Kanal24, Malang – Wisuda Universitas Brawijaya (UB) yang digelar pada Minggu (21/12/2025) menjadi momentum istimewa bagi Dr. Muhammad Salahudin Al Ayyubi. Ia resmi menyandang gelar doktor setelah menuntaskan studi doktoralnya dengan konsentrasi pada ekonomi ketenagakerjaan, sebuah bidang yang dinilainya krusial dalam menjawab tantangan bonus demografi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Saat ini, Dr. Muhammad Salahudin Al Ayyubi aktif sebagai peneliti di Pusat Kajian Ekonomi Pembangunan dan Kerakyatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Fokus penelitiannya diarahkan pada pengembangan permodelan ekonomi ketenagakerjaan, khususnya dalam mengevaluasi peluang dan tantangan karier generasi muda di tengah dinamika pasar kerja nasional.
Baca juga:
Learning Disability, Tantangan Tersembunyi Pendidikan
Menurutnya, narasi besar bonus demografi tidak cukup hanya dibaca dari sisi kuantitas tenaga kerja. Indonesia, kata dia, perlu melihat lebih dalam pada kualitas dan keberlanjutan pekerjaan yang tersedia bagi generasi muda. āKita tidak lagi hanya berbicara soal berapa orang yang bekerja atau tingkat pengangguran, tetapi bagaimana menciptakan desain pekerjaan yang layak dan berkelanjutan bagi pemuda,ā ujarnya.
Model Evaluasi Transisi Karier Pemuda
Dalam riset disertasinya, Dr. Muhammad Salahudin Al Ayyubi mengembangkan model evaluasi transisi karier generasi muda. Model ini dirancang agar dapat digunakan secara praktis untuk menilai kinerja ketenagakerjaan Indonesia, terutama dalam membaca pola peralihan pemuda dari pendidikan ke dunia kerja.
Ia menilai, peluang karier yang menjanjikan menjadi kunci agar bonus demografi benar-benar berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, transisi karier yang rapuh justru dapat menjadi hambatan menuju target Indonesia Emas 2045.
Kontribusi utama dari riset tersebut adalah penyediaan early warning system bagi pemerintah. Sistem ini diharapkan mampu memberikan sinyal dini mengenai tantangan signifikan yang dihadapi pemuda dalam membangun karier. Jika dibiarkan, tantangan tersebut berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Perjalanan Studi Doktoral sebagai Maraton Akademik
Dr. Muhammad Salahudin Al Ayyubi menggambarkan perjalanan studi doktoralnya sebagai sebuah maraton panjang. Menurutnya, studi doktoral bukan tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan, melainkan siapa yang mampu menjaga konsistensi hingga garis akhir.
Ia menekankan pentingnya membangun relasi yang dinamis dengan promotor, institusi, serta lingkungan riset. Dukungan sistem yang kuat dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan riset hingga selesai. āYang paling penting adalah konsistensi dan kemampuan menjalin hubungan akademik yang sehat agar proses penelitian dapat berjalan dengan baik,ā ungkapnya.
Mewujudkan Pasar Kerja Inklusif dan Berkelanjutan
Sejak memutuskan menempuh pendidikan doktoral di Universitas Brawijaya, fokus utama Dr. Muhammad Salahudin Al Ayyubi adalah menciptakan gagasan pasar kerja Indonesia yang inklusif. Ia berharap hasil risetnya dapat berkontribusi dalam membangun sistem ketenagakerjaan yang menyerap tenaga kerja dan juga memberikan kondisi kerja yang adil, layak, dan berkelanjutan bagi seluruh warga negara.
Melalui pencapaian akademik ini, ia optimistis riset ekonomi ketenagakerjaan dapat menjadi pijakan penting dalam merumuskan kebijakan publik yang berpihak pada generasi muda, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi Indonesia di masa depan. (nid/yor)














