Kanal24, Malang – Biaya pendidikan di luar negeri semakin menjadi tantangan besar bagi keluarga Indonesia. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya pendidikan global, impian menyekolahkan anak ke universitas luar negeri kini menuntut perencanaan finansial yang jauh lebih matang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, nilai tukar rupiah terhadap mata uang utama dunia, khususnya dolar Amerika Serikat, mengalami tekanan yang cukup signifikan. Kondisi ini membuat biaya pendidikan yang dihitung dalam mata uang asing secara otomatis melonjak ketika dikonversikan ke rupiah. Akibatnya, anggaran yang semula dianggap cukup, kini terasa membengkak tanpa adanya perubahan biaya dari pihak universitas.
Baca juga:
FILKOM UB Luncurkan Launchpad Wirausaha Digital
Kenaikan biaya tersebut tidak hanya berasal dari uang kuliah. Biaya hidup mahasiswa di luar negeri juga ikut meningkat, mulai dari sewa tempat tinggal, transportasi, makanan, hingga kebutuhan sehari-hari. Negara-negara tujuan favorit mahasiswa internasional seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia mengalami peningkatan biaya hidup yang cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan inflasi global dan penyesuaian kebijakan ekonomi masing-masing negara.
Bagi banyak keluarga, kondisi ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, pendidikan luar negeri masih dianggap sebagai investasi jangka panjang yang menjanjikan, baik dari segi kualitas pendidikan maupun peluang karier global. Namun di sisi lain, lonjakan biaya membuat orang tua harus meninjau ulang kemampuan finansial mereka, bahkan tidak sedikit yang terpaksa menunda atau membatalkan rencana studi anaknya ke luar negeri.
Tekanan finansial juga dirasakan oleh mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Banyak di antara mereka harus berhemat lebih ketat, mencari pekerjaan paruh waktu, atau bergantung pada dukungan tambahan dari keluarga di tanah air. Fluktuasi nilai tukar membuat pengiriman dana bulanan menjadi tidak menentu dan sering kali lebih besar dari perkiraan awal.
Fenomena ini tidak hanya dialami oleh Indonesia. Negara-negara berkembang lainnya juga menghadapi tantangan serupa akibat ketergantungan pada mata uang asing untuk membiayai pendidikan internasional. Kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil membuat risiko perubahan biaya menjadi semakin sulit diprediksi.
Para perencana keuangan menilai bahwa situasi ini menjadi pengingat penting bagi keluarga untuk mempersiapkan dana pendidikan sejak dini. Perencanaan tidak lagi cukup hanya dengan menabung, tetapi juga perlu mempertimbangkan strategi jangka panjang yang mampu menghadapi risiko nilai tukar dan inflasi. Selain itu, pemilihan negara tujuan, jenis universitas, hingga peluang beasiswa menjadi faktor krusial yang harus dipertimbangkan secara matang.
Di tengah tantangan tersebut, minat masyarakat terhadap pendidikan luar negeri belum sepenuhnya surut. Banyak orang tua tetap berupaya mencari alternatif, seperti memilih negara dengan biaya hidup lebih terjangkau, program pendidikan yang lebih singkat, atau jalur beasiswa yang kompetitif. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan internasional masih dipandang sebagai peluang penting, meskipun jalannya kini semakin menantang.
Ke depan, dinamika ekonomi global diperkirakan masih akan memengaruhi biaya pendidikan lintas negara. Oleh karena itu, kesiapan finansial, fleksibilitas perencanaan, serta pemahaman yang baik terhadap risiko menjadi kunci agar impian menempuh pendidikan di luar negeri tetap dapat diwujudkan tanpa membebani keluarga secara berlebihan. (ger)













