Kanal24, Malang — Inovasi di bidang kecerdasan buatan terus berkembang untuk mendukung layanan kesehatan. Kandidat doktor Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya mengembangkan model artificial intelligence (AI) untuk membantu proses skrining kanker serviks melalui analisis citra medis.
Riset tersebut dipaparkan dalam ujian disertasi Program Studi Doktor di FMIPA Universitas Brawijaya (2/3/2026) dengan judul “Pengembangan Model Skrining Kanker Serviks Menggunakan Hibrid TL Dense-UNET20I dan Optimasi Pra-Pemrosesan Citra Pap Smear dengan Spider Monkey Optimization.”
Kandidat doktor FMIPA UB, Ach. Khozaimi, S.Kom., M.Kom, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pengembangan sistem kecerdasan buatan yang dapat membantu tenaga medis dalam proses skrining kanker serviks.
“Fokus utama penelitian ini adalah membuat kecerdasan buatan dalam bidang kedokteran, terutama untuk mendeteksi kanker serviks dalam proses skrining. Harapannya model yang kami kembangkan ini dapat membantu dokter dalam proses skrining kanker serviks, terutama pada perempuan,” ujarnya.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian akibat kanker yang masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Deteksi dini dinilai menjadi kunci penting untuk menekan risiko perkembangan kanker ke tahap yang lebih serius.

Khozaimi menuturkan bahwa teknologi AI dapat membantu mempercepat proses analisis citra Pap smear sehingga potensi kanker dapat dideteksi sejak tahap awal.
“Dengan adanya kecerdasan buatan diharapkan proses deteksi kanker serviks dapat dilakukan lebih cepat sehingga pasien bisa segera mendapatkan penanganan dari dokter sebelum penyakit berkembang menjadi lebih ganas,” katanya.
Selain mampu melakukan klasifikasi citra kanker secara otomatis, penelitian ini juga diarahkan pada pengembangan sistem explainable AI, yakni teknologi kecerdasan buatan yang tidak hanya memberikan hasil klasifikasi tetapi juga menjelaskan alasan di balik keputusan yang dihasilkan sistem.
“AI tidak cukup hanya mengklasifikasi jenis kanker, tetapi juga harus mampu menjelaskan alasan mengapa hasil tersebut muncul. Itu yang kami harapkan dari pengembangan ke depan,” jelasnya.
Sementara itu, Syaiful Anam, S.Si., MT., Ph.D, selaku co-promotor disertasi menilai penelitian tersebut menjadi salah satu contoh integrasi antara ilmu medis dan teknologi informatika.
Menurutnya, pendekatan pengolahan citra digital mampu membantu meningkatkan kualitas analisis gambar medis yang selama ini sering menjadi tantangan dalam proses diagnosis.
“Penelitian ini memadukan bidang medis dan informatika. Dengan teknik image processing, kualitas citra dapat diperbaiki secara signifikan sehingga membantu dokter dalam mengambil keputusan secara lebih cepat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penelitian tersebut juga berpotensi memberikan kontribusi penting dalam pengembangan sistem diagnosis otomatis berbasis data di bidang kesehatan.
“Kontribusinya antara lain memperbaiki kualitas citra dan mengklasifikasikan gambar secara otomatis sehingga berpotensi membantu proses diagnosis penyakit kanker secara lebih cepat,” katanya.
Ke depan, penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi riset antara bidang informatika dan ilmu kedokteran.
Pengembangan teknologi kecerdasan buatan untuk analisis citra medis dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung deteksi dini penyakit sekaligus meningkatkan efektivitas layanan kesehatan berbasis teknologi.(Awn/Din)














