Kanal24, Malang – Maraknya penggunaan internet dan media sosial di kalangan anak-anak menghadirkan tantangan baru dalam upaya perlindungan terhadap kelompok rentan tersebut. Di balik kemudahan akses informasi dan komunikasi, tersimpan ancaman serius berupa child grooming, sebuah bentuk kejahatan yang kerap berlangsung secara tersembunyi dan sulit terdeteksi. Fenomena ini menjadi perhatian berbagai pihak karena dampaknya yang mendalam terhadap kondisi psikologis dan masa depan anak.
Fenomena Child Grooming yang Kerap Tak Disadari
Child grooming merupakan proses manipulasi yang dilakukan pelaku untuk membangun kedekatan emosional dengan anak, baik secara langsung maupun melalui media digital, dengan tujuan mengeksploitasi korban. Proses ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan yang tampak wajar, seperti memberikan perhatian berlebih, pujian, atau hadiah, hingga akhirnya membentuk ketergantungan emosional pada anak.
Baca juga:
Anak Bukan Proyek dan Target Ambisi Orang Tua
Dalam banyak kasus, pelaku tidak selalu merupakan orang asing. Mereka bisa berasal dari lingkungan terdekat anak atau sosok yang telah dikenal sebelumnya. Kondisi ini membuat child grooming semakin berbahaya karena sering kali luput dari kewaspadaan orang tua dan lingkungan sekitar.
Modus Operandi di Era Digital
Perkembangan teknologi digital memperluas ruang gerak pelaku child grooming. Media sosial, aplikasi pesan instan, hingga permainan daring menjadi sarana yang kerap dimanfaatkan untuk mendekati korban. Pelaku biasanya memulai interaksi dengan topik ringan yang diminati anak, kemudian perlahan membangun rasa percaya.
Setelah kedekatan terjalin, pelaku mulai mendorong anak untuk merahasiakan komunikasi mereka, menjauhkan korban dari pengawasan orang tua, hingga menormalisasi perilaku yang tidak pantas. Pada tahap lanjut, korban dapat diarahkan pada eksploitasi seksual, baik secara langsung maupun melalui konten digital.
Dampak Psikologis Jangka Panjang
Dampak child grooming tidak hanya berhenti pada saat kejadian berlangsung. Anak yang menjadi korban berisiko mengalami trauma psikologis jangka panjang, seperti kecemasan berlebih, depresi, rasa bersalah, hingga kehilangan kepercayaan diri. Tidak sedikit korban yang mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial sehat ketika beranjak dewasa.
Selain itu, tekanan emosional yang dialami korban juga dapat memengaruhi prestasi akademik dan keseharian anak. Dalam beberapa kasus, korban memilih menutup diri dan enggan menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya karena takut, malu, atau merasa terancam.
Tantangan Deteksi dan Penanganan
Salah satu tantangan terbesar dalam kasus child grooming adalah sulitnya deteksi dini. Pelaku kerap menampilkan citra yang ramah dan suportif, sehingga perilaku mencurigakan sering dianggap sebagai bentuk perhatian biasa. Di sisi lain, anak belum memiliki pemahaman yang cukup untuk mengenali batasan hubungan yang sehat.
Minimnya literasi digital dan seksual juga memperparah kondisi ini. Tanpa pemahaman yang memadai, anak rentan terjebak dalam situasi berbahaya tanpa menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Pentingnya Peran Orang Tua dan Lingkungan
Upaya pencegahan child grooming membutuhkan keterlibatan aktif orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar anak. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci utama agar anak merasa aman untuk bercerita tentang pengalaman yang membuatnya tidak nyaman.
Pengawasan aktivitas digital juga perlu dilakukan secara bijak, bukan dengan pendekatan represif, melainkan edukatif. Anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan privasi, risiko berinteraksi dengan orang asing, serta keberanian untuk mengatakan tidak dan melapor apabila merasa terancam.
Kesadaran Kolektif untuk Melindungi Anak
Child grooming merupakan ancaman nyata yang menuntut kesadaran kolektif masyarakat. Pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan keluarga, tetapi juga membutuhkan dukungan lembaga pendidikan, komunitas, dan kebijakan yang berpihak pada perlindungan anak.
Dengan meningkatkan literasi digital, memperkuat komunikasi keluarga, serta membangun sistem perlindungan yang responsif, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bebas dari eksploitasi. Keselamatan anak bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan kewajiban bersama demi masa depan generasi penerus bangsa. (nid)













