Kanal24, Malang – Percakapan itu berlangsung lewat layar, tanpa tatap muka. Namun dari rangkaian jawaban yang singkat dan terukur, tersingkap satu kegelisahan : pertanian Indonesia masih berjalan di bawah potensinya sendiri.
Di tengah tantangan ketahanan pangan dan perubahan iklim, kegelisahan itu menjadi titik awal perjalanan Dr. Catur Wasonowati.
Alumni Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya ini kini mengemban peran sebagai Ketua Program Studi Agroekoteknologi di Universitas Trunojoyo Madura. Jalan yang ia tempuh bukan sekadar lintasan akademik, melainkan refleksi dari kegelisahan yang sejak awal ia sadari: pertanian Indonesia menyimpan potensi besar, tetapi belum sepenuhnya tergarap.
āKeinginan untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor pertanian yang berkelanjutan⦠serta masih banyak permasalahan di lapangan,ā ujarnya dalam percakapan tersebut, merujuk pada motivasinya memilih Jurusan Budidaya Pertanian.
Bagi Dr. Catur, pertanian tidak pernah sekadar objek studi. Ia adalah ruang perjumpaan antara ilmu, teknologi, dan realitas sosial. Di satu sisi, ada peluang besar dalam agribisnis dan inovasi. Di sisi lain, ada persoalan klasik: produktivitas yang belum optimal, teknologi yang belum merata, hingga ketahanan pangan yang terus diuji.
Kesadaran itu membentuk cara pandangnya sejak menjadi mahasiswa. Ia tidak ingin berhenti pada pemahaman teoritis. Ia ingin ilmu yang dipelajari dapat āditurunkanā ke lapanganāmenjadi solusi, bukan sekadar wacana.
Visi itu ia rumuskan dengan lugas: menjadi individu yang paham teori, sekaligus mampu menerapkannya, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan berdaya saing dalam bidang pertanian.
Perjalanan menjadi dosen, bagi Dr. Catur, menjadi kelanjutan dari proses belajar yang terus diasah sepanjang kehidupan. Ia menyebut konsistensi sebagai kunciākonsistensi untuk terus membaca, meneliti, dan menulis.
Namun, ada satu hal yang ia tekankan lebih dari sekadar capaian akademik: dedikasi.
āPenting untuk memiliki dedikasi tinggi dalam mengajar dan membimbing mahasiswa,ā ujarnya, singkat.
Dalam peran itulah, ia melihat tanggung jawab yang lebih luas. Bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk generasi yang mampu menjawab persoalan riil di sektor pertanian. Ia percaya, kampus seharusnya tidak menjadi menara gading yang jauh dari petani.
Pandangan itu tercermin dalam cara ia memaknai pembelajaran. Baginya, kelas tidak cukup diisi teori. Mahasiswa perlu dihadapkan pada praktik, pada persoalan nyata, bahkan pada ketidakpastian.
Ia menyebut pentingnya mata kuliah yang aplikatifāteknologi produksi tanaman, ilmu tanah, proteksi tanaman, hingga kewirausahaan. Namun yang lebih penting adalah pendekatan pembelajarannya.
āPembelajaran berbasis proyek⦠dan magang di industri pertanian,ā ujarnya, menekankan bahwa pengalaman langsung adalah jembatan antara kampus dan dunia kerja.
Di situ, mahasiswa belajar bukan hanya tentang benar dan salah, tetapi tentang mencari jalan keluar.
Di tengah perubahan globalāperubahan iklim, krisis pangan, hingga disrupsi teknologiāDr. Catur tidak menawarkan jawaban yang muluk. Ia justru kembali pada prinsip yang sederhana, tetapi mendasar: inovatif, adaptif, dan berkelanjutan.
Baginya, mahasiswa dan alumni harus terus belajar, terbuka pada teknologi baru, dan tidak ragu menciptakan solusi sendiri.
āJangan takut untuk menciptakan solusi baru di bidang pertanian,ā tuturnya.
Ada nada optimisme di sana, tetapi juga kesadaran bahwa jalan yang ditempuh tidak mudah.
Pada akhirnya, yang paling ia tekankan bukanlah gelar atau jabatan, melainkan dampak. Ia percaya, keberhasilan alumni tidak diukur dari posisi, tetapi dari kontribusi.
Meningkatkan produktivitas pertanian, membuka lapangan kerja, hingga membawa inovasi ke tingkat petaniāitulah bentuk nyata dari ilmu yang bekerja.
Percakapan singkat itu berakhir tanpa kesimpulan yang eksplisit. Namun, dari rangkaian jawaban yang tenang, tergambar satu hal: bagi Dr. Catur Wasonowati, pertanian bukan sekadar bidang keilmuan. Meningkatkan potensi pertanian adalah kerja panjangāmenanam pengetahuan, merawatnya dengan kesabaran, lalu menunggu waktu untuk menuai perubahan.(Din)














