Kanal24, Malang – Upaya memperkuat ketahanan pakan ternak nasional terus didorong melalui riset akademik. Salah satunya ditunjukkan dalam Disertasi FAPET UB bertajuk “Potensi Rumput Gajah Merah sebagai Sumber Hijauan Pakan Ternak Ruminansia” yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (FAPET UB) pada Senin (19/01/2026), bertempat di Auditorium Lantai 5 Gedung Pascasarjana Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Disertasi ini menjadi ruang pemaparan hasil riset mendalam yang menyoroti peluang pemanfaatan kultivar baru rumput gajah merah sebagai pakan ternak fungsional di Indonesia.
Menjawab Kesenjangan Riset Pakan Ternak
Dalam pemaparannya, promovenda Dr. Riska Muizzu Aprilia menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya kajian ilmiah mengenai rumput gajah merah di Indonesia. Padahal, secara potensial, tanaman ini menyimpan nilai strategis bagi pengembangan pakan ternak ruminansia.
Baca juga:
Sinergi BWI, NU, dan Pemerintah Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf

“Urgensinya adalah karena di Indonesia masih belum ada yang mengkaji rumput gajah merah ini. Padahal, rumput ini memiliki kandungan antosianin yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan serta meningkatkan produksi ternak,” ujar Dr. Riska.
Ia menambahkan, selama ini rumput gajah telah dikenal luas sebagai pakan hijauan utama. Namun, kehadiran rumput gajah merah sebagai kultivar baru—yang disebutnya sebagai “tamu datang baru di Indonesia”—membuka peluang besar untuk pengembangan pakan ternak yang tidak hanya bersifat konvensional, tetapi juga fungsional.
“Rumput gajah merah ini ternyata sangat berpotensi untuk digunakan sebagai pakan ternak, terutama karena kandungan bioaktifnya,” lanjutnya.
Temuan Teknis untuk Produksi Optimal
Lebih jauh, disertasi ini tidak berhenti pada kajian deskriptif, melainkan menghasilkan temuan teknis yang aplikatif bagi dunia peternakan. Salah satu hasil utama penelitian menunjukkan bahwa teknik budidaya memegang peranan penting dalam mengoptimalkan produksi rumput gajah merah.
“Kami menemukan bahwa teknik budidaya yang optimal adalah pemotongan atau panen pada umur 60 hari dengan penggunaan pupuk sebesar 300 kilogram nitrogen per hektar per tahun,” jelas Dr. Riska.
Menurutnya, perlakuan tersebut mampu menghasilkan produksi hijauan yang optimal, sehingga dapat mendukung ketersediaan pakan di Indonesia, khususnya pakan yang bersifat fungsional dan berkelanjutan. Temuan ini dinilai relevan dengan tantangan peternakan nasional yang masih dihadapkan pada fluktuasi ketersediaan hijauan pakan, terutama pada musim-musim tertentu.
Pakan Fungsional dan Tantangan Lingkungan
Promotor disertasi, Prof. Dr. Ir. Ifar Subagiyo, M.Agr.St., menilai penelitian ini memiliki kontribusi strategis bagi pengembangan ilmu peternakan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa disertasi tersebut mengangkat objek riset yang benar-benar baru dalam konteks nasional.
“Disertasi ini menjelaskan satu jenis rumput yang belum pernah diteliti di Indonesia, yaitu rumput gajah merah, dan potensinya sebagai bahan pakan fungsional untuk ternak ruminansia,” ujar Prof. Ifar.
Ia menilai hasil riset ini sebagai informasi dasar yang sangat dibutuhkan, baik untuk pengembangan riset lanjutan maupun penerapan praktis di lapangan. Terlebih, tantangan global seperti pemanasan global turut berdampak pada sektor peternakan.
“Kita tahu sekarang ada global warming. Stres ternak terhadap lingkungan semakin besar, sehingga diperlukan antioksidan untuk mengatasinya. Dan ini bisa disediakan secara murah dengan menanam rumput,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, kandungan antosianin pada rumput gajah merah dipandang sebagai solusi alami yang potensial untuk menjaga kesehatan ternak sekaligus meningkatkan produktivitas.
Landasan bagi Riset Berkelanjutan
Lebih lanjut, Prof. Ifar menegaskan bahwa kontribusi utama disertasi ini adalah meletakkan dasar ilmiah mengenai peran pakan ternak yang murah namun bersifat fungsional. Landasan ini dinilai penting untuk mendorong inovasi lanjutan di bidang peternakan ruminansia.
“Kontribusinya terhadap perkembangan ilmu peternakan adalah meletakkan dasar tentang fungsi pakan ternak yang relatif murah tetapi fungsional, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pengembangan peternakan ruminansia di Indonesia,” ungkapnya.
Ia juga berharap agar promovenda tidak berhenti pada capaian disertasi ini semata. Menurutnya, potensi rumput gajah merah masih sangat luas untuk dieksplorasi, terutama dalam upaya mencapai produksi yang benar-benar optimal.
“Potensi yang dicapai di sini belum sampai ke optimasi. Masih banyak hal yang harus dikerjakan. Mudah-mudahan riset ini dapat diteruskan untuk menghasilkan produksi optimal dari rumput ini,” pesannya.

Menatap Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Menutup pemaparannya, Dr. Riska menyampaikan harapan agar disertasi ini dapat menjadi pemantik lahirnya penelitian-penelitian baru di bidang pakan ternak. Ia menilai masih terdapat banyak celah riset yang belum terjawab dan dapat dikembangkan oleh peneliti selanjutnya.
“Harapannya, ke depan muncul penelitian-penelitian baru yang mengkaji lebih luas lagi. Gap-gap yang belum bisa saya bahas secara keseluruhan ini justru membuka peluang untuk diteruskan dan dikembangkan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar capaian akademik, disertasi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi peternak di Indonesia melalui perbaikan sistem pakan yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan. Dengan demikian, riset tentang rumput gajah merah tidak hanya berhenti di ruang sidang akademik, tetapi juga bertransformasi menjadi solusi konkret bagi masa depan sektor peternakan nasional. (nid/qrn)














