Kanal24, Malang – Memoar Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah menjadi salah satu buku yang paling banyak diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir. Karya ini tidak hanya menghadirkan kisah personal seorang figur publik, tetapi juga membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang trauma, relasi manipulatif, serta keberanian penyintas untuk bersuara. Melalui pendekatan narasi yang jujur dan apa adanya, buku ini hadir sebagai potret luka masa lalu yang perlahan disusun kembali menjadi kekuatan.
Buku Broken Strings dirilis dalam format digital dan mendapat perhatian luas setelah dibagikan secara gratis oleh penulisnya. Keputusan tersebut membuat memoar ini menjangkau pembaca dari berbagai latar belakang, sekaligus mempercepat penyebaran diskusi tentang isu kekerasan psikologis dan emosional yang kerap tersembunyi di balik hubungan personal maupun profesional.
Baca juga:
Kenduri dan Pagelaran Wayang Warnai Dies UB ke-63
Fragmen Ingatan dan Luka Masa Remaja
Alih-alih disusun secara kronologis, Broken Strings ditulis dalam bentuk fragmen-fragmen kenangan. Pola ini menggambarkan cara kerja ingatan traumatis yang tidak selalu runtut dan sering kali muncul dalam potongan peristiwa. Pembaca diajak menyusuri masa kecil, proses pencarian jati diri, hingga pengalaman pahit di usia remaja yang meninggalkan dampak mendalam dalam kehidupan penulis.
Salah satu bagian terkuat dalam buku ini adalah pengakuan tentang hubungan manipulatif yang dialami penulis saat masih di bawah umur. Relasi tersebut digambarkan bermula dari perhatian dan rasa aman semu, lalu perlahan berubah menjadi kontrol emosional, isolasi sosial, dan tekanan psikologis. Tanpa menyebut identitas pelaku secara gamblang, penulis menyoroti pola relasi yang kerap luput disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar.
Bahasa Jujur Tanpa Romantisasi Trauma
Kekuatan Broken Strings terletak pada pilihan bahasanya yang lugas dan tidak berusaha memperindah luka. Setiap emosi disampaikan secara langsung, mulai dari kebingungan, ketakutan, kemarahan, hingga rasa bersalah yang sering membayangi korban kekerasan. Pendekatan ini membuat pembaca tidak sekadar memahami cerita, tetapi turut merasakan beban emosional yang ditanggung penulis selama bertahun-tahun.
Judul Broken Strings menjadi metafora sentral yang berulang dalam narasi. Senar yang putus melambangkan masa muda yang retak, kepercayaan diri yang terkikis, serta suara batin yang sempat terbungkam. Namun di sisi lain, metafora tersebut juga mencerminkan upaya menyetel ulang kehidupan—bahwa senar yang pernah putus masih dapat disambung, meski tidak pernah sepenuhnya sama.
Resonansi dan Keberanian untuk Bersaksi
Respons publik terhadap buku ini menunjukkan betapa banyak orang yang merasa terwakili oleh kisah serupa. Banyak pembaca menyatakan bahwa Broken Strings membantu mereka mengenali pengalaman pribadi yang sebelumnya sulit diberi nama. Buku ini juga mendorong diskusi tentang pentingnya edukasi relasi sehat, kesadaran akan grooming, serta dukungan nyata bagi penyintas kekerasan.
Di balik dukungan yang mengalir, keterbukaan penulis juga menghadirkan konsekuensi sosial yang tidak ringan. Tekanan, penilaian publik, hingga gangguan emosional menjadi bagian dari risiko ketika seseorang memilih untuk bersuara. Namun demikian, memoar ini justru menegaskan bahwa kejujuran, meski menyakitkan, dapat menjadi langkah awal menuju pemulihan dan perubahan.
Refleksi Sosial dan Harapan Bersama
Lebih dari sekadar kisah personal, Broken Strings menjadi cermin bagi masyarakat untuk meninjau kembali cara memandang korban, relasi kuasa, dan trauma psikologis. Buku ini mengajak pembaca untuk lebih peka, tidak mudah menyederhanakan pengalaman korban, serta berani membangun ruang aman bagi mereka yang ingin berbagi cerita.
Pada akhirnya, Broken Strings bukan hanya tentang masa lalu yang patah, tetapi juga tentang keberanian menyuarakan kebenaran. Memoar ini menegaskan bahwa luka yang diakui dan diceritakan dengan jujur dapat menjadi sumber kekuatan—bukan hanya bagi penulisnya, tetapi juga bagi siapa pun yang pernah merasa suaranya terputus dan akhirnya menemukan nada untuk berbicara kembali. (nid)














