Kanal24, Malang — Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi bahasa, eksistensi bahasa lokal sering kali menghadapi tantangan untuk tetap hidup. Namun, bagi masyarakat Malang, kreativitas dalam berbahasa justru melahirkan identitas unik yang dikenal sebagai Boso Walikan atau Bahasa Walikan — bahasa khas Arek Malang yang membalik susunan kata untuk menciptakan makna baru.
Fenomena linguistik ini menjadi sorotan menarik dalam perayaan Bulan Bahasa “School Phoria Goes to SMAN 4” (28/10/2025), melalui sesi inspiratif yang menghadirkan Nurenza Vannuar, Ph.D., dosen sastra sekaligus anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Dalam pemaparannya, Nurenza menjelaskan bahwa Bahasa Walikan bukan sekadar permainan kata, tetapi cermin kreativitas dan identitas budaya masyarakat Malang.
“Bahasa Walikan itu khas Malang. Ia lahir dari kreativitas anak muda yang membolak-balik kata, misalnya ‘Malang’ menjadi ‘Ngalam’, dan ‘arek’ yang berarti anak muda, dibalik menjadi ‘kera’. Jadi kalau seseorang ingin menyebut dirinya Arek Malang, ia bisa bilang: Saya Kera Ngalam,” tutur Nurenza dengan penuh semangat.
Bahasa Walikan, dari Sandi Perang Jadi Identitas Budaya
Lebih jauh, Nurenza memaparkan bahwa sejarah Bahasa Walikan memiliki akar panjang yang menarik. Berdasarkan berbagai kesaksian lisan dan legenda lokal, bahasa ini sudah muncul sejak era 1940-an, pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Banyak cerita dari para tetua di Malang yang mengatakan bahwa Bahasa Walikan dulu digunakan sebagai bahasa sandi saat perang kemerdekaan. Karena pada waktu itu mata-mata Belanda sudah memahami bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, maka para pejuang menggunakan bahasa terbalik untuk mengelabui mereka,” jelasnya.
Ia mencontohkan beberapa istilah yang diyakini muncul dari konteks sejarah tersebut, seperti kata mata-mata yang dibalik menjadi khatam, dan londo (Belanda) yang dibalik menjadi ondol. Dari situlah, kata-kata khas Bahasa Walikan terus berkembang, meluas, dan akhirnya menjadi bahasa gaul yang melekat kuat dalam keseharian warga Malang.
Kreativitas yang Menjadi Identitas Arek Ngalam
Menurut Nurenza, Bahasa Walikan adalah bentuk ekspresi linguistik yang merepresentasikan karakter egaliter, spontan, dan jenaka dari masyarakat Malang. Ia menggambarkan bagaimana bahasa ini menjadi penanda keakraban dan solidaritas sosial antarwarga, terutama generasi muda.
“Bahasa ini menunjukkan jiwa Arek Malang yang khas: santai tapi cerdas, sederhana tapi kreatif. Walikan membuat mereka merasa punya identitas yang berbeda dari daerah lain,” ujarnya.
Namun, di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa seiring berkembangnya teknologi dan komunikasi digital, penggunaan Bahasa Walikan di kalangan muda mulai berkurang. Karena itu, ia menilai penting untuk melestarikan Bahasa Walikan melalui kegiatan edukatif, media sosial, hingga pembelajaran di sekolah.
“Walikan ini harus dipertahankan dan dilestarikan supaya generasi muda tetap tahu akar budayanya sendiri,” tegas Nurenza.
Bahasa Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Kehadiran Nurenza Vannuar dalam kegiatan Bulan Bahasa di SMAN 4 Malang tidak hanya memberi wawasan linguistik, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan nasional.
Melalui penjelasan historis dan budaya tentang Bahasa Walikan, siswa diajak memahami bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga penanda identitas dan memori kolektif masyarakat.
Dengan semangat “Kera Ngalam”, Nurenza mengajak generasi muda untuk tidak malu menggunakan Bahasa Walikan dalam ruang-ruang ekspresi mereka. Bagi dosen yang juga peneliti bahasa ini, melestarikan Bahasa Walikan berarti menjaga denyut kreativitas dan keunikan budaya Arek Malang di tengah dunia yang semakin seragam.(Din/Yor)














