Kanal24, Malang – Kota tidak lagi bisa dibaca hanya dari peta, angka, atau teori di ruang kelas. Di tengah krisis iklim, perubahan kebijakan yang cepat, dan ketidakpastian sosial yang makin nyata, kota menuntut cara pandang yang lebih adaptif sekaligus lebih adil.
Kesadaran itulah yang dibawa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya dalam kegiatan Bincang Plano: Menavigasi Perencanaan Menuju Keadilan Ruang dan Sosial di Tengah Krisis dan Ketidakpastian, Selasa (10/3/2026), di Gedung Samantha Krida UB. Kegiatan yang digelar Himpunan Mahasiswa Prodi PWK FT UB itu menjadi ruang temu antara gagasan akademik dan pengalaman praksis dalam membaca persoalan perkotaan.
Forum ini menghadirkan Anies Rasyid Baswedan, Ph.D, tokoh nasional yang dikenal sebagai akademisi, pendiri Indonesia Mengajar, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2017ā2022.
Ketua Pelaksana, Muhammad Himyar Hayya, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Tata Ruang Nasional. Menurutnya, mahasiswa PWK perlu mendapatkan ruang belajar yang tidak berhenti pada teori, tetapi juga menyentuh kenyataan kota yang sesungguhnya.
āKadang materi di dalam kelas itu memang sudah sangat baik, tetapi beberapa hal yang ada di realitas tidak diajarkan di kelas. Karena itu perlu ada pemaparan langsung dari orang-orang yang menjadi ujung tombak sebuah perencanaan,ā ujarnya.
Ia menjelaskan, tema āMenavigasi Perencanaan Kota di Era Krisisā dipilih karena tantangan kota hari ini tidak lagi sederhana. Perencana, kata Himyar, berhadapan dengan situasi yang berubah cepat, mulai dari kebijakan yang mendadak hingga krisis iklim yang sulit diprediksi.

āHari ini seseorang bisa saja aman tinggal di suatu kota, tapi besok bisa terancam tinggal di kota tersebut karena perubahan kebijakan yang mendadak ataupun krisis iklim yang tidak pasti,ā katanya.
Karena itu, ia menilai seorang perencana wilayah dan kota harus mampu bergerak adaptif, tetapi tetap memiliki kompas yang jelas: keadilan ruang dan keadilan sosial. Perencanaan, menurutnya, tidak boleh kehilangan tujuan dasarnya, yaitu memastikan kota bekerja untuk manusia.
Bagi panitia, kebermanfaatan acara ini juga diharapkan tidak berhenti pada forum sehari. Himyar menyebut mahasiswa hari ini adalah calon pemimpin masa depan yang perlu memahami sejak dini bagaimana proses perencanaan kota berlangsung dalam kenyataan, dengan seluruh kompleksitasnya.
āSaya berharap para calon pemimpin di masa depan bisa paham lebih awal terkait bagaimana suatu proses perencanaan perkotaan itu pada kenyataannya seperti apa,ā ujarnya.
Ia juga berharap semangat Bincang Plano dapat terus berlanjut dalam bentuk yang mungkin berbeda pada kepengurusan berikutnya. Menurutnya, setiap generasi mahasiswa memiliki cara sendiri dalam menerjemahkan peran ke masyarakat, namun esensinya tetap sama: menghadirkan ruang belajar yang relevan dan berdampak.
Melalui forum ini, mahasiswa PWK FT UB tidak hanya diajak melihat kota sebagai objek kajian, tetapi sebagai ruang hidup yang harus direncanakan dengan kepekaan, keberanian, dan keberpihakan. Di tengah krisis dan ketidakpastian, perencanaan kota bukan sekadar soal teknis. Ia adalah soal arah: kota hendak dibawa ke mana, dan untuk siapa.(Din/Qrn)














