Kanal24, Malang – Perum Bulog menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional pada 2026 dengan target penyerapan 4 juta ton beras dari petani dalam negeri. Target ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi bagian dari penugasan pemerintah yang lebih besar kepada Bulog untuk menjaga ketersediaan serta stabilitas harga pangan pokok di tingkat nasional.
Kebijakan tersebut dibahas dalam agenda konsolidasi internal Bulog bersama seluruh jajaran wilayah, yang menjadi forum evaluasi kinerja sekaligus penyusunan peta jalan penugasan tahun depan. Dalam forum tersebut, manajemen Bulog menegaskan bahwa peningkatan target serapan beras merupakan respons atas kebutuhan cadangan beras pemerintah yang semakin krusial di tengah tantangan iklim, dinamika produksi, serta fluktuasi harga pangan global.
Direktur Utama Bulog menyampaikan bahwa capaian penyerapan beras pada tahun berjalan menunjukkan tren positif dan menjadi modal penting untuk melangkah ke target yang lebih ambisius pada 2026. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi antara Bulog, pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan petani di berbagai sentra produksi beras nasional.
Baca juga:
Kampung Nelayan Diperluas untuk Perkuat Pangan Nasional
Penguatan Cadangan Beras Pemerintah
Target serapan 4 juta ton beras difokuskan untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang berfungsi sebagai instrumen utama stabilisasi pasokan dan harga pangan. CBP memiliki peran strategis dalam menghadapi kondisi darurat, bencana alam, maupun gejolak harga yang berpotensi membebani masyarakat.
Selain beras, Bulog juga menyiapkan target penyerapan komoditas pangan lain, seperti jagung dan kedelai, guna mendukung diversifikasi cadangan pangan nasional. Penugasan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan sekaligus memberi kepastian pasar bagi petani, khususnya pada saat panen raya.
Manajemen Bulog menilai bahwa peningkatan penugasan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Oleh karena itu, seluruh lini Bulog diminta untuk memperkuat kesiapan gudang, sistem logistik, serta koordinasi dengan mitra di daerah.
Strategi SPHP dan Distribusi Merata
Dalam rangka menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, Bulog tetap mengandalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Pada 2026, penyaluran beras SPHP direncanakan berlangsung sepanjang tahun dengan volume signifikan agar intervensi pasar dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
Program SPHP dinilai efektif dalam menekan lonjakan harga beras, terutama saat pasokan di pasar mengalami gangguan. Selain beras, Bulog juga menyiapkan penyaluran komoditas lain melalui skema serupa, termasuk jagung, sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi pangan.
Distribusi yang merata hingga ke daerah terpencil menjadi perhatian utama. Untuk itu, Bulog terus memperkuat jaringan distribusi dan kerja sama dengan pemerintah daerah, aparat kewilayahan, serta pelaku usaha logistik agar pasokan pangan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Antisipasi Tantangan Produksi dan Iklim
Target penyerapan beras 4 juta ton pada 2026 tidak terlepas dari tantangan produksi, terutama akibat perubahan iklim yang berdampak pada pola tanam dan hasil panen. Bulog menegaskan bahwa berbagai langkah antisipatif telah disiapkan, termasuk penyesuaian waktu penyerapan dan koordinasi intensif dengan kementerian terkait.
Dukungan pemerintah dalam bentuk program peningkatan produksi, perbaikan irigasi, serta pemulihan lahan pertanian pascabencana diharapkan mampu menjaga ketersediaan beras petani. Dengan demikian, target penyerapan tetap realistis dan dapat dicapai tanpa mengganggu keseimbangan pasokan di pasar.
Optimisme juga datang dari keyakinan bahwa produksi beras nasional akan tetap berada pada level yang memadai, sehingga penyerapan oleh Bulog tidak hanya memperkuat cadangan, tetapi juga mendorong stabilitas harga di tingkat petani.
Sinergi Lintas Sektor
Untuk mencapai target besar tersebut, Bulog menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Keterlibatan pemerintah daerah, aparat kewilayahan, penyuluh pertanian, hingga pelaku usaha pangan menjadi kunci keberhasilan penugasan 2026.
Sinergi ini diharapkan mampu memastikan proses penyerapan berjalan lancar, mulai dari tingkat petani hingga penyimpanan di gudang Bulog. Selain itu, koordinasi yang solid juga diperlukan dalam penyaluran cadangan beras agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Dengan strategi penugasan yang lebih besar, penguatan cadangan, serta kolaborasi lintas sektor, Bulog optimistis dapat menjalankan perannya sebagai penopang utama ketahanan pangan nasional. Target penyerapan 4 juta ton beras pada 2026 diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan Indonesia dalam jangka panjang. (nid)














