Kanal24, Malang – Kondisi tumbuh kembang anak tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena fatherless atau ketiadaan figur ayah—baik secara fisik maupun emosional—semakin banyak disorot karena dampaknya yang signifikan terhadap perkembangan anak, khususnya anak perempuan. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan perceraian atau kematian ayah, tetapi juga absennya keterlibatan ayah dalam pengasuhan sehari-hari meskipun masih tinggal serumah.
Dalam konteks sosial modern, perubahan pola kerja, tekanan ekonomi, serta pembagian peran orang tua yang timpang kerap membuat ayah lebih fokus pada peran pencari nafkah, sementara keterlibatan emosional terhadap anak menjadi terabaikan. Situasi ini perlahan membentuk generasi anak yang tumbuh tanpa kelekatan emosional yang kuat dengan figur ayah, meskipun secara administratif masih memiliki keluarga utuh.
Baca juga:
Tujuh Cara Susun Resolusi yang Efektif Agar Tercapai
Peran Ayah dalam Perkembangan Emosional Anak
Ayah memiliki peran penting dalam membangun rasa aman, kepercayaan diri, serta kemampuan anak dalam mengelola emosi. Pada anak perempuan, kehadiran ayah berkontribusi besar terhadap pembentukan harga diri, persepsi terhadap relasi sosial, serta pandangan mengenai figur laki-laki di masa depan. Ketika peran ini tidak terpenuhi, anak berpotensi mengalami kekosongan emosional yang berdampak jangka panjang.
Anak perempuan yang mengalami fatherless cenderung lebih rentan mengalami kebingungan emosi, mudah merasa tidak dihargai, serta kesulitan mengekspresikan perasaan secara sehat. Dalam beberapa kasus, kondisi ini memunculkan sikap menarik diri, kecemasan berlebih, hingga kebutuhan akan validasi eksternal yang tinggi.
Kerentanan Psikologis dan Sosial
Dampak fatherless tidak berhenti pada aspek emosional semata, tetapi juga merambah ke ranah sosial. Anak perempuan tanpa figur ayah yang suportif kerap menghadapi kesulitan dalam membangun relasi interpersonal yang sehat. Mereka dapat mengalami ketidakmampuan menetapkan batasan, mudah bergantung secara emosional, atau justru bersikap defensif dalam hubungan sosial.
Dalam fase remaja, kondisi ini dapat berkembang menjadi pencarian afeksi yang tidak terarah. Kurangnya figur ayah sebagai pelindung dan pemberi teladan membuat sebagian anak perempuan lebih rentan terhadap relasi yang tidak sehat, termasuk relasi yang bersifat manipulatif atau eksploitatif. Hal ini menunjukkan bahwa fatherless bukan hanya persoalan keluarga, tetapi juga isu sosial yang memiliki dampak struktural.
Pengaruh terhadap Masa Depan dan Relasi Dewasa
Ketika memasuki usia dewasa, pengalaman fatherless yang tidak tertangani berpotensi memengaruhi cara individu membangun hubungan romantis dan keluarga. Anak perempuan yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah yang memadai cenderung memiliki persepsi yang tidak seimbang terhadap peran pasangan, baik dengan menaruh ekspektasi berlebihan maupun sebaliknya, menghindari kedekatan emosional.
Kondisi ini dapat berujung pada pola relasi yang berulang dan tidak sehat, serta kesulitan membangun keluarga yang stabil secara emosional. Oleh karena itu, dampak fatherless sering kali bersifat laten dan baru terlihat secara jelas pada fase kehidupan selanjutnya.
Pentingnya Kesadaran dan Intervensi Dini
Fenomena fatherless menuntut perhatian serius dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, pendidik, hingga pembuat kebijakan. Kesadaran akan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan perlu terus didorong, tidak hanya sebagai penyedia kebutuhan materi, tetapi juga sebagai sumber dukungan emosional dan teladan nilai kehidupan.
Intervensi dini melalui pendidikan pengasuhan, konseling keluarga, serta lingkungan sosial yang suportif dapat menjadi langkah strategis untuk meminimalkan dampak negatif fatherless. Kehadiran figur pengganti yang positif—baik dari keluarga besar maupun lingkungan sekitar—juga dapat membantu anak perempuan membangun ketahanan emosional.
Fenomena fatherless merupakan persoalan kompleks yang tidak dapat disederhanakan sebagai masalah individu semata. Dampaknya terhadap anak perempuan mencakup aspek emosional, sosial, hingga relasi di masa depan. Oleh karena itu, membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya peran ayah yang hadir secara utuh menjadi kunci untuk menciptakan generasi yang lebih sehat secara psikologis dan sosial. (nid)













