Kanal24, Malang – Education Expo Universitas Brawijaya (UB) 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi fakultas dan program studi, tetapi juga ruang pengenalan nilai-nilai karakter yang menjadi fondasi kehidupan kampus. Hal itu tampak dari kehadiran booth UPT Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PKM) UB yang tampil dengan pendekatan berbeda: mengedepankan nilai toleransi, inklusivitas, dan penguatan karakter.
UPT PKM UB menghadirkan sejumlah produk dan aktivitas interaktif untuk menarik perhatian peserta expo. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah batik toleransi, produk unggulan yang sarat makna keberagaman.
“Batik toleransi ini merupakan hasil dari kegiatan moral camp. Di dalamnya ada makna keberagaman tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Hindu. Ini bagian dari pengembangan mahasiswa untuk penguatan karakter inklusif,” ujar Dr. Mohamad Anas, M.Phil., perwakilan booth UPT PKM UB.
Selain batik toleransi, UPT PKM UB juga menyediakan tes karakter yang bisa diikuti langsung oleh pengunjung. Tes ini dirancang untuk memberikan gambaran awal tentang kecenderungan karakter calon mahasiswa.
“Tes karakter ini nanti akan keluar hasilnya, apakah karakternya rendah, sedang, atau tinggi. Karakter yang kita ukur antara lain kreatif, entrepreneur, religius, dan nasional,” jelas Anas.
Agar lebih menarik, peserta yang telah mengikuti tes karakter juga mendapatkan suvenir sederhana. “Setelah mereka mengisi, kita kasih gantungan kunci supaya mereka tertarik,” tambahnya.
Booth UPT PKM UB juga menampilkan atribut budaya dari kawasan Tengger Ngadas, lokasi yang selama ini menjadi bagian dari pelaksanaan moral camp mahasiswa UB. Kehadiran busana khas masyarakat Tengger tersebut menjadi simbol nyata praktik penguatan karakter inklusif yang tidak berhenti pada konsep, tetapi dijalankan langsung di lapangan.
Di balik tampilnya booth UPT PKM UB di Education Expo 2026, terdapat tantangan tersendiri, terutama dari sisi persiapan yang relatif singkat.
“Unit ini sebetulnya diminta berpartisipasi di detik terakhir. Kalau tidak salah, sekitar satu minggu sebelum acara,” ungkap Anas.
Dengan keterbatasan waktu dan pendanaan, tim UPT PKM UB harus beradaptasi cepat. “Biasanya kan sewa vendor, tapi karena dana terbatas akhirnya kita setting sendiri, kita desain sendiri booth-nya. Itu cukup menantang, tapi alhamdulillah bisa selesai dengan baik,” katanya.
Meski demikian, Anas menilai Education Expo UB sebagai langkah penting dan perlu dilanjutkan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk mengenalkan UB secara utuh, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga pembinaan karakter.
“Ini ajang pengenalan bagi calon-calon siswa yang ingin masuk UB. Saya berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan ke depan,” ujarnya.
Ia juga memberikan catatan evaluatif terkait pelaksanaan kegiatan. “Mungkin dari sisi timeline bisa diperpanjang, supaya unit-unit yang menyiapkan acara juga punya waktu lebih panjang dan tidak terlalu dadakan secara teknis,” tambahnya.
Melalui kehadiran UPT PKM UB di Education Expo 2026, Universitas Brawijaya menegaskan bahwa proses pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter mahasiswa yang inklusif, toleran, dan berakar pada nilai kebangsaan.(Din)














