Kanal24, Malang — Indonesia saat ini tengah berada pada momen penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan potensi sumber energi baru terbarukan yang sangat besar—terutama dari bioenergi—negara ini berupaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sambil mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Potensi Bioenergi yang Masih Besar
Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa untuk bioenergi yang sangat besar, mencapai puluhan juta ton per tahun. Sumber-sumber energi ini berasal dari limbah industri kelapa sawit, limbah kayu, dan sisa limbah pertanian yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terbesar di wilayah Sumatra. Namun, realisasi pemanfaatan biomassa tersebut masih relatif rendah dibandingkan total potensi yang ada.
Baca juga:
Strategi Branding Digital Perkuat Bisnis BPU
Sebagai bagian dari strategi transisi energi, PT PLN telah melakukan program co-firing, yaitu substitusi sebagian batubara dengan biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Hingga akhir November 2025, program ini telah diterapkan di puluhan PLTU di berbagai wilayah Indonesia. Selain mampu mengurangi emisi karbon secara signifikan, co-firing juga menjadi langkah awal untuk mendorong pemanfaatan sumber energi domestik yang lebih ramah lingkungan.
Selain co-firing, pengembangan biogas dan Bio-CNG dari limbah cair sawit (POME) juga digencarkan untuk menyediakan alternatif bahan bakar terutama di wilayah terpencil yang selama ini sangat bergantung pada bahan bakar minyak impor. Dengan memanfaatkan limbah pertanian dan industri, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi energi lokal, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Energi
Upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi tidak hanya berlangsung di level nasional melalui perusahaan listrik negara, tetapi juga melibatkan kolaborasi lintas sektor. Melalui berbagai forum dan pertemuan, komitmen untuk mendorong sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya terus diperkuat. Tujuannya adalah menciptakan kebijakan dan implementasi yang lebih holistik dalam menghadapi tantangan transisi energi.
Pendekatan kebijakan juga menekankan pentingnya peran daerah dalam mengelola sumber daya energi lokal. Kontribusi pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi energi terbarukan di wilayahnya dianggap krusial untuk mencapai ketahanan energi yang merata di seluruh Indonesia.
Diversifikasi Energi sebagai Kunci Keberlanjutan
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional menegaskan bahwa diversifikasi sumber energi merupakan salah satu strategi utama untuk menjamin kemandirian energi Indonesia. Dalam berbagai diskusi kebijakan, energi terbarukan—termasuk tenaga surya, angin, hidro, dan bioenergi—didorong menjadi komponen utama dalam bauran energi nasional.
Transisi dari dominasi batubara ke sumber energi yang lebih bersih menjadi fokus utama dalam rencana jangka panjang. Pemerintah berupaya meningkatkan kontribusi energi terbarukan dalam pembangkit listrik nasional, sambil memastikan pasokan energi tetap aman dan stabil. Diversifikasi ini tidak hanya berdampak positif terhadap pengurangan emisi karbon, tetapi juga menciptakan peluang investasi baru di sektor teknologi bersih.
Tantangan dalam Transisi Energi
Walaupun potensi sumber energi terbarukan sangat besar, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan signifikan. Pertama, konsumsi energi nasional yang terus meningkat setiap tahun menuntut strategi yang matang untuk menjamin pasokan energi yang andal sambil mempercepat adopsi energi bersih. Porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi primer saat ini masih relatif kecil dibandingkan energi fosil, sehingga perlu percepatan implementasi sejumlah proyek infrastruktur energi hijau.
Kedua, pembangunan infrastruktur energi terbarukan membutuhkan investasi besar dan teknologi yang kompleks. Hal ini menuntut adanya dukungan kebijakan yang kuat, insentif fiskal, serta kerja sama dengan pihak swasta dan lembaga internasional.
Ketiga, transisi energi juga harus memperhatikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat terutama di wilayah yang selama ini bergantung pada industri energi fosil. Diperlukan strategi yang adil dan inklusif agar masyarakat lokal dapat berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari perubahan struktural ini.
Arah Kebijakan dan Komitmen Global
Dalam konteks global, Indonesia telah menyatakan komitmennya pada target pengurangan emisi dan agenda transisi energi rendah karbon. Pemerintah terus berpartisipasi dalam berbagai forum internasional untuk memperkuat posisi dan kerja sama negara dalam menghadapi perubahan iklim global.
Di level nasional, kebijakan menuju Net Zero Emissions menjadi panduan dalam merancang strategi energi jangka menengah dan panjang. Perusahaan listrik negara pun menyelaraskan rencana pembangunan pembangkitnya dengan target tersebut, termasuk dengan memperluas penggunaan energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi jaringan listrik.
Menuju Ketahanan Energi yang Berkelanjutan
Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, Indonesia memiliki modal kuat untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, memanfaatkan potensi besar ini bukan tanpa tantangan. Diperlukan sinergi kebijakan, kolaborasi lintas sektor, investasi yang tepat, dan inovasi teknologi untuk mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan.
Strategi diversifikasi energi, pengembangan bioenergi, serta peran aktif pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam memastikan Indonesia tidak hanya mandiri dalam energi, tetapi juga mampu berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau di masa depan. (nid)














