Kanal24, Malang – Di tengah tantangan ketahanan pangan dan kebutuhan sumber protein hewani yang terus meningkat, riset terhadap plasma nutfah lokal menjadi semakin penting. Salah satunya adalah kambing kacang, jenis kambing asli Indonesia yang dikenal tangguh hidup di berbagai kondisi lingkungan.
Topik tersebut menjadi fokus disertasi yang dipertahankan Ir. Wike Andre Septian, S.Pt., M.Si., dalam ujian terbuka Program Doktor Ilmu Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB), yang digelar di Auditorium Lantai 5 Gedung 6 Pascasarjana Fapet UB, Senin (9/3/2026).
Disertasi berjudul “Analisis Mitogenome (Complete Genome Mitochondrial DNA) dan Ekspresi Gen Pengontrol Sifat Pertumbuhan, Produksi Karkas, Kualitas Daging Kambing Kacang” ini meneliti potensi genetik kambing kacang melalui pendekatan analisis DNA mitokondria serta ekspresi gen yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kualitas daging.
Sidang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., Dekan Fakultas Peternakan UB. Menurutnya, penelitian ini penting karena menggali potensi genetik salah satu plasma nutfah ternak lokal yang selama ini banyak dipelihara peternak rakyat.

“Kambing kacang memang berukuran relatif kecil dibandingkan jenis kambing lainnya, tetapi memiliki potensi luar biasa karena daya adaptasinya sangat tinggi terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui analisis genetik yang dilakukan dalam disertasi tersebut, diharapkan dapat ditemukan penanda genetik yang berpotensi meningkatkan produktivitas kambing kacang di masa depan.
“Penelitian ini mencoba mengkaji bagaimana kemampuan genetik kambing kacang dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga produktivitasnya meningkat,” katanya.
Menurut Prof. Halim, disertasi ini memberikan kontribusi pada dua aspek penting dalam ilmu peternakan. Pertama pada level fundamental, yaitu ditemukannya potensi genetik melalui analisis DNA mitokondria. Kedua pada aspek implementasi, yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan produktivitas ternak melalui pemanfaatan penanda genetik.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa implementasi tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan.
“Ke depan tentu perlu pengembangan lebih lanjut agar gen marker yang ditemukan dapat dimanfaatkan secara nyata dalam peningkatan produktivitas ternak,” jelasnya.
Sementara itu, Wike Andre Septian menjelaskan bahwa penelitiannya berangkat dari realitas bahwa kambing kacang banyak dipelihara oleh peternak skala kecil di berbagai daerah marginal di Indonesia.
“Kambing kacang ini banyak dimanfaatkan oleh peternak rakyat, terutama di daerah dengan kondisi pakan terbatas atau lingkungan yang cukup ekstrem,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan adaptasi tersebut justru menjadi potensi besar yang perlu dikaji secara ilmiah untuk mendukung pengembangan peternakan berbasis sumber daya lokal.
Dalam penelitian ini, ia menggunakan pendekatan yang mensimulasikan kondisi lingkungan yang biasa dihadapi kambing kacang, sehingga dapat melihat bagaimana respons genetik ternak tersebut terhadap berbagai kondisi lingkungan.

Ia menilai, pengembangan potensi kambing kacang juga memiliki nilai strategis bagi ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
“Kambing kacang bisa menjadi bentuk investasi bagi keluarga di daerah marginal. Dengan jumlah ternak yang relatif kecil, peternak masih bisa mengembangkan populasi ternaknya dan memanfaatkannya sebagai sumber protein atau sumber pendapatan,” jelasnya.
Menurutnya, jika satu keluarga memelihara kambing kacang dengan jumlah yang relatif sebanding dengan anggota keluarga, dalam satu tahun populasi ternak tersebut berpotensi berkembang hingga dua kali lipat.
“Dari situ mereka bisa menjual sebagian ternaknya atau memanfaatkannya sebagai sumber protein bagi keluarga,” katanya.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor peternakan rakyat di Indonesia, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan peternak skala kecil.
“Harapannya penelitian ini bisa membantu peternak rakyat. Dengan modal yang terbatas, mereka tetap bisa memelihara ternak sebagai bentuk investasi sekaligus menjaga populasi kambing di masyarakat,” ujarnya.
Menutup sidang, Prof. Halim juga berpesan bahwa gelar doktor bukanlah puncak perjalanan akademik, melainkan awal dari karya dan kontribusi yang lebih besar bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.
“Seorang doktor bukan berada di puncak, justru itu adalah awal untuk terus berkarya. Kami berharap karya ilmiah, penelitian, hingga inovasi yang dihasilkan ke depan akan semakin berkembang,” pungkasnya.(Qrn/Din)













