Kanal24, Malang – Di tengah tantangan komunikasi era digital yang serba cepat, kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu keterampilan penting yang wajib dimiliki mahasiswa. Menyadari hal itu, Universitas Brawijaya (UB) melalui Program Dana Abadi menghadirkan sesi pembekalan public speaking bagi para penerima beasiswa atau awardee tahun 2025. Kegiatan ini menghadirkan Aditya Nugroho, News Anchor TV One, sebagai narasumber utama, dengan fokus pada penguatan kemampuan komunikasi efektif bagi generasi muda.
Kegiatan pembekalan ini merupakan bagian dari agenda Welcoming Awardee Dana Abadi 2025, yang diselenggarakan oleh Tim Dana Abadi UB (19/10/2025). Selain menjadi ajang perkenalan penerima beasiswa, kegiatan ini juga menjadi wadah refleksi bagi para penerima lama untuk berbagi pengalaman dan membangun jejaring kolaboratif. Program Dana Abadi UB sendiri kini telah berkembang pesat, dengan nilai dana mencapai sekitar Rp80 miliar dan telah mendukung lebih dari seratus mahasiswa aktif di berbagai fakultas.
Menurut Aditya Nugroho, inisiatif UB untuk menyalurkan beasiswa melalui skema dana abadi merupakan langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan berkualitas. āSaya sangat mengapresiasi program ini. Dana Abadi UB bukan hanya membantu mahasiswa yang membutuhkan, tetapi juga menciptakan pemerataan kesempatan belajar bagi semua kalangan. Ini langkah yang sangat positif dan sejalan dengan program pemerintah dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia,ā ujarnya.
Aditya menekankan bahwa pemberian beasiswa semestinya tidak hanya berhenti pada dukungan finansial, tetapi juga harus diiringi dengan penguatan soft skills. Oleh karena itu, ia membawakan materi tentang efektivitas 3V dalam Public Speaking, yang mencakup aspek verbal, vocal, dan visual.

āPublic speaking itu bukan soal berbicara saja. Tapi bagaimana mahasiswa bisa menyampaikan ide dan gagasan luar biasa yang mereka miliki dengan artikulasi, intonasi, dan gesture yang tepat. Non-verbal seperti ekspresi wajah, postur tubuh, dan kontak mata juga sangat menentukan bagaimana pesan diterima audiens,ā paparnya.
Ia menambahkan, di era media sosial seperti sekarang, kemampuan berbicara juga berkaitan erat dengan kemampuan mengomunikasikan pesan secara etis dan bertanggung jawab. ā
Media sosial adalah pedang bermata dua. Bisa sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijak, tapi bisa juga menimbulkan masalah jika tanpa etika. Karena itu, mahasiswa perlu memahami etika jurnalistik, pedoman penyiaran, dan Undang-Undang ITE. Ini penting agar mereka menjadi komunikator yang cerdas dan beretika,ā tegasnya.
Selain membahas teknik berbicara, Aditya juga menyoroti tantangan generasi muda dalam berkomunikasi. Menurutnya, generasi Z dan milenial cenderung lebih akrab dengan layar gawai ketimbang interaksi langsung.
āMereka pintar dan kreatif, tapi kadang kurang percaya diri untuk berbicara langsung. Akibatnya, kemampuan komunikasi interpersonal mereka menurun, dan ini berpengaruh pada kesehatan mental. Padahal berbicara itu juga bagian dari stress release,ā ungkapnya.
Aditya mendorong para awardee untuk memanfaatkan kemampuan berbicara sebagai sarana membangun pengaruh positif di masyarakat. āMahasiswa UB ini saya yakin pintar-pintar dan punya potensi besar. Mereka bisa jadi content creator, influencer, atau tokoh muda yang membawa inspirasi. Yang penting mereka punya daya juang dan attitude yang kuat. Seribu jalan menuju Roma kalau kita punya niat yang sungguh-sungguh,ā tuturnya.
Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Dana Abadi UB dalam mencetak generasi unggul yang tak hanya berprestasi akademik, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan karakter yang kuat. Melalui dukungan finansial dan pembekalan keterampilan semacam ini, UB menegaskan perannya dalam menyiapkan mahasiswa agar siap berkontribusi nyata bagi bangsa.(Din)














