Kanal24, Malang – Permintaan masyarakat terhadap pangan bernilai gizi tinggi terus meningkat seiring berkembangnya kesadaran akan gaya hidup sehat. Salah satu produk yang semakin diminati adalah telur ayam buras atau telur ayam kampung yang dikenal memiliki kandungan protein tinggi serta citra lebih alami dibandingkan telur ayam ras.
Fenomena tersebut menjadi fokus penelitian Dr. Ariani Trisna Murti, S.Pt., MP, dalam Ujian Akhir Disertasi Program Doktor Ilmu Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) yang digelar pada Rabu (11/3/2026) di Auditorium Lantai 5 Gedung 6 Pascasarjana Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
Dalam sidang tersebut, Ariani mempresentasikan disertasinya berjudul “Eksplorasi Integrasi Keputusan Pembelian Konsumen Produk Telur Ayam Buras di Jawa Timur: Peran Willingness to Pay sebagai Variabel Mediasi.”
Baca juga:
Inovasi Pakan, Fapet UB Dorong Produksi Daging Domba Rendah Kolesterol
Integrasi Niat Beli dan Keputusan Pembelian
Ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut berfokus pada upaya mengintegrasikan niat beli konsumen dengan keputusan pembelian nyata melalui konsep willingness to pay atau kerelaan konsumen untuk membayar suatu produk.
“Fokus penelitian ini adalah bagaimana menghubungkan nilai psikososial konsumen, seperti sikap dan persepsi terhadap produk, agar dapat bertransformasi menjadi keputusan pembelian yang nyata,” ujarnya.
Menurut Ariani, selama ini banyak konsumen yang memiliki persepsi positif terhadap suatu produk pangan, namun hanya berhenti pada tahap niat membeli tanpa benar-benar melakukan pembelian. Karena itu, penelitian ini mencoba menjelaskan bagaimana faktor psikologis dan sosial tersebut dapat mendorong tindakan membeli secara nyata.
Dukungan Promotor dan Kontribusi Riset
Sementara itu, promotor disertasi, Prof. Dr. Ir. Budi Hartono, MS, IPU, ASEAN Eng, menyampaikan bahwa penelitian tersebut memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika pasar telur ayam buras sekaligus membuka peluang peningkatan produksi bagi peternak lokal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sidang ujian akhir disertasi yang digelar oleh Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
Prof. Budi Hartono juga menjelaskan bahwa Ariani dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik baik sejak jenjang sarjana hingga doktoral. Ia menilai penyelesaian studi doktoral dalam waktu sekitar tiga tahun menunjukkan konsistensi dan kapasitas akademik yang kuat.
Ia menambahkan bahwa penelitian tersebut memberikan kontribusi akademik dan juga memiliki potensi implementasi bagi pengembangan sektor peternakan rakyat.
Konsumen Telur Kampung Tak Sensitif Harga
Dalam pemaparannya, Prof. Budi Hartono menuturkan bahwa salah satu temuan menarik dari penelitian tersebut adalah perilaku konsumen telur ayam buras yang relatif tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga.
Menurutnya, kondisi ini justru membuka peluang bagi peternak untuk meningkatkan produksi telur ayam kampung. Jika harga meningkat, hal tersebut dapat menjadi motivasi bagi peternak untuk memperbanyak produksi agar mampu bersaing dengan telur ayam ras yang selama ini mendominasi pasar.
Ia juga menambahkan bahwa telur ayam kampung memiliki keunggulan tersendiri, terutama dari sisi nilai kesehatan dan kandungan protein yang tinggi. Beberapa karakteristik nutrisi tersebut bahkan tidak sepenuhnya dimiliki oleh telur ayam ras.

Tren Hidup Sehat dan Peluang Industri
Ariani juga menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin mengarah pada gaya hidup sehat, terutama setelah pandemi COVID-19.
Menurutnya, konsumen saat ini mencari makanan yang sekadar mengenyangkan dan juga produk pangan yang memiliki nilai gizi serta manfaat kesehatan jangka panjang.
Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi produk pangan lokal seperti telur ayam buras yang dikenal memiliki citra sebagai produk alami dan bernilai gizi tinggi.
Strategi Industri dan Dampak bagi Peternak
Lebih lanjut, Ariani menuturkan bahwa hasil penelitiannya dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan, khususnya produsen telur ayam buras.
Ia menilai produsen sebenarnya tidak perlu terjebak dalam persaingan harga yang ketat. Strategi yang lebih efektif adalah membangun citra merek (brand image) serta memberikan informasi yang jelas mengenai manfaat kesehatan telur ayam buras kepada konsumen.
Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian, produsen dapat menentukan segmentasi pasar yang lebih tepat sekaligus meningkatkan nilai jual produknya.
Pada akhirnya, Ariani berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan pendapatan peternak lokal. Jika produksi dan pemasaran telur ayam buras dapat berkembang dengan baik, kesejahteraan peternak juga berpotensi meningkat sekaligus mendukung upaya pengurangan kemiskinan di sektor pedesaan. (nid/cay)














