Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya kembali menjadi ruang dialog kreatif lintas disiplin melalui Talkshow Seni Batik Anatomi yang digelar sebagai bagian dari Pameran Titi Ragawi, Senin (17/11/2025) di Auditorium UB. Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Seni Budaya Indrokilo bersama Ikatan Alumni UB ini menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana tubuh manusia dapat menjadi inspirasi visual dalam seni batik kontemporer.
Talkshow kali ini menghadirkan Dr. Indriati Dwi Rahayu, M.Kes., akademisi yang mengembangkan konsep batik anatomiāmotif batik yang terinspirasi dari struktur dan jaringan tubuh manusia. Inisiatif tersebut menjadi warna baru di tengah rangkaian pameran karya seniman Bambang Sarasno, yang mengangkat tema zodiak dalam seri Titi Ragawi.
Motif dari Jaringan Mikroskopis: Menghadirkan Tubuh dalam Batik
Dalam paparan awalnya, Dr. Indriati menjelaskan bahwa gagasan batik anatomi muncul dari pengalamannya melihat jaringan tubuh melalui mikroskop. Menurutnya, pola-pola mikroskopis manusia memiliki keindahan natural yang tak kalah artistik dari motif flora atau fauna yang selama ini mendominasi batik tradisional.
āSaya berpikir, mengapa motif batik tidak mengambil inspirasi dari tubuh kita sendiri? Ketika pertama kali melihat jaringan di bawah mikroskop, bentuknya sudah seperti batik,ā ujarnya.

Ia menampilkan sejumlah contoh motif histologi yang telah diadaptasi menjadi batik, mulai dari sel limfosit, neuron, hingga retina. Setiap motif membawa filosofi tersendiriāretina melambangkan kepekaan visual, sementara neuron mengajarkan pentingnya respons cepat dan konektivitas.
Dr. Indriati juga menjelaskan tantangan terbesar: mengubah visual mikroskopis yang rumit menjadi pola yang bisa dipahami dan digarap oleh para pembatik tradisional. āPembatik tidak mempelajari histologi, jadi kami harus menyederhanakan visual tanpa menghilangkan maknanya,ā terangnya.
Kolaborasi dengan UMKM batik di berbagai daerah menjadi langkah penting dalam memperluas produksi batik anatomi sekaligus memperkenalkan motif ilmiah sebagai identitas baru batik edukatif.
Baca juga : āTiti Ragawiā Membaca Ulang Batik Lewat Zodiak dan Bahasa Visual Multigenerasi
Seni, Zodiak, dan Proses Kreatif yang Menembus Batas
Sementara itu Seniman Bambang Sarasno, pemilik 12 karya batik dalam pameran Titi Ragawi, menjelaskan bahwa seri tersebut lahir dari kebutuhan menjembatani batik ke ranah global melalui tema zodiak. Menurutnya, zodiak dikenal lintas negara dan generasi sehingga lebih mudah diterima publik luas.
āYang saya angkat adalah visualnya. Tekniknya tetap batik tradisional, tetapi saya memberi ruang untuk eksplorasi agar batik bisa berkembang mengikuti zaman,ā ujar Bambang.

Ia mengungkap bahwa proses kreatifnya tidak ringanā12 karya berukuran besar itu digarap hampir satu dekade, sebagian besar pada malam hari karena tuntutan pekerjaan dan keterbatasan fisik.
Meski penuh tantangan, Bambang menekankan bahwa membatik bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga mendidik pembuatnya. Dalam batik ada pelajaran tentang kesabaran, sistematika, problem solving, hingga pengendalian emosi.
āBatik itu tidak kaku. Ia bisa jadi media belajar karakter, spiritualitas, dan cara berpikir anti-mainstream,ā tuturnya.
Pameran Titi Ragawi sendiri diharapkan menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami batik sebagai medium yang dinamisābukan hanya warisan budaya, tetapi ruang eksplorasi gagasan imajinatif dan ilmiah.(Din/Dht)














