Kanal24, Malang – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-65 Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB), semangat inovasi dan kemandirian di sektor pertanian menjadi sorotan utama. Acara yang digelar di Gedung Samanta Krida, Universitas Brawijaya, Malang, ini menghadirkan sejumlah pakar dan praktisi untuk berbagi pengalaman serta gagasan tentang arah masa depan pertanian Indonesia.
Salah satu narasumber yang menarik perhatian peserta adalah Kepala Perum Bulog Subdivre Malang, M. Nurjuliansyah Rachman, yang memaparkan pentingnya prinsip pertanian berkelanjutan berbasis teknologi dan kolaborasi lintas sektor. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda talkshow dalam rangkaian peringatan Dies Natalis FP UB yang berlangsung pada Selasa (04/11/2025)
Dalam paparannya, Nurjuliansyah menegaskan bahwa isu keberlanjutan kini telah menjadi fokus global dan menjadi indikator penting dalam pengembangan sistem pertanian modern. āPrinsip berkelanjutan saat ini sudah menjadi isu internasional, bahkan menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Oleh karena itu, kami di Bulog berkomitmen untuk menerapkannya secara nyata, mulai dari hulu hingga hilir,ā ujarnya di hadapan peserta talkshow yang didominasi mahasiswa dan akademisi.
Baca juga:
Mahasiswa UB Angkat Isu Legislasi Lewat Legislative Summit Festival

Dari Hulu ke Hilir Pertanian
Sebagai salah satu badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional, Bulog berfokus pada penyediaan dan distribusi bahan pangan dan juga mulai bertransformasi dalam sistem budidaya pertanian. Nurjuliansyah menjelaskan bahwa pihaknya telah menerapkan tiga pendekatan utama dalam pertanian modern, yakni Precision Agriculture, Smart Farming, dan Low Carbon Agriculture.
Melalui pendekatan Precision Agriculture, Bulog berupaya mengoptimalkan penggunaan lahan dan sumber daya pertanian secara efisien dengan memanfaatkan data cuaca, kondisi tanah, dan kebutuhan tanaman. Sedangkan Smart Farming diterapkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi digital serta sistem pemantauan berbasis sensor dan aplikasi. Sementara itu, pendekatan Low Carbon Agriculture diarahkan untuk mengurangi emisi karbon melalui praktik pertanian ramah lingkungan, seperti efisiensi penggunaan pupuk dan pengelolaan limbah organik.
āKetiga model pertanian tersebut sudah kami terapkan di beberapa wilayah Indonesia dalam bentuk proyek percontohan. Jika hasilnya terbukti efektif, kami akan memperluasnya ke daerah lain yang memiliki potensi pertanian serupa,ā jelasnya.
Kolaborasi Digital untuk Ekosistem Agribisnis
Lebih lanjut, Nurjuliansyah mengungkapkan bahwa transformasi pertanian berkelanjutan tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan teknologi dan sinergi antar lembaga. Oleh karena itu, Bulog telah menggandeng sejumlah mitra strategis, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Brawijaya (UB), untuk mengembangkan aplikasi digital pemantau hasil pertanian.
Aplikasi ini dirancang untuk membantu petani dalam memantau perkembangan tanaman dari waktu ke waktu, menganalisis potensi panen, serta menghubungkan data hasil produksi dengan pasar dan lembaga pendukung lainnya. āKami bekerja sama dengan IPB dan juga UB untuk mengembangkan aplikasi digital pertanian. Melalui aplikasi ini, petani dapat memantau hasil pertanian mereka secara real-time dan memperoleh informasi yang akurat untuk pengambilan keputusan,ā tutur Nurjuliansyah.
Selain teknologi digital, Bulog juga mendorong kolaborasi lintas sektor dengan menggandeng berbagai BUMN lain seperti Pupuk Indonesia, dalam upaya menciptakan ekosistem agribisnis yang berkelanjutan. Kolaborasi tersebut mencakup pengelolaan sumber daya pertanian, pengendalian input seperti pupuk, serta distribusi hasil panen agar rantai pasok pangan nasional berjalan lebih efisien. āKami ini tangan panjang pemerintah. Karena itu, kami bersinergi dengan BUMN lain untuk mewujudkan ekosistem pertanian yang berdaya saing dan berkelanjutan,ā tambahnya.
Pertanian Adaptif dan Ramah Lingkungan
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Bulog berharap mampu menjadi bagian dari upaya besar pemerintah dan perguruan tinggi dalam membangun pertanian modern yang adaptif terhadap perubahan iklim dan tantangan global. Nurjuliansyah menilai bahwa masa depan pertanian Indonesia harus diarahkan pada sistem yang mengandalkan peningkatan produksi dan juga memperhatikan aspek keberlanjutan, efisiensi energi, dan kesejahteraan petani.
āHarapan kami, praktik pertanian berkelanjutan ini bisa menjadi standar baru di Indonesia. Jika kita ingin sektor pertanian tetap relevan di masa depan, maka kita harus beradaptasi dengan teknologi dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan,ā tegasnya.
Penerapan prinsip pertanian rendah karbon diharapkan mampu menekan dampak lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi ekonomi bagi petani. Dengan dukungan akademisi, pemerintah, dan sektor industri, Nurjuliansyah optimistis bahwa model pertanian kolaboratif ini akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Melalui keterlibatan aktif Bulog dalam kegiatan akademik seperti Dies Natalis Fakultas Pertanian UB, sinergi antara dunia pendidikan dan dunia industri semakin terbuka lebar. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata bahwa kemajuan pertanian Indonesia hanya dapat dicapai melalui kerja bersama, riset terapan, dan inovasi yang berkelanjutan. (nid/pgh)














