Kanal24, Malang – Istilah “job hugging” tengah menjadi sorotan global setelah tren ini dirasakan oleh jutaan pekerja di berbagai negara. Fenomena ini merujuk pada kondisi ketika seseorang memilih bertahan di pekerjaan yang sama dalam jangka panjang, bukan karena merasa cocok, tetapi karena berbagai faktor eksternal yang menimbulkan kecemasan menghadapi pasar kerja. Secara harfiah berarti “memeluk pekerjaan”, job hugging menggambarkan kecenderungan pekerja mempertahankan posisinya meski peluang berkembang terbatas. Mengutip Entrepreneur, kondisi ekonomi yang tidak stabil menjadi salah satu pemicu utama. Banyak pekerja memilih zona aman dan menghindari risiko, sekalipun merasa pekerjaan saat ini tidak lagi membawa kepuasan.

Kecemasan Pasar Kerja dan Dorongan Bertahan
Peningkatan kecemasan di pasar kerja mendorong banyak pegawai memilih bertahan di pekerjaan lama. Laporan dari Forbes menyebutkan bahwa kondisi ini dipicu oleh perlambatan proses perekrutan, kebijakan perusahaan yang semakin sering mengurangi tenaga kerja, serta pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang memicu kekhawatiran terkait stabilitas profesi. “Semua ini menciptakan keraguan dalam menentukan langkah karier,” ujar Dr Diane Hamilton, seorang pakar curiosity. Hamilton menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, praktik job hugging atau bertahan di pekerjaan saat ini justru dapat menjadi langkah strategis, terutama jika seseorang berada di industri yang relatif stabil, mendapatkan tunjangan yang melindungi keluarga, serta memperoleh kesempatan untuk terus mengembangkan keterampilan. Dalam situasi seperti ini, keputusan bertahan bisa menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang. Namun, apabila seseorang bertahan semata-mata karena rasa takut kehilangan pekerjaan, dampak negatif sulit dihindari, mulai dari menurunnya motivasi, terhentinya proses pengembangan diri, hingga penurunan kinerja secara keseluruhan.
Risiko Job Hugging bagi Perkembangan Karier
Direktur Riset Ekonomi Amerika Utara di Indeed Hiring Lab, Laura Ullrich, menyoroti empat risiko utama dari fenomena job hugging yang berpotensi menghambat perkembangan karier. Pertama, pertumbuhan pendapatan cenderung terhambat karena pekerja yang tidak berpindah pekerjaan umumnya mengalami kenaikan upah yang lebih rendah dibandingkan mereka yang lebih aktif berpindah peran. Kedua, pengembangan diri berisiko stagnan akibat minimnya perolehan keterampilan baru, sehingga daya saing pekerja bisa menurun ketika pasar tenaga kerja kembali pulih. Ketiga, risiko pemutusan hubungan kerja juga meningkat, karena perusahaan dapat menilai karyawan yang tidak menunjukkan perkembangan sebagai aset yang kurang strategis dan pada akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kerja. Terakhir, minimnya pergerakan tenaga kerja di dalam pasar membuat jumlah lowongan baru semakin terbatas, sehingga lulusan baru mengalami kesulitan lebih besar untuk memasuki dunia kerja.
Fenomena Global: AS dan Inggris Ikut Mengalami Dampaknya
Fenomena job hugging tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga dirasakan di negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Data Survei Pembukaan Lapangan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan tingkat berhenti kerja turun hingga sekitar 2% sejak awal 2025 — angka terendah sejak 2016. Rendahnya angka ini menandakan pekerja merasa tidak yakin untuk mencari pekerjaan baru di tengah pasar kerja yang melemah.Tingkat perekrutan baru di AS juga anjlok ke titik terendah dalam satu tahun terakhir, menandakan peluang pekerjaan semakin sempit. Situasi serupa terjadi di Inggris, di mana pekerja memilih mempertahankan posisi karena alasan keamanan. Kevin Fitzgerald, Direktur Pelaksana Employment Hero Inggris, menegaskan bahwa fenomena job hugging meningkat seiring memburuknya kondisi ekonomi. Rencana kenaikan pajak bisnis yang diumumkan Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves pada April 2025 disebut menambah kegelisahan dunia usaha dan pekerja. Sementara itu, Nina Skero, Kepala Eksekutif Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis Inggris, menyebut job hugging sebagai refleksi dari kondisi pasar tenaga kerja yang melemah. “Pekerja menghadapi tantangan berat: pertumbuhan gaji tetap kuat, namun inflasi menggerus upah riil dan peluang kerja semakin menipis,” ujarnya.
Fenomena yang Akan Berlanjut?
Dengan gejolak ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, dan otomatisasi yang semakin cepat, fenomena job hugging diperkirakan belum akan mereda. Banyak pakar memprediksi tren ini akan terus mewarnai pasar kerja internasional, setidaknya dalam beberapa tahun ke depan, sampai dunia usaha kembali stabil. Fenomena ini menjadi cerminan bahwa ketahanan ekonomi dan rasa aman kini menjadi prioritas utama bagi banyak pekerja di era ketidakpastian. (dpa)













