Kanal24, Malang – Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional dapat mencapai 6 persen pada tahun 2026, sebuah angka yang dinilai melampaui tren pertumbuhan beberapa tahun terakhir yang berkisar di level 5 persen. Target tersebut mencerminkan optimisme pemerintah terhadap kekuatan fundamental ekonomi domestik serta ruang kebijakan fiskal dan moneter yang masih tersedia untuk mendorong akselerasi pertumbuhan.
Optimisme tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam sebuah forum ekonomi nasional di Jakarta. Ia menegaskan bahwa perekonomian Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih tinggi apabila momentum pemulihan dan ekspansi ekonomi dapat dimanfaatkan secara optimal sejak awal tahun.
Baca juga:
Dolar Dekati Rp17 Ribu, Warga Serbu Money Changer

Dorongan dari Konsumsi dan Belanja Pemerintah
Salah satu faktor utama yang diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi adalah meningkatnya konsumsi masyarakat, terutama pada paruh awal tahun. Momentum hari besar keagamaan yang jatuh lebih awal dinilai dapat memberikan efek pengganda terhadap aktivitas ekonomi, mulai dari sektor perdagangan, transportasi, hingga jasa.
Selain konsumsi, percepatan belanja pemerintah juga menjadi instrumen penting dalam menjaga laju pertumbuhan. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan realisasi belanja negara dilakukan lebih awal dan lebih merata sepanjang tahun agar mampu menggerakkan perekonomian daerah serta mendorong produktivitas sektor riil.
Kombinasi antara konsumsi domestik yang kuat dan belanja pemerintah yang ekspansif diharapkan mampu menjaga stabilitas pertumbuhan sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku usaha.
Inflasi Terkendali Jadi Modal Penting
Kondisi inflasi yang relatif rendah dan terkendali turut menjadi modal penting dalam mengejar target pertumbuhan 6 persen. Inflasi yang stabil mencerminkan keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran, serta memberikan ruang bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk menjalankan kebijakan yang pro-pertumbuhan tanpa memicu tekanan harga berlebihan.
Dengan inflasi inti yang tetap terjaga, daya beli masyarakat diharapkan terus membaik, sehingga konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dapat terus meningkat secara berkelanjutan.
Proyeksi Moderat dan Tantangan Global
Meski pemerintah memasang target optimistis, sejumlah proyeksi makroekonomi masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,2 hingga 5,8 persen. Proyeksi ini mencerminkan pendekatan yang lebih moderat dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Tantangan eksternal seperti perlambatan ekonomi global, volatilitas harga komoditas, hingga tensi geopolitik dinilai masih berpotensi memengaruhi kinerja ekspor dan investasi. Oleh karena itu, penguatan permintaan domestik dan peningkatan investasi menjadi kunci utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal.
Upaya Lepas dari Tren Pertumbuhan 5 Persen
Target pertumbuhan 6 persen juga dipandang sebagai upaya pemerintah untuk keluar dari tren pertumbuhan 5 persen yang selama ini kerap menjadi batas psikologis ekonomi Indonesia. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan sinergi kuat antara kebijakan fiskal, moneter, serta reformasi struktural yang mampu meningkatkan produktivitas nasional.
Pemerintah menilai bahwa dengan perbaikan iklim investasi, penguatan sektor industri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.
Ke depan, capaian pertumbuhan 6 persen diharapkan tidak hanya mencerminkan angka statistik semata, tetapi juga berdampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan penguatan fondasi ekonomi nasional secara berkelanjutan. (nid)














