Kanal24, Malang – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) menorehkan capaian bersejarah sepanjang 2025 dengan menyerap gabah petani dalam jumlah tertinggi sejak lembaga tersebut berdiri. Total serapan gabah kering panen (GKP) mencapai sekitar 4,5 juta ton, menjadikan tahun 2025 sebagai tonggak penting dalam upaya penguatan ketahanan pangan nasional sekaligus perlindungan terhadap kesejahteraan petani.
Direktur Utama Bulog menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari penugasan pemerintah yang dijalankan secara intensif dan terkoordinasi di berbagai daerah sentra produksi padi. Dari total gabah yang diserap, sebagian besar dikonversi menjadi beras untuk memperkuat cadangan beras pemerintah, sementara sisanya disimpan dalam bentuk gabah guna menjaga fleksibilitas pengelolaan stok.
Baca juga:
Pasar Modal 2025: Lonjakan Investor, Ujian Kedalaman Pasar
Keberhasilan serapan ini tidak hanya mencerminkan kinerja Bulog, tetapi juga menunjukkan meningkatnya produksi padi nasional sepanjang 2025. Kondisi iklim yang relatif mendukung, ketersediaan sarana produksi, serta perbaikan sistem distribusi pascapanen dinilai berkontribusi besar terhadap kelancaran penyerapan hasil panen petani.
Penyerapan gabah dalam jumlah besar tersebut memiliki dampak langsung terhadap stabilitas harga di tingkat petani. Dengan kehadiran Bulog sebagai pembeli siaga, petani memperoleh kepastian pasar dan harga yang lebih terjamin, terutama saat masa panen raya ketika harga berpotensi mengalami penurunan. Kebijakan ini sekaligus menjadi instrumen penting pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.
Selain memperkuat stok nasional, cadangan beras hasil serapan 2025 juga dimanfaatkan untuk berbagai program pemerintah. Di antaranya adalah penyaluran bantuan pangan bagi masyarakat rentan serta program stabilisasi pasokan dan harga pangan di pasar. Melalui langkah tersebut, Bulog berperan aktif menekan gejolak harga beras dan memastikan ketersediaan pangan pokok tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi dan global.
Pada akhir 2025, posisi cadangan beras pemerintah tercatat berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memberikan ruang fiskal dan kebijakan yang lebih kuat bagi pemerintah untuk menghadapi potensi gangguan pasokan, baik akibat cuaca ekstrem maupun ketidakpastian pasar internasional.
Menatap 2026, Bulog menegaskan komitmennya untuk melanjutkan strategi penyerapan gabah dan beras dengan target yang tetap ambisius. Peningkatan kapasitas gudang, penguatan infrastruktur pascapanen, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah dan kelompok tani menjadi fokus utama agar keberhasilan 2025 dapat dipertahankan dan ditingkatkan.
Capaian rekor serapan gabah sepanjang 2025 ini menegaskan peran strategis Bulog sebagai penopang utama sistem pangan nasional. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha, ketahanan pangan Indonesia diharapkan semakin kokoh sekaligus mampu menjawab tantangan di masa mendatang. (nid)














