Kanal24, Malang – Upaya mengenalkan kembali beragam informasi, sejarah, serta kekayaan budaya Kota Malang kepada masyarakat menjadi alasan utama terselenggaranya sebuah pameran kreatif yang digagas oleh mahasiswa. Melalui pendekatan modern dan futuristik, para penyelenggara berusaha membuktikan bahwa arsip bukan hanya tumpukan berkas, melainkan sumber pengetahuan yang hidup dan relevan bagi generasi muda.
Pameran mahasiswa bertajuk “ADA APA DI MALANG?” yang merupakan bagian dari program PRISMA PARI 2025 digelar pada Kamis (27/11/2025) di Malang Creative Center lantai 4. Acara ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi, Politeknik Negeri Malang (Polinema). Pameran ini menjadi hasil kolaborasi lintas mata kuliah, mulai dari Manajemen Pemasaran Informasi, Manajemen Akuisisi Arsip hingga Kepemimpinan, sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan proyek berbasis riset dan observasi lapangan.
Baca juga:
UB Luncurkan Batikpedia, Platform Pelindung Warisan Batik Nusantara

Konsep Pameran dan Pesan tentang Pentingnya Arsip
Koordinator Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi, Dr. Farika Nikmah, S.Sos., M.AB., menjelaskan bahwa pameran ini terinspirasi dari film “Ada Apa Dengan Cinta”. Konsep tersebut kemudian diadaptasi menjadi “Ada Apa di Malang?” sebagai upaya menggali berbagai unsur menarik yang dimiliki kota tersebut.
Menurutnya, salah satu tujuan besar kegiatan ini adalah memperluas cara pandang masyarakat tentang arsip. Banyak orang menganggap arsip hanya berupa berkas atau dokumen, padahal wujudnya bisa berupa artefak, foto, hingga objek sejarah. Melalui penyajian visual yang modern dan futuristik, panitia ingin membuat arsip menjadi menarik dan mudah dipahami oleh generasi muda, termasuk masyarakat umum yang belum memiliki latar belakang kearsipan.
Rangkaian Acara dan Pengumpulan Informasi Lapangan
Penanggung jawab panitia, Adinda Nabila Putri, menjelaskan bahwa pameran memuat berbagai informasi mengenai objek penting di Malang, seperti Candi Badut, Situs Watu Gong, Museum Brawijaya, Tari Bapang, batik Malangan, hingga keberagaman umat beragama.
Proses pengumpulan data dilakukan secara langsung oleh mahasiswa. Mereka mendatangi lokasi, melakukan wawancara dengan narasumber terkait, melakukan observasi lapangan, serta melengkapi materi dengan literatur daring. Semua informasi tersebut kemudian dikemas dalam bentuk foto, panel informasi, dokumentasi sejarah, serta penjabaran naratif sehingga mudah dipahami pengunjung.
Keberagaman Pengunjung dan Antusiasme Publik
Menurut Dilla Faqihatul Hasanah selaku Sie Humas, antusiasme pengunjung datang dari berbagai kalangan. Selain mahasiswa Polinema sendiri, pameran ini juga dikunjungi mahasiswa Universitas Brawijaya, pelajar SMA yang tertarik pada sejarah Malang, masyarakat dari Sidoarjo, hingga beberapa perwakilan dinas.
Pameran ini dibuka untuk umum dan gratis, sehingga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin mengenal Malang dari sisi arsip, budaya, sejarah, dan inklusi sosial.
Mengangkat Narasi Inklusivitas Lewat Lingkar Sosial Malang
Pada salah satu stan, Najwa Zafura Rizka Amelia Putri selaku penanggung jawab PRISMA 2025 dan stand Lingkar Sosial Malang (Linksos) menjelaskan peran organisasi dalam pemberdayaan disabilitas sejak 2014. Linksos bergerak untuk menciptakan masyarakat inklusif melalui berbagai program seperti batik ciprat, pramuka disabilitas, sekolah difabel, hingga kegiatan pecinta alam.
Ia menegaskan bahwa inklusivitas bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti mempelajari bahasa isyarat. Harapannya, masyarakat semakin sadar bahwa teman-teman difabel bukan hanya perlu dirangkul, tetapi memiliki potensi yang besar dan karya yang layak diapresiasi.

Melestarikan Kekayaan Seni Melalui Tari Bapang
Pada stan seni tradisi, Juwita Ayu Artilita sebagai penanggung jawab menjelaskan karakteristik Tari Bapang, salah satu ikon tarian khas Malang. Tari ini menggunakan topeng berwarna merah yang menggambarkan keberanian dan sifat kesatriaan, dengan ekspresi sombong yang terlihat dari bentuk mulut dan hidung topeng.
Persiapan dilakukan sekitar dua minggu, dan Juwita berharap pameran ini mampu membuat masyarakat—khususnya generasi muda—lebih mengenal dan melestarikan tari tradisional Malang yang mulai jarang disorot.
Pameran “ADA APA DI MALANG?” bukan sekadar acara mahasiswa, melainkan ruang kolaborasi kreatif yang mempertemukan arsip, budaya, seni, sejarah, dan nilai inklusivitas dalam satu wadah edukasi publik. Melalui inisiatif ini, mahasiswa Polinema membuktikan bahwa pengelolaan arsip dapat tampil modern, relevan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (nid/dht)














