Kanal24, Malang – Bencana banjir tidak hanya merendam rumah dan lahan usaha, tetapi juga mengguncang keberlangsungan pendidikan mahasiswa. Di tengah tekanan ekonomi keluarga yang belum pulih, ancaman terhentinya studi menjadi risiko nyata bagi sebagian mahasiswa. Menyadari kondisi tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) mengambil langkah konkret dengan menyalurkan bantuan dan beasiswa bagi mahasiswa terdampak bencana.
Penyaluran bantuan ini digelar pada Selasa (13/1/2026) , di Ruang 7.1C Gedung C FISIP UB. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara FISIP UB, Lazis Khoiru Ummah, serta unsur kemahasiswaan, sebagai upaya memastikan mahasiswa tetap dapat melanjutkan studi di tengah situasi darurat.
Wakil Dekan III FISIP UB Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan, Dr. Sumi Lestari, S.Psi., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari komitmen dan empati fakultas terhadap mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa bantuan diberikan agar mahasiswa tetap mampu berkonsentrasi belajar dan mengembangkan potensi meskipun berada dalam kondisi yang tidak kondusif.
“Ini adalah bentuk kepedulian, tanggung jawab, dan komitmen kami kepada mahasiswa FISIP agar mereka tetap bisa menjalani proses studi dengan baik,” ujarnya.

Dr. Sumi menjelaskan, hasil penelusuran fakultas menunjukkan mayoritas mahasiswa terdampak mengalami banjir yang berdampak langsung pada ekonomi keluarga. Banyak orang tua mahasiswa menggantungkan penghasilan pada sektor pertanian dan usaha kecil yang hingga kini belum pulih. Kondisi tersebut berimbas pada kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pendidikan, termasuk pembayaran biaya kuliah.
Dari proses pendataan yang dilakukan bersama Badan Eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa, serta Himpunan Mahasiswa Jurusan, tercatat sebanyak 16 mahasiswa FISIP membutuhkan bantuan. Fakultas kemudian menyalurkan beasiswa keringanan UKT, sementara bantuan biaya hidup disalurkan melalui Lazis Khoirul Ummah, baik secara tunai maupun transfer.
Perwakilan Lazis Khoiru Ummah, Imam Pratama Wicaksana, S.Sos., menyampaikan bahwa kolaborasi ini berangkat dari kepedulian bersama terhadap mahasiswa terdampak banjir, khususnya di wilayah Sumatera dan Aceh. Dana bantuan dihimpun dari donasi civitas akademika FISIP UB dan dikolaborasikan dengan dana Lazis.
“Alhamdulillah, terkumpul sekitar delapan juta rupiah dan disalurkan kepada 16 mahasiswa. Masing-masing menerima bantuan biaya hidup sebesar lima ratus ribu rupiah,” jelasnya.
Salah satu penerima bantuan, Haikal Maulana, mahasiswa Psikologi, mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi dua kali berturut-turut membuat usaha orang tuanya terhenti. Keterbatasan akses dan terputusnya konektivitas wilayah memperberat kondisi ekonomi keluarga, terlebih di tengah kewajiban pembayaran UKT.
“Bantuan ini membuat saya merasa kampus benar-benar hadir dan peduli. Ini sangat membantu meringankan beban orang tua dan memberi saya kekuatan untuk tetap melanjutkan kuliah,” tuturnya.
Melalui program ini, FISIP UB menegaskan perannya sebagai ruang aman bagi mahasiswa. Kampus hadir bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai rumah yang menjaga keberlanjutan masa depan generasi muda di tengah ujian bencana.(Din/Ger)














