Kanal24, Malang — Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino diperkirakan kembali menguji ketahanan produksi pangan nasional pada 2026. Kondisi cuaca ekstrem berupa penurunan curah hujan dan peningkatan suhu dinilai berpotensi mengganggu sektor pertanian, terutama komoditas utama seperti beras.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan, peluang terjadinya El Nino pada semester II 2026 perlu diwaspadai serius. Ia menyebut fenomena yang kerap disebut sebagai “El Nino Godzilla” itu berpotensi memicu kemarau yang lebih kering dan panjang dibandingkan kondisi normal.
“Peluang terjadi El Nino khususnya pada semester 2 tahun 2026 yang berpotensi membuat kemarau di 2026 lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal yang terdampak di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Rizal dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR.
Baca juga:
Bagaimana Cara Kembali Terhubung dengan Teman Lama
Ia menambahkan, kondisi cuaca ekstrem tersebut dapat berdampak langsung terhadap produksi pangan nasional. Penurunan curah hujan berisiko menyebabkan kekeringan luas yang mengganggu proses budidaya tanaman.
“Cuaca ekstrem seperti penurunan curah hujan yang sangat berdampak pada kekeringan, meluas, dan kemarau panjang,” kata dia.
Produksi Terancam, Pola Tanam Terganggu
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa El Nino kerap berdampak signifikan terhadap sektor pertanian. Penurunan curah hujan menyebabkan berkurangnya ketersediaan air irigasi, yang pada akhirnya menekan produktivitas tanaman bahkan memicu gagal panen.
Selain itu, perubahan pola musim juga dapat mengacaukan jadwal tanam petani. Dalam kondisi ekstrem, luas tanam bisa menyusut dan produksi pangan nasional ikut tergerus. Dampak lanjutan lainnya adalah meningkatnya serangan hama serta penurunan kualitas hasil panen.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengingatkan bahwa kemarau kering akibat El Nino berpotensi menurunkan produksi tanaman pangan akibat terganggunya siklus tanam dan risiko gagal panen.
Tak hanya sektor produksi, dampak tersebut juga bisa merembet ke stabilitas harga pangan. Penurunan pasokan di tengah permintaan yang stabil berpotensi mendorong kenaikan harga di pasar.
Pemerintah Siapkan Mitigasi
Mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah bersama Bulog telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Salah satunya melalui program pompanisasi untuk memastikan pasokan air ke lahan pertanian tetap terjaga, terutama di wilayah yang rentan kekeringan.
Upaya ini bukan hal baru. Rizal menyebut strategi serupa telah diterapkan saat menghadapi El Nino sebelumnya dan dinilai cukup efektif menjaga produksi. “Sudah kita berhasil mengatasi El Nino tersebut dengan swasembada,” tegasnya.
Selain itu, Bulog juga memperkuat sistem deteksi dini dengan mengintegrasikan data prakiraan cuaca, laporan produksi daerah, serta posisi stok pangan. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat respons apabila terjadi gangguan produksi akibat perubahan cuaca ekstrem.
Distribusi dan pengelolaan stok juga dioptimalkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Termasuk langkah antisipasi terhadap risiko kebakaran lahan maupun gangguan logistik yang dapat memperburuk kondisi pangan.
Stok Beras Diklaim Aman
Di tengah ancaman tersebut, pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional, khususnya beras, masih dalam kondisi aman. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan cadangan beras pemerintah saat ini berada pada level tinggi.
“Stok beras nasional di Indonesia dipastikan aman untuk 10-11 bulan ke depan,” ujar Amran.
Berdasarkan data yang dihimpun, cadangan beras pemerintah telah mencapai sekitar 4,6 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik, bahkan jika terjadi kemarau ekstrem selama beberapa bulan.
Meski demikian, Amran mengakui bahwa tantangan sektor pangan tidak hanya berasal dari faktor iklim. Ketegangan geopolitik global juga berpotensi mengganggu rantai pasok pangan dunia, sehingga perlu diantisipasi secara menyeluruh.
Kewaspadaan Jadi Kunci
Dengan potensi kemarau panjang yang diprediksi berlangsung mulai April hingga Agustus 2026, kewaspadaan menjadi kunci utama menjaga ketahanan pangan nasional. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani diperlukan untuk meminimalkan dampak El Nino terhadap produksi.
Langkah adaptasi seperti pengelolaan air, penggunaan teknologi pertanian, serta pemantauan cuaca secara intensif menjadi strategi penting agar sektor pangan tetap resilien di tengah tekanan iklim yang kian tidak menentu. (nid)













