Kanal24, Malang — Di tengah derasnya arus informasi dan kemunculan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu memproduksi konten palsu dengan presisi tinggi, kebutuhan akan literasi digital menjadi semakin mendesak. Tantangan ini menjadi sorotan utama dalam acara “Deutsche Welle Goes to Kampus: Campus Dialogue – Smarter Minds Against Digital Lies”, hasil kolaborasi antara DW Indonesia dan FISIP Universitas Brawijaya (UB) yang digelar di Gedung C lantai 7, Rabu (12/11/2025).
Jurnalis DW Indonesia, Tezar Aditya, menjelaskan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang dialog antara praktisi media, akademisi, dan mahasiswa untuk merumuskan langkah-langkah konkret menghadapi disinformasi digital.
“Kampus dialog ini menjadi wadah tiga pihak—media, akademisi, dan mahasiswa—untuk bertukar pikiran dan menemukan insight baru tentang tantangan dunia digital,” ujarnya.
Menurutnya, topik tahun ini berfokus pada bagaimana generasi muda dan dunia akademik dapat membekali diri menghadapi gelombang digital lies yang kian sulit dibedakan dari kebenaran. “Kita semua tahu, sekarang bukan hanya teks yang bisa dimanipulasi, tapi juga video dan foto. Tantangan media seperti DW saat ini adalah bagaimana membantu masyarakat agar tidak mudah percaya pada konten palsu yang tampak nyata,” jelas Tezar.
Ia menambahkan, AI harus diperlakukan sebagai alat bantu, bukan sumber kebenaran. “AI itu tools, bukan basis data utama. Sentuhan manusia—emosi, empati, dan proses berpikir kritis—tidak bisa digantikan oleh mesin,” tegasnya.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB, Arif Budi Prasetya, menilai kegiatan ini penting sebagai upaya membangun kesadaran kritis terhadap perkembangan teknologi digital yang begitu cepat. “AI itu seperti dua sisi mata uang. Bila dimanfaatkan dengan benar, ia sangat membantu, tapi kalau disalahgunakan bisa berbahaya,” ujarnya.
Arif menegaskan, kolaborasi antara dunia akademik dan media menjadi kunci dalam memperkuat literasi digital masyarakat. “Dunia akademik memiliki landasan pengetahuan, sedangkan media punya jangkauan publik. Ketika keduanya bersinergi, literasi masyarakat bisa tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya batas etis dalam penggunaan AI agar manusia tidak kehilangan sisi kemanusiaannya. “Gunakan AI hanya sebagai alat bantu. Ia tidak punya empati, tidak punya nurani. Kitalah yang tetap harus menjadi filter utama,” tuturnya.
Melalui forum ini, DW Indonesia dan FISIP UB berharap dapat menumbuhkan generasi muda yang kritis, cerdas, dan tahan terhadap manipulasi digital. Di tengah gelombang disinformasi yang makin canggih, kolaborasi lintas bidang menjadi langkah nyata untuk menjaga ruang digital tetap sehat dan beretika.(Din/Tia)














