Kanal24, Malang – Tiap makanan yang tersaji di meja makan melewati proses panjang sebelum akhirnya tersaji di hadapan kita. Setiap tahapnya membawa dampak bagi iklim, bahkan hingga sisa makanan yang tertinggal di ujung piring. Seiring meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, tren diet kini kian populer. Beragam metode diet dicoba masyarakat demi menurunkan berat badan dan mengurangi risiko penyakit akibat obesitas. Bagi penderita obesitas, salah satu pendekatan yang sering dianjurkan adalah diet defisit kalori ā yakni dengan mengurangi konsumsi agar kalori yang masuk lebih rendah daripada kebutuhan tubuh.
Situasi itu āmemaksaā tubuh membakar kalori dari cadangan lemak, bukan dari makanan baru yang dikonsumsi. Dalam jangka waktu tertentu, lemak dalam tubuh berkurang, berat badan menurun, dan risiko penyakit turut menurun. Motivasi utama menjalankan diet tentu demi kesehatan, tetapi sejatinya, manfaat diet tidak berhenti pada tubuh manusia. Pola makan yang lebih bijak ternyata juga memberi dampak positif bagi bumi. Meski terdengar tak berkaitan, membatasi jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi sebenarnya membantu menekan laju pemanasan global yang mengancam umat manusia.

Bagaimana Makanan Turut Mengubah Iklim
Setiap makanan yang kita beli memiliki āharga tersembunyiā di luar nilai rupiah pada daftar menu. Di baliknya, terdapat biaya lingkungan berupa emisi gas rumah kaca (GRK) yang timbul selama proses produksi, mulai dari penanaman bahan baku hingga distribusi. Menurut Basis Data Emisi untuk Penelitian Atmosfer Global Uni Eropa (EDGAR), sekitar sepertiga dari total emisi GRK dunia berasal dari sistem produksi makanan.
Makanan di meja makan kita tidak hadir begitu saja, melainkan melewati rantai panjang produksi: mulai dari pembukaan lahan, penggunaan pupuk kimia, proses pengolahan, hingga transportasi yang semuanya menghasilkan emisi.
Ambil contoh sederhana: untuk menghasilkan sebungkus mi instan, dibutuhkan ladang gandum, pupuk kimiawi, energi listrik, serta bahan bakar untuk pengiriman. Setelah panen, gandum diolah menjadi tepung terigu, lalu menjadi mi yang dikukus, digoreng, dan dikemas ā seluruhnya membutuhkan energi dalam jumlah besar. Bayangkan proses itu dilakukan secara massal untuk memberi makan 8,2 miliar manusia di bumi. Berapa banyak lahan subur yang terpakai? Berapa liter BBM yang dibutuhkan untuk menggerakkan sistem pangan global ini?
Lebih jauh, penelitian Joseph Poore dan Thomas Nemecek (2018) di Jurnal Science menunjukkan bahwa bahan makanan hewani menghasilkan emisi jauh lebih tinggi dibanding bahan nabati. Untuk menghasilkan satu kilogram daging sapi saja, proses produksinya menimbulkan emisi setara 60 kilogram COāe. Karena itu, dengan secara sadar mengatur pola konsumsi seperti dalam program diet, seseorang bukan hanya menjaga kesehatan diri, tetapi juga berkontribusi mengurangi tekanan terhadap bumi.
Sisa Makanan: Masalah yang Tak Kalah Serius
Dampak lingkungan dari makanan tak berhenti di proses produksinya. Masalah lain muncul ketika makanan menjadi sampah, terutama sisa santapan yang tidak habis dimakan. Sampah makanan memang tergolong organik dan bisa terurai, tetapi proses pembusukannya di tempat pembuangan menghasilkan gas metana (CHā) ā gas rumah kaca yang 28 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam menjebak panas di atmosfer.
Menurut Food Waste Index Report 2024 dari PBB, Indonesia merupakan penghasil sampah makanan terbesar di Asia Tenggara, dengan jumlah mencapai 14,73 juta ton per tahun. Jika ditumpuk di atas lapangan bola, timbunan sisa makanan itu bisa lebih tinggi dari Gunung Kilimanjaro. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) juga menunjukkan bahwa sisa makanan menjadi jenis sampah paling dominan di Indonesia. Dengan jumlah yang begitu besar, sisa makanan berpotensi menjadi sumber utama metana yang memperparah pemanasan global ā semua berawal dari perilaku konsumsi berlebihan yang sering dianggap sepele.
Pola Makan Sehat untuk Kita dan Bumi
Membatasi konsumsi makanan sesuai kebutuhan tubuhābukan keinginan sesaatāadalah inti dari diet sehat yang banyak dianut saat ini. Tubuh mendapat manfaat berupa berat badan ideal dan kesehatan yang lebih baik, sementara bumi memperoleh keuntungan dalam bentuk berkurangnya beban lingkungan dari produksi dan sampah makanan. Kebiasaan memilih makanan, terutama antara produk nabati dan hewani, menumbuhkan kesadaran untuk memahami asal usul serta dampak dari setiap bahan pangan yang kita konsumsi.
Selain itu, pola makan yang proporsional dapat mencegah terjadinya sisa makanan, mengurangi emisi metana, dan secara tidak langsung membantu memperlambat perubahan iklim. Manusia memang punya andil besar terhadap kerusakan bumi ā dari polusi industri hingga konsumsi berlebihan. Namun, langkah sederhana bisa dimulai dari hal paling dekat: meja makan. Dengan memilih makanan rendah emisi dan mengonsumsi sesuai kebutuhan, kita bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga memberi ruang bagi bumi untuk kembali bernapas lega.(dht)














