Konstruksi etika dalam Islam amatlah indah, memudahkan dan meringankan setiap manusia sesuai dengan batas kemampuannya. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama kasih sayang dan rahmat bagi alam semesta ini. Sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah bahwa agama ini mudah (yusrun), tidaklah memberatkan ummatnya. Namun bukan berarti dalam menjalankan agama ini harus dimudah-mudahkan dengan menerobos batas garis ketetapan aturanNya. Disiplin tidaklah dipahami sebagai suatu tindakan tegas nan keras, melainkan proporsional sesuai dengan kemampuan dengan semangat ketaatan.Ā
Demikian pula dalam masalah hutang piutang, Islam menganjurkan untuk mencatatnya, menepati janji dan mengingatkan pembayaran dengan cara yang santun dan baik. Namun jika seseorang tidak mampu untuk melunasi hutangnya sementara dalam dirinya masih ada niat untuk membayarnya maka Islam menganjurkan kepada pemberi hutang untuk meringankan waktu untuk pembayarannya atau bahkan jika memungkinkan untuk membebaskannya. Sebagaimana Firman Allah swt:
ŁŁŲ„ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų°ŁŁ Ų¹ŁŲ³ŁŲ±ŁŲ©Ł ŁŁŁŁŲøŁŲ±ŁŲ©Ł Ų„ŁŁŁŁ Ł ŁŁŁŲ³ŁŲ±ŁŲ©Ł ŁŁŲ£ŁŁŁ ŲŖŁŲµŁŲÆŁŁŁŁŁŲ§ Ų®ŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁŁ Ł Ų„ŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁŁ Ł ŲŖŁŲ¹ŁŁŁŁ ŁŁŁŁ
āDan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.ā (QS. Al Baqarah: 280)
Pola komunikasi dan interaksi yang diharapkan oleh Islam dalam hubungan antar manusia adalah pola hubungan yang saling memahami dan mengerti (mutual understanding), Ā saling berbelas kasihan, saling tolong menolong dan membantu serta menutupi aib saudara. Bahkan upaya saling membantu, memudahkan urusan orang lain, menutupi aib orang lain menjadi anjuran agama bahkan dikaitkan pula dengan empati transendental dirinya. Sebagaimana sabda nabi Ā :
Ł ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŲ³Ł Ų¹ŁŁŁ Ł ŁŲ¤ŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŲØŁŲ©Ł Ł ŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŲØŁ Ų§ŁŲÆŁŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŲ³Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŲØŁŲ©Ł Ł ŁŁŁ ŁŁŲ±ŁŲØŁ ŁŁŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ł ŁŲ©Ł ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŲ±Ł Ų¹ŁŁŁŁ Ł ŁŲ¹ŁŲ³ŁŲ±Ł ŁŁŲ³ŁŁŲ±Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŲ¢Ų®ŁŲ±ŁŲ©Ł ŁŁŁ ŁŁŁ Ų³ŁŲŖŁŲ±Ł Ł ŁŲ³ŁŁŁŁ ŁŲ§ Ų³ŁŲŖŁŲ±ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŲ¢Ų®ŁŲ±ŁŲ©Ł ŁŁŲ§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŲØŁŲÆŁ Ł ŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŲØŁŲÆŁ ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲ®ŁŁŁŁ
āBarangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup āaib seseorang, Allah pun akan menutupi āaibnya di dunia dan akhirat.Ā Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebtu menolong saudaranya.ā (HR. Muslim no. 2699)
Islam sangat menganjurkan agar melakukan empati atas kesulitan orang lain dengan meringankan beban hutang yang ditanggungnya bahkan termasuk perilaku yang mulia manakala bersedia membebaskannya. Hal ini dikarenakan Islam sangat menekankan pentingnya upaya menebarkan sifat kasih sayang bagi sesama. Sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadist nabi Ā :
ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§Ų±ŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ł
ŁŲ¹ŁŲ±ŁŁŁŁ ŁŁŁ
ŁŲŁŁ
ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŁŲ§ŲÆŁ ŁŁŲŖŁŁŁŲ§Ų±ŁŲØŁŲ§ ŁŁŁ ŁŁŁŁŲøŁ Ų§ŁŁŲŁŲÆŁŁŲ«Ł ŁŁŲ§ŁŲ³ŁŁŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲ§Ų±ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŲ§ ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ ŲŁŲ§ŲŖŁŁ
Ł ŲØŁŁŁ Ų„ŁŲ³ŁŁ
ŁŲ¹ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŲØŁ ŲØŁŁŁ Ł
ŁŲ¬ŁŲ§ŁŁŲÆŁ Ų£ŁŲØŁŁ ŲŁŲ²ŁŲ±ŁŲ©Ł Ų¹ŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲ§ŲÆŁŲ©Ł ŲØŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲ§ŲÆŁŲ©Ł ŲØŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŲ§Ł
ŁŲŖŁ ŁŁŲ§ŁŁ
Ų®ŁŲ±ŁŲ¬ŁŲŖŁ Ų£ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŲØŁŁ ŁŁŲ·ŁŁŁŲØŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ
Ł ŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŲ§ Ų§ŁŁŲŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŁŁŲµŁŲ§Ų±Ł ŁŁŲØŁŁŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲØŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁŲ³ŁŲ±Ł ŲµŁŲ§ŲŁŲØŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŁ
ŁŲ¹ŁŁŁ ŲŗŁŁŁŲ§Ł
Ł ŁŁŁŁ Ł
ŁŲ¹ŁŁŁ Ų¶ŁŁ
ŁŲ§Ł
ŁŲ©Ł Ł
ŁŁŁ ŲµŁŲŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ³ŁŲ±Ł ŲØŁŲ±ŁŲÆŁŲ©Ł ŁŁŁ
ŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŲ±ŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁ ŲŗŁŁŁŲ§Ł
ŁŁŁ ŲØŁŲ±ŁŲÆŁŲ©Ł ŁŁŁ
ŁŲ¹ŁŲ§ŁŁŲ±ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ ŁŁŲ§ Ų¹ŁŁ
ŁŁ Ų„ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲ±ŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁ Ų³ŁŁŁŲ¹ŁŲ©Ł Ł
ŁŁŁ ŲŗŁŲ¶ŁŲØŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŲ¬ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŲØŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ±ŁŲ§Ł
ŁŁŁŁ Ł
ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁŁŲŖŁ Ų£ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
ŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ Ų«ŁŁ
ŁŁ ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ ŁŁŲ®ŁŲ±ŁŲ¬Ł Ų¹ŁŁŁŁŁŁ Ų§ŲØŁŁŁ ŁŁŁŁ Ų¬ŁŁŁŲ±Ł ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų³ŁŁ
ŁŲ¹Ł ŲµŁŁŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲÆŁŲ®ŁŁŁ Ų£ŁŲ±ŁŁŁŁŲ©Ł Ų£ŁŁ
ŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ Ų§Ų®ŁŲ±ŁŲ¬Ł Ų„ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲÆŁ Ų¹ŁŁŁŁ
ŁŲŖŁ Ų£ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ®ŁŲ±ŁŲ¬Ł ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ Ł
ŁŲ§ ŲŁŁ
ŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ Ų§Ų®ŁŲŖŁŲØŁŲ£ŁŲŖŁ Ł
ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁ Ų«ŁŁ
ŁŁ ŁŁŲ§ Ų£ŁŁŁŲ°ŁŲØŁŁŁ Ų®ŁŲ“ŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŁŁŁ Ų£ŁŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŲ°ŁŲØŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁ Ų£ŁŲ¹ŁŲÆŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŲ®ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ ŲµŁŲ§ŲŁŲØŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ŁŁŁŁŁŁ Ł
ŁŲ¹ŁŲ³ŁŲ±ŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ Ų¢ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ Ų¢ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ Ų¢ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁ ŲØŁŲµŁŲŁŁŁŁŲŖŁŁŁ ŁŁŁ
ŁŲŁŲ§ŁŁŲ§ ŲØŁŁŁŲÆŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ Ų„ŁŁŁ ŁŁŲ¬ŁŲÆŁŲŖŁ ŁŁŲ¶ŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ§ŁŁŲ¶ŁŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŁŁŁŲ§ Ų£ŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁ ŲŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŲ“ŁŁŁŲÆŁ ŲØŁŲµŁŲ±Ł Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŲŖŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ¶ŁŲ¹Ł Ų„ŁŲµŁŲØŁŲ¹ŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁ
ŁŲ¹Ł Ų£ŁŲ°ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŲŖŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŲ¹ŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲØŁŁ ŁŁŲ°ŁŲ§ ŁŁŲ£ŁŲ“ŁŲ§Ų±Ł Ų„ŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁŲ§Ų·Ł ŁŁŁŁŲØŁŁŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų£ŁŁŁŲøŁŲ±Ł Ł
ŁŲ¹ŁŲ³ŁŲ±ŁŲ§ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲ¶ŁŲ¹Ł Ų¹ŁŁŁŁŁ Ų£ŁŲøŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ ŲøŁŁŁŁŁŁĀ
Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf dan Muhammad bin Abbad, matan hadits keduanya hampir sama dan pemaparan matan berikut milik Harun, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il dari Ya’qub bin Mujahid Abu Hazrah dari Ubadah bin Al Walid bin Ubadah bin Ash Shamit berkata: Aku dan ayahku pergi menuntut ilmu di perkampungan Anshar ini sebelum mereka meninggal. Orang yang pertama kali kami temui adalah Abu Al Yasar, sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ia bersama seorang budak miliknya, ia membawa sekumpulan lembaran, Abu Al Yasar mengenakan selimut Ma’afiri dan budaknya juga mengenakan selimut Ma’afiri. Ayahku berkata padanya: Hai pamanku, sesungguhnya aku melihat tanda bekas marah di wajahmu. Ia berkata: Benar. Fulan bin fulan memiliki hutang padaku, aku mendatangi keluarganya, aku mengucapkan salam lalu aku mengucapkan kata-kata lalu ia mereka berkata: Tidak. Kemudian seorang anak berperut buncit keluar, aku bertanya: Mana ayahmu? Ia berkata: Ia mendengar suaramu. Selanjutnya ibuku, Arikah, masuk lalu aku berkata: Keluarlah kemari, aku sudah tahu dimana kamu berada. Aku bertanya: Kenapa kau bersembunyi dariku? Ia menjawab: Aku, demi Allah, akan menceritakan padamu, aku tidak bohong, demi Allah, aku takut bercerita kepadamu lalu aku berdusta dan aku berjanji padamu lalu aku pungkiri. Kau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan aku, demi Allah, sedang susah. Aku mengucapkan: Allah. Ia menyahut: Allah. Aku mengucapkan: Allah. Ia menyahut: Allah. Aku mengucapkan: Allah. Ia menyahut: Allah. Lalu ia mengambil lembaran kemudian dihapus dengan tangannya, ia berkata: Bila kau punya uang, lunasilah dan bila tidak punya kau bebas. Penglihatan kedua mataku ini -ia meletakkan jari-jarinya ke kedua matanya- pendengaran kedua telingaku ini dan difahami oleh hatiku ini -ia menunjuk ke tempat hatinya- menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menangguhkan orang susah atau membebaskannya dari (hutang) nya, Allah akan menaunginya dalam naunganNya.” (HR. Muslim).
Membebaskan seseorang yang kesulitan dalam membayar hutangnya sebenarnya adalah membebaskan komunikasi seseorang artinya menjadikan seseorang merasa bebas, nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain dan tidak merasa terikat serta underclass di hadapan orang lain menjadikan dirinya mampu berkomunikasi secara assertive atau mampu memerdekakan dan mengerakkan ruang komunikasi manusia dari assertiveness menuju non assertiveness. Empati transenden dengan meringankan beban hutang sekaligus menegaskan bahwa Islam benar-benar serius agar ummat islam menghindari dan terlepas dari hutang bahkan seorang penghutang dikatakan lebih rendah derajatnya dari seorang peminta-minta. Sebagai sabda Ā Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah;
Ų±ŁŲ£ŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁŁŁŁŲ©Ł Ų£ŁŲ³ŁŲ±ŁŁŁ ŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ ŲØŁŲ§ŲØŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŁŁŁŲ©Ł Ł
ŁŁŁŲŖŁŁŲØŁŲ§ Ų§ŁŲµŁŁŲÆŁŁŁŲ©Ł ŲØŁŲ¹ŁŲ“ŁŲ±Ł Ų£ŁŁ
ŁŲ«ŁŲ§ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŁŁŁŲ±ŁŲ¶Ł ŲØŁŲ«ŁŁ
ŁŲ§ŁŁŁŁŲ©Ł Ų¹ŁŲ“ŁŲ±Ł ŁŁŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ Ų¬ŁŲØŁŲ±ŁŁŁŁ Ł
ŁŲ§ ŲØŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ±ŁŲ¶Ł Ų£ŁŁŁŲ¶ŁŁŁ Ł
ŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŁŲÆŁŁŁŲ©Ł ŁŁŲ§ŁŁ ŁŲ£ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŲ§Ų¦ŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŲ£ŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŲÆŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁ
ŁŲ³ŁŲŖŁŁŁŲ±ŁŲ¶Ł ŁŲ§ ŁŁŲ³ŁŲŖŁŁŁŲ±ŁŲ¶Ł Ų„ŁŁŲ§ Ł
ŁŁŁ ŲŁŲ§Ų¬ŁŲ©Ł )
āPada waktu peristiwaĀ israā, aku melihat pada pintu sorga tertulis āSedekah dibalas dengan sepuluh kali lipat, dan memberi hutangan dibalas dengan delapan belas kali lipatā. Maka aku (NabiĀ Shalallahu āAlaii Wassallam) bertanya āWahai Jibril, mengapa memberi hutangan lebih afdhol ketimbang sedekah? Jibril menjawab āKarena seorang peminta-minta dia meminta sedekah padahal dia sudah mempunyai sesuatu, sedangkan orang yang berhutang tidaklah ia berhutang kecuali karena ia memang sangat membutuhkan.ā
Untuk membangun hubungan komunikasi humanistik dan harmonis maka Islam sangat menganjurkan bagi pemberi hutang disaat menagih hutang dilakukan dengan cara dan sikap yang baik. Sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah bersabda :
Ų±ŁŲŁŁ Ł Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŲ§Ł Ų³ŁŁ ŁŲŁŲ§ Ų„ŁŲ°ŁŲ§ ŲØŁŲ§Ų¹Ł Ų ŁŁŲ„ŁŲ°ŁŲ§ Ų§Ų“ŁŲŖŁŲ±ŁŁ Ų ŁŁŲ„ŁŲ°ŁŲ§ Ų§ŁŁŲŖŁŲ¶ŁŁ
āSemoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).ā (HR. Bukhari no. 2076)
Dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu āAlaii Wassallam pernah berhutang seekor onta dari seorang laki-laki. Hingga beberapa hari kemudian datanglah orang tersebut kepada Rasulullah Shalallahu āAlaii Wassallam untuk menagih ontanya. Lalu Rasulullah meminta para sahabat untuk mencari onta semisal untuk dibayarkan kepada laki-laki tersebut. Setelah dicari kesana kemari onta yang dimaksud oleh Rasulullah Shalallahu āAlaii Wassallam ternyata tidak ada melainkan onta yang lebih berumur dari yang dihutang oleh Rasulullah. Rasulullah pun bersabda kepada sahabat;
ŁŁŲ§Ų“ŁŲŖŁŲ±ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŲ¹ŁŲ·ŁŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ„ŁŁŁŁ Ų®ŁŁŁŲ±ŁŁŁŁ Ł Ų£ŁŲŁŲ³ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ¶ŁŲ§Ų”Ł
āBelilah dan berikan kepadanya, karena sebaik-baik kalian adalah yang paling baik ketika membayar hutangnya.ā
Ł ŁŁŁ Ų·ŁŁŁŲØŁ ŲŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŲ·ŁŁŁŲØŁŁŁ ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŗŁŁŁŲ±Ł ŁŁŲ§ŁŁ
āSiapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya.ā (HR. Ibnu Maja
Ų®ŁŲ°Ł ŲŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŁŁ ŲŗŁŁŁŲ±Ł ŁŁŲ§ŁŁ
āAmbillah hakmu dengan cara yang baik pada orang yang mau menunaikannya ataupun enggan menunaikannya.ā (HR. Ibnu Majah no. 1966).
Bersikap positif dalam ragam interaksi sangat dianjurkan oleh Islam sebagai wujud implementasi sifat kasih sayang sebagaimana nilai filosofi dari kalimat pembuka semua aktifitas, yaitu filosofi basmalah, Bismillahir rahmaanir rahiimi. Bersikap santun dalam menagih hutang dimaksudkan agar seseorang tidak berlaku adigang adigung adiguno (sombong egois) dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Kesantunan komunikasi selalu hadir dalam setiap aturan agama Islam yang selalu dikaitkan dengan implementasi keimanan atau bagian integral dari keyakinan seseorang atas pemahaman agama.
Inilah indahnya islam, menekankan pentingnya bersikap empati terhadap orang lain yang dibangun atas dasar pemahaman yang mendalam dari nilai-nilai keyakinan dan keimanan sebagai seorang muslim. Inilah islam yang tinggi dan tidak ada yang dapat menandingi ketinggian dan keagungan konseptualnya.












