Kanal24, Malang – Semangat berbagi dan gotong royong mengemuka dalam program donasi dana abadi yang digelar bersamaan dengan prosesi wisuda Universitas Brawijaya (UB) pada Sabtu (31/01/2026). Sejumlah wisudawan dan orang tua menyampaikan alasan serta harapan mereka melalui partisipasi dalam program tersebut, sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan pendidikan mahasiswa UB di masa depan.
Salah satu wisudawan, Fatin Atikah Sucipto, S.Psi, mengungkapkan bahwa dorongan untuk berdonasi lahir dari keinginan sederhana sekaligus nilai empati yang ingin ia tanamkan. Hal itu ia sampaikan saat ditemui dalam rangkaian Wisuda Universitas Brawijaya, yang dilaksanakan hari ini di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Malang, dan digelar oleh Universitas Brawijaya.
Baca juga:
Dewan Profesor UB, Mengakselerasi Riset dari Publikasi Berdampak

Dorongan Personal dan Kepedulian Sosial
Fatin menuturkan bahwa keikutsertaannya dalam program donasi dana abadi memiliki alasan personal sekaligus sosial. āPertama karena ingin foto di box donasi ini. Kedua karena memang ingin membantu yang lain juga,ā ujarnya. Menurutnya, kesempatan wisuda tidak hanya menjadi penanda akhir masa studi, tetapi juga momentum untuk berbagi kepada sesama mahasiswa.
Ia berharap donasi yang diberikan dapat memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa UB yang membutuhkan bantuan finansial. āHarapan aku semoga bisa berguna buat mahasiswa yang lainnya yang membutuhkan,ā kata Fatin, menegaskan makna berbagi sebagai bagian dari perjalanan akademik.
Dana Abadi Dorong Prestasi Mahasiswa
Pandangan serupa disampaikan oleh Siska dan Kris, orang tua wisudawan yang turut mendukung program dana abadi. Kris menjelaskan bahwa dalam prosesi wisuda terdapat penyerahan beasiswa yang menunjukkan peran penting dana abadi bagi mahasiswa berprestasi. āDengan adanya dana abadi ini bisa membantu para mahasiswa yang berprestasi dalam segi biaya. Prestasi tersebut juga akan mendorong mereka semakin giat untuk menyelesaikan kuliahnya,ā ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kontribusi dana abadi juga merupakan bagian dari upaya menyukseskan pendidikan Indonesia agar terus maju. Menurutnya, keberlanjutan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dukungan kolektif berbagai pihak, termasuk alumni dan orang tua mahasiswa.

Harapan Orang Tua untuk Masa Depan Alumni
Sebagai orang tua, Siska dan Kris menaruh harapan besar terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak UB setelah lulus. Kris berharap anaknya dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya dan mendapatkan dukungan dari jejaring alumni. āDengan adanya dana abadi ini juga ada perhatian dari alumni-alumni Universitas Brawijaya. Ada siklus untuk saling membantu, dari alumninya yang sudah di top manager bisa mengangkat adiknya yang baru lulus,ā ungkapnya.
Siska menambahkan bahwa partisipasi dalam donasi juga menjadi sarana pembelajaran empati bagi keluarga. Menurutnya, empati dapat diajarkan secara sederhana melalui tindakan nyata yang berkaitan langsung dengan pendidikan.
Gotong Royong sebagai Fondasi Pendidikan
Baik Fatin maupun Siska dan Kris sepakat bahwa budaya berbagi dan gotong royong memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan pendidikan. Fatin menilai, mahasiswa dengan kondisi ekonomi yang lebih baik memiliki peran strategis untuk membantu rekan-rekannya yang membutuhkan.
Sementara itu, Kris menegaskan bahwa gotong royong merupakan akar budaya bangsa Indonesia yang harus terus dijaga. āDengan gotong royong dan kerja sama, masalah yang dihadapi bangsa bisa dicari solusinya. Nilai empati, saling membantu, dan kerja sama yang diwariskan leluhur harus terus dilestarikan,ā pungkasnya. (nid)














