Kanal24, Malang — Risiko kecelakaan kerja di lingkungan laboratorium sering kali muncul bukan karena ketiadaan fasilitas, melainkan kurangnya kesiapan sumber daya manusia dalam merespons situasi darurat. Di ruang akademik yang sarat aktivitas praktikum dan penelitian, kemampuan membaca potensi bahaya menjadi keterampilan yang tidak lagi bersifat tambahan, tetapi kebutuhan dasar.
Kesadaran tersebut menjadi latar penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Okupasi Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang digelar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya di FKH UB Dieng (26/2/2026). Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama dengan RR Consultant Indonesia dengan pendekatan pembelajaran berbasis praktik langsung di lingkungan kerja nyata.
Berbeda dari pelatihan konvensional, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga menjalani simulasi tanggap darurat, inspeksi fasilitas, serta praktik penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).
Sebagai mitra penyelenggara, Rita Anggreini Rahayu, S.AB., M.AB., menjelaskan bahwa pelatihan dirancang agar peserta memahami keselamatan kerja melalui pengalaman langsung, bukan hanya pengetahuan konseptual.

“Kalau kita punya APAR, kita tidak menunggu kebakaran baru digunakan. Justru latihan itu penting supaya peserta memahami fungsi peralatan dan siap ketika kondisi darurat benar-benar terjadi,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan juga membantu peserta memahami tata letak ruang kerja, standar keamanan fasilitas, hingga kesiapan individu sebagai petugas K3 di lingkungan kerja masing-masing.
Trainer BNSP, Ir. Cahya Ardie Firmansyah, S.ST., M.Tr.T., menambahkan bahwa pelatihan okupasi petugas K3 mencakup sembilan unit kompetensi utama, mulai dari regulasi keselamatan kerja hingga investigasi kecelakaan.

“Peserta belajar menilai potensi bahaya dan bagaimana merespons keadaan darurat agar sistem manajemen K3 dapat diterapkan secara efektif,” jelasnya.
Pendekatan praktik tersebut memberikan pengalaman baru bagi peserta. drh. Widi Nugroho, Ph.D., mengaku pelatihan membantu menyusun kembali pemahaman tentang K3 yang sebelumnya diperoleh secara terpisah.
“Sebelumnya informasi K3 yang kami dapatkan belum tersusun dengan baik. Setelah pelatihan ini, kami lebih memahami prioritas keselamatan kerja dan pentingnya membangun kesadaran di lingkungan kerja,” ungkapnya.

Ia menilai penerapan K3 merupakan proses berkelanjutan yang menuntut adaptasi terhadap perubahan kondisi kerja dan fasilitas.
Melalui kombinasi praktik lapangan dan simulasi tanggap darurat, pelatihan ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya keselamatan kerja yang lebih kuat di lingkungan kampus, sekaligus membekali civitas akademika dengan kemampuan nyata dalam menghadapi situasi risiko.(Din)














