Kanal24, Malang — Di tengah persaingan pendidikan yang semakin ketat, banyak anak tumbuh dalam tekanan ekspektasi orang tua yang tidak selalu mereka pahami. Harapan agar anak selalu berprestasi, unggul di sekolah, dan mampu memenuhi standar tertentu kerap disampaikan sebagai bentuk kasih sayang. Namun, di balik niat baik tersebut, tekanan yang berlebihan justru berpotensi mengikis kebebasan, kesehatan mental, dan proses tumbuh kembang anak.Fenomena ini semakin terlihat di lingkungan perkotaan, ketika keberhasilan anak sering kali diukur dari nilai akademik, peringkat kelas, hingga deretan sertifikat lomba. Anak pun tidak jarang diposisikan sebagai perpanjangan ambisi orang tua, bukan sebagai individu yang memiliki keunikan, minat, dan batas kemampuan masing-masing.
Ekspektasi Tinggi yang Tak Selalu Sejalan
Banyak orang tua meyakini bahwa tuntutan dan target tinggi akan membentuk anak menjadi pribadi tangguh dan sukses. Sayangnya, ketika ekspektasi tersebut disampaikan tanpa empati dan dialog, anak justru merasa tertekan dan takut gagal. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta dan penerimaan hanya datang ketika berhasil memenuhi standar tertentu. Kondisi ini membuat anak lebih fokus mengejar hasil dibanding memahami proses belajar. Kesalahan kecil dipandang sebagai kegagalan besar, sementara keberhasilan sering kali dianggap belum cukup. Dalam jangka panjang, pola asuh semacam ini berpotensi menumbuhkan rasa cemas, rendah diri, hingga kehilangan kepercayaan pada kemampuan sendiri.
Dampak Psikologis yang Tak Terlihat
Tekanan dari lingkungan keluarga dapat memberikan dampak yang tidak selalu langsung terlihat. Anak yang terus berada di bawah tuntutan tinggi cenderung mengalami stres berkepanjangan, mudah lelah secara emosional, dan kesulitan mengekspresikan perasaan. Beberapa anak memilih diam dan menuruti keinginan orang tua, sementara yang lain menunjukkan penolakan melalui perilaku agresif atau penarikan diri. Selain itu, tekanan akademik yang berlebihan juga dapat menghambat perkembangan sosial anak. Waktu bermain dan bereksplorasi berkurang karena dipenuhi jadwal belajar dan les tambahan. Padahal, aktivitas bermain memiliki peran penting dalam membentuk kreativitas, empati, serta kemampuan memecahkan masalah secara alami.
Anak sebagai Individu, Bukan Proyek
Pakar tumbuh kembang anak menekankan bahwa setiap anak memiliki ritme dan potensi yang berbeda. Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau standar sosial tertentu justru berisiko mengaburkan keunikan mereka. Anak tidak seharusnya diperlakukan sebagai proyek pencapaian yang harus selalu menunjukkan hasil konkret. Pendekatan pengasuhan yang sehat menempatkan orang tua sebagai pendamping, bukan pengendali penuh. Anak perlu merasa aman untuk mencoba, gagal, dan belajar tanpa rasa takut dihakimi. Dukungan emosional, apresiasi terhadap usaha, serta komunikasi dua arah menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan diri anak.
Membangun Harapan yang Lebih Manusiawi
Ekspektasi bukanlah hal yang sepenuhnya keliru. Orang tua tetap memiliki harapan terhadap masa depan anak. Namun, harapan tersebut perlu disesuaikan dengan kapasitas, minat, dan kondisi emosional anak. Alih-alih menuntut kesempurnaan, orang tua dapat membantu anak menetapkan tujuan realistis dan merayakan setiap kemajuan kecil. Memberi ruang bagi anak untuk mengenali diri sendiri, menentukan minatnya, dan mengekspresikan emosi secara jujur akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental dan emosional. Anak yang merasa diterima tanpa syarat cenderung lebih berani mencoba hal baru dan mampu menghadapi tantangan dengan lebih tenang. Di tengah tuntutan zaman yang semakin kompleks, anak membutuhkan lebih dari sekadar dorongan untuk berprestasi. Mereka membutuhkan kehadiran orang tua yang mendengarkan, memahami, dan mendukung tanpa tekanan berlebihan. Dengan pengasuhan yang lebih empatik dan manusiawi, anak dapat tumbuh bukan hanya sebagai individu yang cerdas, tetapi juga sebagai pribadi yang bahagia dan utuh.(tia)














