi masih menghadapi tantangan ketersediaan bahan baku. Produksi jeruk mengikuti musim panen sehingga tim perlu menyesuaikan pengadaan bahan dengan periode ketersediaan hasil pertanian. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pengembangan produksi agar proses pengolahan dapat disesuaikan dengan ketersediaan komoditas di lapangan.
Tim Siapkan Pengembangan Bersama Masyarakat
Pengenalan berbagai produk melalui stand Living Lab Summit 2026 menjadi bagian dari proses pengembangan program. Ke depan, tim berencana memperluas penerapan inovasi melalui pendampingan kepada masyarakat Desa Selorejo.
Rahel menyampaikan bahwa pendampingan akan diarahkan pada pengenalan proses diversifikasi jeruk kepada kelompok penerima manfaat. Dalam pelaksanaannya, tim berencana melibatkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai mitra pengembangan.
Melalui pendampingan tersebut, masyarakat diharapkan dapat mempelajari cara mengolah jeruk menjadi berbagai produk turunan. Pengetahuan yang dikembangkan dalam program Living Lab nantinya berpeluang diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi masyarakat setempat.
Selain penguatan keterampilan produksi, tim juga menyiapkan sejumlah tahapan untuk mendukung kesiapan produk sebelum dipasarkan lebih luas. Informasi nilai gizi dan persyaratan perizinan menjadi bagian yang masih perlu dilengkapi. Langkah ini diperlukan agar produk yang dikembangkan memiliki kesiapan dari sisi informasi produk dan ketentuan pemasaran.
Pengembangan program juga perlu memperhatikan kesinambungan bahan baku, proses produksi, serta keterlibatan masyarakat. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan melalui pameran tidak berhenti pada tahap demonstrasi produk, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut bersama kelompok masyarakat di Desa Selorejo.
Melalui stand Selorejo Integrated Citrus Circular Bioeconomy Living Lab, pengunjung Living Lab Summit 2026 diperkenalkan pada berbagai alternatif pemanfaatan komoditas jeruk. Ragam produk yang ditampilkan menjadi gambaran pengembangan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal, sekaligus membuka peluang diversifikasi hasil pertanian dan penguatan produk khas Desa Selorejo. (gal)













