Kanal24, Pasuruan – Di tengah perubahan lanskap pertanian yang semakin kompleks, petani tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan budidaya. Tantangan hari ini bergerak lebih luas—dari efisiensi produksi, perubahan iklim, hingga kemampuan membaca pasar yang kini bergeser ke ranah digital.
Di sisi lain, potensi lokal tetap besar. Komoditas seperti apel di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, memiliki nilai ekonomi yang kuat. Namun tanpa inovasi dan pendampingan yang berkelanjutan, potensi tersebut berisiko stagnan, bahkan tertinggal.
Di titik inilah peran perguruan tinggi menjadi penting. Bukan sekadar sebagai pusat ilmu, tetapi sebagai penghubung antara pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan nyata di lapangan.
Universitas Brawijaya (UB) terus menunjukkan komitmen tersebut melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Doktor Mengabdi (DM) yang berlangsung selama enam bulan, mulai Juni hingga Desember 2025, di berbagai wilayah pengabdian.
Salah satu program yang dijalankan adalah pendampingan petani apel di Kecamatan Tutur melalui tema “Trilogi Apel Tutur: Budidaya Modern, Diversifikasi Produk, dan Pemasaran Digital.”

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB yang diketuai oleh Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., bersama Dr. Nurul Badriyah, S.E., M.E., Dr. Kurniawan Sigit Wicaksono, S.P., M.Sc., Mokhamad Nur, S.T.P., M.Sc., Ph.D., serta Mochamad Chazienul Ulum, S.Sos., MPA., M.AP.
Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas petani, mulai dari aspek produksi hingga pemasaran. Kegiatan diawali dengan brainstorming bersama kelompok tani guna memetakan potensi dan permasalahan yang dihadapi di lapangan.
Pada tahap budidaya, tim UB memperkenalkan teknologi modern seperti fertigasi dan chemigasi. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sekaligus menekan risiko serangan hama.
Menurut Dr. Nurul Badriyah, pendekatan ini juga diarahkan pada praktik yang lebih berkelanjutan.
“Pelatihan ini kami rancang agar petani mampu memanfaatkan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan untuk menekan biaya produksi,” ujarnya menjelaskan.
Setelah penguatan pada aspek produksi, program berlanjut pada diversifikasi produk. Petani dilatih mengolah apel menjadi berbagai produk turunan, seperti keripik, jus, selai, cuka, hingga tepung apel.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah foam mat drying, yang menghasilkan bubuk apel dengan kualitas tinggi dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari makanan hingga bahan kosmetik alami.
Melihat perkembangan pasar, peluang produk turunan apel dinilai semakin terbuka, terutama di platform digital.
“Permintaan cuka dan bubuk apel cukup tinggi, terutama di platform seperti TikTok Shop, karena dianggap bermanfaat untuk kesehatan. Ini peluang besar bagi petani,” ungkap Dr. Kurniawan Sigit Wicaksono.

Ketua tim, Prof. Setyo Tri Wahyudi, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keberlanjutan.
“Dengan begitu, petani bisa tetap berproduksi sambil menyiapkan diri menuju sertifikasi organik,” terangnya.
Program ini juga melibatkan kolaborasi antara UB, LP2NU Kabupaten Pasuruan, serta kelompok tani di Kecamatan Tutur. Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan sistem pertanian yang berkelanjutan.
Melalui pendampingan tersebut, petani diperkenalkan pada tahapan pertanian organik, mulai dari konversi lahan hingga penggunaan pupuk alami. Selain itu, program ini mendorong peningkatan nilai ekonomi melalui pengembangan produk olahan dengan merek lokal.
Ke depan, pendampingan akan difokuskan pada penghitungan harga pokok produksi (HPP), penguatan branding, serta perluasan pemasaran melalui marketplace.
Dengan pendekatan ini, Kecamatan Tutur diharapkan tidak hanya dikenal sebagai sentra apel segar, tetapi juga sebagai pusat inovasi produk apel olahan organik di Jawa Timur.
Program Doktor Mengabdi ini menjadi gambaran bagaimana pemberdayaan berbasis ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat. Dari kebun hingga pasar digital, transformasi pertanian kini tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan.(Din)













