Kanal24, Malang – Kota Malang tidak ingin dikenal semata sebagai kota tujuan liburan. Di tengah persaingan destinasi yang kian seragam, Malang memilih jalan berbeda: menguatkan identitas lokal sebagai daya tarik utama. Dari bahasa Walian, kawasan heritage, pasar rakyat, hingga ruang-ruang milenial, Malang sedang membangun wajah wisata yang berakar pada budaya sekaligus relevan bagi generasi muda.
Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM., menegaskan bahwa pengembangan pariwisata kota harus berpijak pada kearifan lokal yang tidak boleh dilupakan. Salah satu identitas paling khas yang terus dihidupkan adalah bahasa Walianābahasa khas Malang yang tidak ditemui di daerah lain di Indonesia.
Bahasa Walian dan Heritage, Fondasi Identitas Wisata Kota
Menurutnya, bahasa Walian bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol kuat identitas kota. Ketika orang mendengar atau menggunakan bahasa Walian, asosiasinya langsung tertuju pada Malang. Karena itulah, dalam visi dan misi kepemimpinannya, bahasa Walian sengaja diangkat sebagai bagian dari dasar kebijakan dan branding kota.
āOrang datang ke Malang, wisatanya mungkin ada yang sama dengan kota lain. Tapi yang tidak sama itu identitasnya. Bahasa Walian ini hanya ada di Malang,ā ujarnya.
Selain bahasa, geliat wisata heritage menjadi magnet baru yang menguatkan karakter kota. Kawasan-kawasan bersejarah kini tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga ruang hidup yang kembali dihidupkan. Kawitan heritage, bangunan lama, hingga sudut-sudut kota yang sarat cerita, kini menjadi destinasi favorit, terutama bagi generasi muda.
Pasar Rakyat hingga Ruang Milenial, Wajah Wisata Urban Malang
Perubahan menarik juga terlihat pada pasar rakyat. Jika dulu pasar tradisional kerap ditinggalkan anak muda, kini kondisinya justru berbalik. Anak-anak muda mulai menjadikan pasar sebagai ruang wisata, bahkan mengajak orang tua mereka untuk datang bersama. Fenomena ini menunjukkan pergeseran cara pandang terhadap ruang publik dan wisata kota.
āDulu orang tua mengajak anak ke pasar, anaknya enggak mau. Sekarang justru anak-anak muda yang ngajak orang tuanya ke pasar,ā kata Wahyu.
Pasar tidak lagi sekadar tempat transaksi, melainkan ruang interaksi sosial dan pengalaman budaya. Hal ini menjadi kekuatan tersendiri bagi Malang dalam meramu konsep wisata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warganya.
Identitas wisata Malang juga diperkuat oleh kuliner legendaris yang lintas generasi. Kuliner tidak hanya menjadi pelengkap wisata, tetapi bagian dari memori kolektif kota. Kehadiran makanan-makanan ikonik yang bertahan puluhan tahun mempertegas bahwa Malang menawarkan pengalaman rasa sekaligus cerita.
Ruang Milenial dan Arah Baru Wisata Urban Malang
Di sisi lain, Wahyu menyadari bahwa karakter Malang sebagai kota pendidikan dan jasa membuat pendekatan wisata harus disesuaikan dengan dinamika anak muda. Dengan jumlah mahasiswa yang hampir menyamai jumlah penduduk tetap, Malang hidup sebagai kota yang bergerak hampir tanpa jeda.
Kondisi ini melahirkan kebutuhan akan ruang-ruang baru yang nyaman, inklusif, dan sesuai dengan gaya hidup generasi milenial dan mahasiswa. Kawasan Soekarno-Hatta menjadi salah satu contoh area yang ditata untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Wahyu menekankan bahwa penataan kawasan milenial bukan bertujuan menggeser zona nyaman anak muda, melainkan memperbaikinya. Pemerintah kota berupaya menata ruang tanpa menghilangkan karakter yang sudah melekat.
āSaya juga pernah muda. Saya tahu keinginan anak-anak muda. Kita tidak menggeser zona nyaman mereka, kita menata agar lebih baik,ā ungkapnya.
Penataan kawasan, termasuk pengendalian banjir dan perbaikan infrastruktur, dipandang sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang wisata urban yang lebih nyaman. Menurut Wahyu, perubahan memang membutuhkan proses dan pengorbanan, tetapi hasilnya akan dirasakan dalam jangka panjang.
Ke depan, Pemerintah Kota Malang juga menggandeng perguruan tinggi, termasuk Universitas Brawijaya, untuk membaca kebutuhan dan keinginan generasi muda secara lebih akurat. Hasil survei dan kajian akademik menjadi dasar dalam merancang konsep kawasan yang ramah, fungsional, dan berkelanjutan.
Transformasi wisata Malang pun dirancang bertahap. Tahun 2026 disebut sebagai momentum awal perubahan yang lebih terstruktur, seiring penyesuaian kebijakan dan perencanaan kota yang mulai sepenuhnya berjalan sesuai visi kepemimpinan saat ini.
Dengan menggabungkan bahasa Walian, heritage, pasar rakyat, kuliner legendaris, serta ruang-ruang milenial, Kota Malang ingin menawarkan pengalaman wisata yang tidak generik. Wisata yang bukan sekadar dilihat dan didatangi, tetapi dirasakan dan diingat.(din/pug)














