Kanal24, Malang – Kesetaraan gender di tempat kerja tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar atau regulasi yang rumit. Perubahan justru bisa tumbuh dari aksi-aksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam keseharian karyawan. Mulai dari cara berinteraksi di ruang rapat hingga pembagian tugas yang adil, langkah kecil tersebut dinilai mampu membentuk budaya kerja yang lebih inklusif dan setara.
Praktik kesetaraan gender di kantor menjadi isu penting seiring meningkatnya kesadaran akan hak dan kesempatan yang sama bagi seluruh pekerja, baik laki-laki maupun perempuan. Lingkungan kerja yang sehat bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga soal rasa aman, dihargai, dan diberi ruang berkembang tanpa bias.
Baca juga:
Harga Emas Hari Ini, Antam Naik Tipis, Pegadaian Stabil
Seorang praktisi sumber daya manusia, Rina Wulandari, menilai bahwa perubahan budaya kerja harus dimulai dari kesadaran individu. āKesetaraan gender itu tidak selalu soal aturan tertulis. Cara kita berbicara, mendengarkan, dan menghargai pendapat rekan kerja sehari-hari justru punya dampak besar,ā ujarnya.
Dalam praktiknya, bias gender sering muncul secara tidak disadari. Misalnya, perempuan lebih sering diminta mengerjakan tugas administratif seperti mencatat notulen rapat atau mengatur konsumsi, sementara laki-laki lebih sering dipercaya memimpin diskusi. Pola seperti ini, jika dibiarkan, dapat memperkuat ketimpangan peran di tempat kerja.
Rina menambahkan, pengakuan terhadap kontribusi kerja juga menjadi bagian penting dalam membangun kesetaraan. āKetika ide seorang karyawan diabaikan lalu disampaikan ulang oleh orang lain dan justru mendapat apresiasi, itu bentuk ketidakadilan yang sering luput disadari,ā katanya.
Selain itu, dukungan terhadap kebijakan ramah gender juga menjadi elemen penting. Fasilitas seperti cuti orang tua, jam kerja fleksibel, hingga ruang laktasi bukan hanya kebutuhan perempuan, melainkan bagian dari sistem kerja modern yang menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Peran laki-laki dalam mendorong kesetaraan gender di kantor juga dinilai krusial. Kesetaraan bukan hanya isu perempuan, melainkan tanggung jawab bersama. Dukungan laki-laki sebagai rekan kerja, atasan, maupun pengambil keputusan dapat mempercepat terciptanya lingkungan kerja yang adil.
āLaki-laki perlu berani bersuara ketika melihat ketidakadilan, sekecil apa pun. Diam justru memperpanjang budaya yang tidak sehat,ā ujar Budi Santoso, seorang konsultan organisasi. Menurutnya, menjadi sekutu yang aktif adalah langkah nyata dalam mendukung perubahan.
Meski demikian, tantangan dalam mewujudkan kesetaraan gender masih cukup besar. Stereotip, beban ganda perempuan, hingga keraguan untuk mengambil posisi strategis masih kerap ditemui di berbagai sektor pekerjaan. Hal ini membuat sebagian perempuan enggan mengajukan promosi atau kesempatan baru meski memiliki kompetensi yang memadai.
Budi menilai perusahaan perlu menciptakan ruang dialog yang terbuka untuk membahas isu-isu tersebut. āKesetaraan tidak akan tercapai jika tidak dibicarakan. Diskusi rutin dan evaluasi budaya kerja perlu dilakukan agar masalah bisa diidentifikasi sejak dini,ā katanya.
Upaya membangun kesetaraan gender di kantor pada akhirnya membutuhkan komitmen jangka panjang. Tidak ada perubahan instan, tetapi langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menciptakan dampak besar. Lingkungan kerja yang setara bukan hanya menguntungkan perempuan, melainkan seluruh karyawan dan organisasi secara keseluruhan.
Dengan budaya kerja yang inklusif, perusahaan diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang lebih percaya diri, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Kesetaraan gender pun tidak lagi menjadi wacana, melainkan praktik nyata dalam kehidupan kerja sehari-hari. (nid)














