Kanal24, Malang – Inovasi teknologi kesehatan kembali lahir dari mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Empat mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB berhasil meraih juara kedua (runner up) dalam ajang International Student Competition 2026 yang diselenggarakan oleh CEM UPM Malaysia melalui inovasi alat pendeteksi dini kanker payudara berbasis teknologi termal dan kecerdasan buatan.
Keempat mahasiswa tersebut adalah Dastino Putra Rendy Lovind dan Anggie Fadillah Dwiva (Teknik Bioproses) serta Livy Noer Azizah dan Rifda Alfia Safina (Ilmu dan Teknologi Pangan). Mereka mengembangkan inovasi bernama BUDDY (breast urgency detection device with thermography), sebuah sistem deteksi dini kanker payudara yang memanfaatkan kamera termal dan aplikasi ponsel.
“Ide yang kami usung bernama BUDDY (breast urgency detection device with thermography), merupakan sistem deteksi dini kanker payudara yang mengutilisasi kamera termal. Sistem ini dapat dijalankan melalui aplikasi di ponsel, dan dapat memberikan hasil secara cepat dalam 5-10 detik,” jelas Dastino.
Gagasan inovasi ini berangkat dari kepekaan tim terhadap tingginya prevalensi kanker payudara serta tantangan dalam proses deteksi dini. Metode pemeriksaan yang umum digunakan seperti SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis) dinilai masih memiliki keterbatasan, mulai dari rasa tidak nyaman hingga rendahnya tingkat edukasi masyarakat dalam melakukan deteksi mandiri.
Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa UB mencoba menghadirkan alternatif pemeriksaan yang lebih praktis dan dapat dilakukan secara mandiri di rumah.
Dastino menjelaskan bahwa cara kerja aplikasi ini relatif sederhana. Pengguna terlebih dahulu diminta mengisi survei, kemudian dilakukan pemotretan menggunakan kamera termal dengan jarak sekitar 60 sentimeter secara horizontal dari payudara. Data yang dihasilkan kemudian dikirim ke sistem BUDDY melalui server hosting untuk diproses lebih lanjut.
Selanjutnya, sistem kecerdasan buatan (AI) yang telah dilatih menggunakan ribuan foto sampel dari DMR, anotasi roboflow, serta AI YOLO v8 akan menganalisis data tersebut dan menampilkan hasil deteksi. Sistem ini mampu mengidentifikasi lokasi, ukuran, hingga jenis stadium kanker payudara.
“Secara garis besar, aplikasi ini dibagi menjadi dua bagian yakni mata untuk melihat ide adalah kamera termal, lalu otaknya adalah perangkat lunak. Aplikasi ini juga disertai AI yang telah dilatih,” tambah Dastino.
Di balik keberhasilan meraih penghargaan internasional tersebut, perjalanan tim mahasiswa UB tidak selalu mudah. Dastino mengungkapkan bahwa mereka sempat menghadapi kendala dalam menutupi biaya registrasi sebagai finalis kompetisi.
“Agar mahasiswa berani untuk mengikuti lomba international, kami berharap pihak kampus dapat memberikan bantuan lebih banyak khususnya di bagian dana,” tutur Dastino.
Meski demikian, dukungan dari fakultas dan kerja keras tim akhirnya membawa mereka berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional. Dastino juga mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai kompetisi nasional maupun internasional.
Ia berpesan, jangan takut mencoba segala macam lomba nasional/internasional, satu-satunya kemenangan hanya dapat dicapai lewat keberanian mencoba terlebih dahulu.
Ke depan, tim berharap inovasi BUDDY tidak berhenti pada tahap kompetisi semata, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut hingga tahap komersialisasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam upaya deteksi dini kanker payudara.
Teknologi BUDDY sendiri telah didaftarkan hak patennya dengan nomor EC00202467457 dengan tanggal permohonan 18 Juli 2024.(din/Ho UB)














