Kanal24, Malang — Wacana kebangkitan peradaban Islam sering kali hadir dalam romantisme sejarah: masa ketika dunia Islam memimpin ilmu pengetahuan, perdagangan, hingga inovasi teknologi. Namun pertanyaan yang lebih penting jarang diajukan secara jujur: mengapa peradaban yang pernah begitu maju justru menghadapi berbagai keterbatasan di era modern.
Pertanyaan inilah yang menjadi inti analisis Dr. Amir Rezaeipanah, Head of the Department of Cultural Dialogues Islamic Culture and Relations Organization (ICRO) Iran, dalam Pra-Konferensi Seri 8 Festival Internasional Peradaban Islam Kontemporer yang digelar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.
Baca juga : FISIP UB–ICRO Iran Bangun Diskursus Baru Kebangkitan Peradaban Islam
Dalam kajian akademiknya berjudul Pathology of the Future of Civilizational Cooperation in the Islamic World, Amir menawarkan pendekatan diagnosis terhadap dunia Islam. Ia menyebut bahwa kebangkitan peradaban Islam tidak akan terjadi tanpa keberanian membaca “penyakit” internal yang menghambatnya.
Menurut Amir, tantangan tersebut setidaknya muncul dalam empat dimensi utama: ekonomi, politik, sosial-budaya, dan teknologi.
Tanpa pembenahan serius pada empat aspek tersebut, proyek kebangkitan peradaban Islam berisiko berhenti pada retorika identitas.
Ekonomi: Potensi Besar Tanpa Integrasi
Secara ekonomi, dunia Islam sebenarnya memiliki modal strategis yang besar. Negara-negara Muslim menguasai sebagian besar sumber energi global, memiliki populasi muda yang besar, serta posisi geopolitik yang penting.
Namun potensi tersebut belum menghasilkan integrasi ekonomi yang kuat.
Banyak negara Muslim masih bergantung pada ekonomi berbasis komoditas tunggal, sementara perdagangan antarnegara Islam relatif rendah dibandingkan potensi yang tersedia.
Kondisi ini menciptakan paradoks: kekayaan sumber daya tidak otomatis menghasilkan kekuatan ekonomi kolektif.
Tanpa integrasi yang lebih fungsional—mulai dari rantai industri, ekonomi digital, hingga keamanan pangan—kerja sama ekonomi dunia Islam sulit memperoleh kedalaman strategis.

Politik: Fragmentasi dan Krisis Kepercayaan
Dimensi politik menghadirkan tantangan yang lebih kompleks.
Persaingan geopolitik antarnegara Muslim, intervensi kekuatan global, serta konflik ideologis telah memperlemah kemampuan dunia Islam untuk membangun konsensus strategis.
Krisis kepercayaan antarnegara menjadi penghambat utama kerja sama peradaban.
Tanpa definisi kepentingan bersama serta mekanisme penyelesaian konflik yang kredibel, kerja sama peradaban akan tetap berada pada level deklarasi politik.
Indonesia dan Iran: Mencari Model Peradaban
Di tengah kompleksitas tersebut, Amir melihat peluang kerja sama strategis antara Indonesia dan Iran.
Ia menilai Indonesia memiliki posisi penting dalam diskursus kebangkitan peradaban Islam karena pendekatan keislamannya yang moderat dan terbuka terhadap dialog.
“Indonesia adalah negara yang juga memiliki peradaban Islam yang baik dan riset-riset yang berkembang cukup kuat. Karena itu kami tertarik mengundang para akademisi Indonesia untuk terlibat dalam diskursus peradaban Islam,” ujarnya.
Menurut Amir, kolaborasi intelektual antara kedua negara dapat membuka jalan bagi lahirnya model baru kerja sama peradaban di dunia Islam.
“Kami berharap Indonesia dan Iran dapat menjadi teladan dalam menemukan kembali peradaban baru Islam,” katanya.
Kesamaan perspektif tersebut, menurutnya, terletak pada pemahaman Islam sebagai nilai yang membawa rahmat bagi kehidupan manusia.

Krisis Kepercayaan Diri Dunia Islam
Namun Amir menilai tantangan terbesar dunia Islam bukan semata faktor eksternal, melainkan krisis kepercayaan diri di kalangan umat Islam sendiri.
Ia menyebut bahwa sebagian masyarakat Muslim kerap memandang dirinya berada dalam posisi lemah sebelum menghadapi persaingan global.
“Kita sering merasa diri lemah bahkan sebelum berjuang. Kita meremehkan potensi yang kita miliki,” ujarnya.
Padahal pengalaman yang ia temui selama berada di Indonesia menunjukkan gambaran yang berbeda.
“Selama berada di Indonesia saya melihat keramahan dan suasana yang sangat baik. Bahkan lebih baik dibanding banyak negara di Eropa dan Amerika. Tetapi kita sering tidak percaya pada potensi kita sendiri,” katanya.
Menurut Amir, dunia Islam sebenarnya memiliki modal moral dan sosial yang kuat untuk membangun kembali peradabannya.
Teknologi dan Masa Depan Peradaban
Dalam pandangannya, kebangkitan peradaban Islam juga sangat bergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di era ekonomi berbasis pengetahuan, kekuatan peradaban sangat ditentukan oleh kemampuan menghasilkan inovasi ilmiah.
Beberapa negara Muslim telah menunjukkan kemajuan dalam bidang seperti nanoteknologi, kecerdasan buatan, hingga industri pertahanan.
Namun secara keseluruhan, dunia Islam masih menghadapi kesenjangan teknologi dan ketergantungan pada inovasi dari luar.
Tanpa investasi serius pada riset, teknologi, serta ekosistem inovasi lintas negara, kebangkitan peradaban Islam akan menghadapi kerentanan struktural.
Kampus sebagai Ruang Kebangkitan Peradaban
Bagi Amir, universitas memiliki peran strategis dalam menjembatani gagasan kebangkitan peradaban dengan realitas sosial.
Melalui dialog akademik, pertukaran intelektual, serta kerja sama riset lintas negara, kampus dapat menjadi laboratorium peradaban yang menghasilkan pemikiran baru.
Ia melihat Universitas Brawijaya sebagai salah satu ruang potensial untuk mengembangkan dialog tersebut.
“Kami ingin belajar dari pengalaman Indonesia, terutama pendekatan Islam yang rahmatan lil alamin dan wasathiyah. Tidak ada tempat yang lebih tepat untuk mempelajari itu selain di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,” ujarnya.
Di tengah perubahan geopolitik global, tantangan teknologi, dan dinamika identitas, kebangkitan peradaban Islam memerlukan lebih dari sekadar nostalgia sejarah.
Ia membutuhkan keberanian membaca realitas zaman, membangun kepercayaan diri kolektif, serta mengintegrasikan ilmu pengetahuan, budaya, dan teknologi dalam satu visi peradaban yang relevan dengan masa depan.













