Kanal24, Malang – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) sukses menggelar rangkaian program internasional unggulan bertajuk BISMA (Brawijaya International Student Mobility Award) pada Senin – Jumat, 30 Maret – 3 April 2026. Melalui International Relations Office (IRO) FISIP UB, program ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran mahasiswa biasa, melainkan jembatan krusial dalam memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus memposisikan UB sebagai pionir pendidikan inklusif di kancah global.
Rangkaian acara yang berlangsung dinamis ini diawali dengan diskusi strategis bersama Dekan FISIP UB, Dr. Ahmad Imron Rozuli, S.E., M.S. Dalam pemaparannya di hadapan para peserta, ia menekankan pentingnya mengeliminasi jarak antara dunia akademik dan realitas masyarakat. Menurutnya, program internasional seperti BISMA tidak boleh bersifat eksklusif atau hanya berada di “menara gading”, melainkan harus mampu menyentuh akar rumput dan memberikan dampak ekonomi nyata.
“Fungsi kampus itu akhirnya menjadi jembatan. Material budaya lokal, mulai dari batik hingga layanan jasa di destinasi wisata seperti Night Market Kayutangan, adalah bagian dari produk yang diproduksi masyarakat. Melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam program ini, kesan berjarak itu akan hilang. Jika hal ini dilakukan secara masif oleh kampus-kampus di Malang Raya, dampaknya akan luar biasa bagi pertumbuhan warga sekitar,” jelas Dr. Ahmad Imron. Ia juga menambahkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke Malang Raya yang cukup tinggi harus disinergikan dengan peran kampus sebagai mediator budaya.
Menyelami Filosofi Batik di Soendari Art
Memasuki hari kedua, Kamis (02/04/2026), fokus kegiatan bergeser pada pengalaman sensorik dan budaya melalui kunjungan ke Soendari Batik & Art, Malang. Sebanyak 27 mahasiswa asing yang berasal dari berbagai kawasanāmulai dari Afrika Utara (Mesir), Afrika Timur (Sudan, Sudan Selatan, Somalia), Afrika Barat (Gambia), hingga Asia (Pakistan, India, Filipina, dan Vietnam)ādiajak terjun langsung untuk belajar teknik membatik yang benar.
Di bawah bimbingan instruktur berpengalaman, Sugik, para peserta lintas jenjang pendidikan mulai dari sarjana (S1) hingga doktoral (S3) ini tidak hanya diajarkan cara memegang canting, tetapi juga filosofi di balik setiap goresan malam. Pak Sugik menyampaikan apresiasinya atas antusiasme mahasiswa internasional tersebut dalam melestarikan budaya Indonesia.

“Kami sangat senang melihat generasi muda, terutama dari luar negeri, ikut melestarikan budaya kita. Sangat penting menyampaikan kriteria batik yang benar secara teknis agar identitas budaya kita tetap terjaga. Harapannya, ketika mereka kembali ke negara masing-masing, mereka tahu apa itu batik yang sesungguhnya dan menjadi duta budaya kita di sana. Jangan sampai ada karya yang bukan batik tapi disebut batik di luar sana; ini tugas kita untuk membetulkan pemahaman tersebut,” ungkap Pak Sugik dengan bangga.
Testimoni Mahasiswa: Dari Culture Shock ke Adaptasi
Pengalaman ini memberikan kesan emosional yang mendalam bagi para peserta. Salah satunya adalah James George, mahasiswa asal Tanzania, Afrika Timur. James mengaku bahwa mengikuti program BISMA selama beberapa hari terakhir telah mengubah pandangannya tentang Indonesia secara signifikan. Bagi James, Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya yang tak terbatas.

“Saya memberikan nilai 100/100 untuk budaya Indonesia. Saya belajar sesuatu yang baru setiap hari, mulai dari membatik hingga nilai-nilai kesantunan. Awalnya saya sempat mengalami sedikit culture shock, seperti cara orang Indonesia yang sangat menghormati orang lain, misalnya dengan membungkukkan badan sedikit saat lewat di depan orang. Di negara saya tidak ada yang seperti itu. Namun sekarang saya sudah terbiasa dan bahkan mulai mempraktikkannya sendiri. Ini adalah nilai luhur yang akan saya bawa pulang,” ujar James dengan penuh semangat.
Visi Pendidikan Inklusif dan Berkelanjutan
Ketua IRO FISIP UB, Yuyun Agus Riani, S.Pd., M.Sc., Ph.D., didampingi Sekretaris IRO, Dewa Ayu Putu Eva Wishanti, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa BISMA Inbound bukan sekadar kunjungan wisata singkat. Program ini dirancang untuk mendukung Sustainability Development Goals (SDGs), khususnya pada poin pendidikan inklusif, kesetaraan (equity), dan kemitraan global.
Selain mengenal Tari Bapang dan bahasa lokal, para peserta juga diajak mengunjungi Center of Disability Studies (PLD UB). Kunjungan ini bertujuan menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Universitas Brawijaya adalah kampus yang ramah disabilitas dan menjunjung tinggi inclusive education. Peserta diberikan kesempatan tanya jawab langsung dengan pihak pusat layanan disabilitas untuk memahami bagaimana sistem pendukung bagi mahasiswa berkebutuhan khusus dijalankan.
“Kami ingin menunjukkan kepada mitra internasional bahwa UB memiliki layanan pendidikan tinggi yang inklusif. Output-nya jelas: penguatan kurikulum, pengembangan riset, dan networking global yang semakin luas. Melalui jejaring ini, kami berharap para peserta yang sekarang ikut program pendek, ke depannya tertarik untuk kembali ke UB guna menempuh studi lanjut di jenjang Magister maupun Doktor,” tambah Yuyun.
Harapan Masa Depan
Program yang didukung penuh oleh jajaran rektorat Universitas Brawijaya dan dekanat FISIP UB ini diharapkan terus berkembang dengan tema yang lebih spesifik dan sasarannya lebih terproyeksi. Ke depannya, FISIP UB berencana memperluas kemitraan tidak hanya antar kampus luar negeri, tetapi juga dengan industri kreatif seperti Workshop Batik Soendari, hingga pemerintah daerah di Malang Raya dan Jawa Timur.
Dengan suksesnya BISMA 2026, FISIP UB membuktikan bahwa internasionalisasi kampus tidak harus meninggalkan akar budaya lokal. Sebaliknya, keunikan lokalitas inilah yang menjadi daya tarik utama bagi dunia internasional untuk datang, belajar, dan berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya. (nid/rin)














